
Hamzah melihat jam yang tertera di layar ponsel. Lalu dia menghela nafas sambil melirik ke arah Alifa yang masih memilih cemilan diantara rak minimarket.
Alifa memang sengaja berlama-lama membeli cemilan meski di tangannya keranjang belanja sudah penuh oleh makanan.
"Fa, sudah selesai belum? Aku buru-buru nih."
Alifa berdecak seraya melirik jengah ke arah Hamzah. "Sabar, dong. Ini juga sebentar lagi selesai."
Setelah merasa cukup, Alifa pun membayar belanjaannya ke kasir. Kemudian, mereka berdua bergegas naik sepwda motor membelah jalanan di tengah kemacetan pagi itu.
Sebisa mungkin Hamzah mempercepat laju motornya. Membuat Alifa yang membonceng di belakang merasa ngeri dan refleks memeluk erat perut Hamzah.
Tak lama, Hamzah dan Alifa berada di sebuah kantor. Hamzah melepas helmnya begitu juga Alifa.
"Kamu yakin mau kerja di tempat ini?" tanya Alifa sambil memandang gedung kantor di hadapannya dengan tatapan mengejek. "Masih mending kerja di perusahaan Papa aku."
Hamzah tak menggubris ucapan Alifa karena dia sendiri sibuk merapikan kemejanya.
Justru Hamzah balik bertanya, "Kamu mau nunggu di sini atau ikut masuk ke dalam?"
Alifa berpikir sejenak. Lalu dia berkata, "Aku ikut saja deh."
Maka Hamzah pun masuk ke dalam kantor dengan ditemani oleh Alifa. Baru saja melewati pintu masuk, mereka tak sengaja bertemu dengan Nindi yang ternyata sedang berada di lobbi.
"Hamzah?" sapa Nindi dengan senyum yang mengembang.
Bola mata Nindi langsung berbinar kala melihat Hamzah. Sampai Nindi tak menyadari ada Alifa yang berada di samping pria itu.
"Maaf, Nin. Aku datang terlambat," kata Hamzah sambil menundukan kepala.
"Nggak apa-apa," jawab Nindi masih dengan menatap intens Hamzah. Tiba-tiba, Nindi berkata yang membuat Hamzah terkejut, "Kamu langsung kerja hari ini ya?"
"Hari ini, Nin? Tapi..."
"Tapi apa?" Nindi berkata memotong ucapan Hamzah. "Lagian aku sudah kenal kamu sejak kita masih di kampung. Aku percaya kamu itu orang yang jujur, amanah dan cerdas, Za."
__ADS_1
Hamzah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lantas dia melirik ke Alifa yang sejak tadi memperhatikan Nindi.
"Tapi aku harus nganter istri aku dulu, Nin," Hamzah menunjuk Alifa.
Lalu Nindi menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Hamzah. Nindi pun tampak begitu terkejut saat Hamzah menyebut kata istri pada wanita muda yang ada di dekat Hamzah.
Bola mata Nindi membulat sempurna seraya meneliti Alifa dari atas kepala sampai ke bawah kaki.
Nindi masih tidak percaya wanita yang memakai kaos pendek dan celana kulot panjang itu merupakan istri dari Hamzah.
Namun, keadaan memaksa Nindi menerima itu semua. Terlebih saat Alifa mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, aku Alifa, istrinya Hamzah," ucap Alifa dengan sedikit penekanan pada kata 'istri'.
Segera Nindi merubah ekspresi wajahnya. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang lalu membalas jabatan tangan Alifa.
"Aku Nindi, temannya Hamzah."
Kemudian Nindi melempar pandangan pada Hamzah dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
"Maaf, Nin. Pernikahan kami begitu mendadak, jadi aku nggak sempet undang banyak orang."
Nindi ber-oh pelan seraya melirik sekilas pada Alifa dengan tatapan yang aneh. "Mendadak ya? Kalian nggak main serong kan? Sampe harus nikah mendadak."
Mendengar ucapan itu, Alifa langsung melototkan mata. Tentu saja Alifa naik pitam karena dari ucapan Nindi, terkesan menuduh Alifa dan Hamzah telah main serong sehingga mereka menikah dengan cara yang mendadak.
Namun, berbeda dengan Alifa, Hamzah justru tertawa. Pria itu tampak santai dalam menanggapi ucapan Nindi.
"Enggak lah, Nin. Kita nikah karena dijodohkan." Lalu Hamzah berusaha merubah topik pembicaraan dengan bertanya, "Oh ya, jadi bagaimana? Aku boleh anter istri aku dulu, nggak, Nin?"
Nindi manggut-manggut. "Iya, boleh. Tapi jangan lama-lama ya?"
"Tunggu sebentar!" seru Alifa menyela pembicaraan Hamzah dan Nindi. "Kalau boleh tahu, Hamzah bekerja sebagai apa ya?"
"Dia bakal ditempatkan sebagai asisten pribadi saya," jawab Nindi tegas.
__ADS_1
Ada sesuatu yang tidak menyenangkan di dalam diri Alifa mengetahui Hamzah akan bekerja sebagai asisten pribadi Nindi. Dengan kata lain, Hamzah akan memiliki banyak waktu bersama Nindi.
"Memangnya nggak bisa ya, cari asisten pribadinya itu sesama perempuan?" sindir Alifa.
Hamzah terkejut sekaligus heran akan sikap Alifa. Meski dia tahu Alifa memang selalu jutek pada siapa saja. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.
"Alifa," Hamzah menegur Alifa dan memberi isyarat melalui tatapan matanya agar menjaga sikap.
Lalu Nindi tertawa getir. Dia pun membalas sorot mata tajam yang dilayangkan pada Alifa.
"Aku sedang butuh asisten laki-laki karena tugasnya nanti membutuhkan tenaga ekstra yang akan sulit jika ditangani oleh pekerja wanita," terang Nindi dengan sedikit melengkungkan seringai di bibir merahnya.
"Nin, aku minta maaf, kalau sikap istri aku agak kurang sopan," ucap Hamzah yang merasa tidak enak hati dengan sikap Alifa. "Aku pergi dulu, antar istri aku berangkat kuliah."
Segera Hamzah menyeret tangan Alifa untuk pergi. Hingga sampai di tempat parkir, Alifa mengibaskan tangannya sampai terbebas dari cengkraman tangan Hamzah.
Alifa memanyunkan bibir terlihat kesal. Meski dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
Sedangkan Hamzah hanya menghela nafas, mencoba untuk tetap bersabar. Dia hanya menyerahkan helm pada Alifa dan tidak mengungkit kejadian yang baru saja terjadi.
Bagi Hamzah mengungkit kejadian yang telah lewat, hanya akan membuat Alifa semakin marah.
Ketika Alifa hendak naik ke sepeda motor, bertepatan dengan itu ada segerombol wanita yang sedang berjalan melewati mereka.
"Aku dengar, Bu Nindi merekrut asisten baru ya?"
"Iya, katanya yang bakal jadi asisten Bu Nindi ganteng lho," sahut wanita yang lain.
Sementara wanita yang lain terkekeh, "Hebat ya, Bu Nindi itu, mentang-mentang ditinggal mati suaminya jadi langsung cari calon yang baru."
Mendengar pembicaraan gerombolan wanita itu semakin membuat panas hati Alifa. Dia mendapatkan informasi baru kalau Nindi adalah seorang janda yang baru ditinggal mati suaminya.
"Oh, jadi dia itu janda? Pantesan gatel."
"Astagfirullahaladzim, Alifa. Nggak boleh bicara gitu," tegur Hamzah yang sudah siap di atas sepeda motornya. "Ayo, cepat naik."
__ADS_1