
"Oma, i home," seru Alifa tatkala dia masuk ke dalam rumah. Namun, yang dia dapati tak ada sahutan dari siapapun.
Rumah besar itu sepi bagai tak berpenghuni. Membuat Alifa mengerutkan alis kebingungan.
Kenapa rumah sepi sekali? tanya Alifa dalam hati.
Namun, Alifa lekas mengambil kesimpulan yang posistif. Bahwasanya Haida mungkin sedang istirahat di kamar.
Maka Alifa pun tidak merasa khawatir dan berjalan menapaki tangga. Dia ingin masuk ke dalam kamar dan istirahat, tetapi saat di tengah tangga, dia berpapasan dengan salah seorang pelayan.
"Nona Alifa," sapa pelayan itu dengan menunjukan ekspresi cemas. "Nyona Haida, Non."
Alis Alifa menaut kebingungan. Dia menatap lekat sang pelayan meminta penjelasan.
"Kenapa dengan Oma, Bi?"
"Tadi Nyonya menerima telepon dari Nyonya Maria tapi setelah itu, Nyonya Haida mengeluh dadanya sakit."
Sontak Alifa membulatkan mata kala mendengar penuturan sang pelayan. Dia buru-buru menapai kakinya menuju lantai atas.
Alifa sangat khawatir terjadi sesuatu pada neneknya mengingat Haida memiliki riwayat penyakit jantung. Tanpa mengetuk pintu, Alifa langsung masuk ke dalam kamar.
Didapatinya Haida yang sedang terbaring dan terbungkus selimut. Haida menolah ketika mendengar suara pintu terbuka.
Lalu salah satu tangan Haida mengulur meminta Alifa mendekat.
"Oma, ada apa?" Alifa bertanya sambil meraih tangan Haida. Dia genggam erat tangan itu dan menepelkannya di pipi. "Apa Ibu berbicara nggak sopan ke Oma?"
Haida menggelengkan kepala perlahan. Dengan pandangan yang teduh, Haida menatap Alifa, cucu perempaun yang dia asuh sejak Alifa kecil.
Perceraian orang tua Alifa membuat Alifa dan Yusuf diasuh oleh Haida. Meski hak asuh anak jatuh pada Maria, tapi Maria melempar tanggung jawab sepenuhnya pada Haida.
Maria lebih memilih menjadi wanita karir, begitu pula dengan Steve yang selalu sibuk dengan bisnisnya. Sehingga Alifa dan Yusuf tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.
__ADS_1
"Alifa, kamu mau ya, nikah sama Hamzah?" kata-kata itu keluar dari bibir Haida yang pucat dengan suara lirih.
Tentu saja Alifa menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan tapi Haida melanjutkan perkataannya, "Oma mohon, Alifa. Turuti permintaan Oma! Setelah ini, Oma nggak akan meminta apapun dari kamu."
Alifa terdiam sejenak seraya menatap intens Haida. Lalu Alifa pun bertanya, "Apa yang membuat Oma begitu ingin menikahkan aku dengan pria itu? Kenapa harus dia?"
Haida menarik nafas panjang. "Oma yakin. Firasat Oma sangat kuat kalau Hamzah itu jodoh kamu."
"Tapi, Oma. Aku sama Hamzah bagaikan api dan air. Karakter kita berbeda, selera kita berbeda, jadi bisa Oma bayangkan seperti apa rumah tangga kami kelak," ucap Alifa terus mencoba menolak permintaan Haida.
"Oma mohon, Alifa. Kali ini saja. Apabila firasat Oma salah, maka Oma nggak akan melarang kamu untuk pisah dengan Hamzah," kata Oma yang tiba-tiba kedua bola matanya berkaca-kaca.
Alifa menghela nafas perlahan. Dia diam beberapa saat untuk mengambil keputusan.
Kurang lebih lima menit termenung, Alifa pun menganggukan kepala dengan raut wajah datar. Membuat bibir Haida melengkung ke atas membentuk senyuman.
"Tapi," kata Alifa tiba-tiba. Dia melempar pandangan tepat ke arah bola mata Haida. "Jika selama tiga bulan aku memang nggak cocok sama dia, aku akan minta cerai."
Haida tak mempermasalahkan perkataan Alifa. Justru Haida semakin memperlebar senyumannya.
Di sebuah kamar kontrakan berukuran tiga kali empat meter, seorang pria menggelar sajadah untuk melaksanakan sholat malam.
Pria itu sangat khusyuk dalam beribadah. Rasa kantuk tidak dia pedulikan, meski di jam-jam seperti ini sangat nyaman untuk tidur.
Dialah Hamzah seorang pemuda yang baru saja dinyatakan lulus dari universitas tempat dia berkuliah.
Doa Hamzah malam ini adalah ingin segera diberikan pekerjaan agar dia dapat membahagiakan dan mengangkat perekonomian kedua orang tuanya.
Setelah selesai, Hamzah tak langsung tidur. Dia memilih untuk membaca Al Quran sembari menunggu waktu sholat subuh.
Di saat itu lah, ponsel Hamzah berdering dengan nama Ibu sebagai penelepon. Hamzah pun mengernyit sebab jarang sekali ibunya menelepon sepagi ini.
Pikiran Hamzah bercabang kepada hal yang tidak dia harapkan, maka dia pun segera mengangkat telepon iti dengan perasaan waswas.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Ibu. Ada apa? Tumben pagi-pagi telepon."
"Wa'alaikumsalam, Hamzah. Kamu kapan pulang?" Sang ibu balik bertanya.
Dahi Hamzah semakin mengerut kebingungan. Karena biasanya jika sang ibu bertanya tentang kepulangan Hamzah, itu artinya ada sesuatu hal penting yang harus dibicarakan.
"Rencananya Hamzah nggak akan pulang dulu, Bu. Hamzah mau cari kerja dulu di kota. Kenapa Ibu bertanya begitu?"
"Lah kok nggak pulang? Kan kamu mau nikah. Bagaimana sih?" kata ibu Hamzah terheran.
"Apa? Nikah?" Hamzah langsung memijat pangkal hidungnya saking syok mendengar perkataan sang ibu. "Kok bisa?"
"Tuh kan kamu nya saja bingung. Apalagi ibu. Mending hari ini juga kamu pulang kampung, terus jelasin ke ibu sama bapak, bagaimana bisa ada orang yang berniat nikahin kamu sama cucu perempuannya? Bagaimana ceritanya itu?"
Hamzah menarik nafas panjang untuk bisa menenangkan diri. Lalu dia pun berkata, "Baik, Bu. Habis sholat subuh nanti Hamzah bakal pulang ke kampung."
"Ya sudah, hati-hati. Ibu juga mau beres-beres rumah karena siang nanti Bu Haida bakal datang ke sini."
Setelah mengucapkan salam, Hamzah pun menutup telepon dari ibunya. Dia menggelengkan kepala saking tidak percaya pada apa yang sedang terjadi.
Bagaimana bisa Oma Haida, perempuan yang baru kenal dengannya langsung mempercayakan dirinya sebagai cucu menantu? Padahal Hamzah hanyalah pemuda miskin dari kampung.
Masalah perjodohannya dengan Alifa membuat Hamzah merasa tidak tenang. Dia masih belum percaya. Meskipun begitu, dari dalam lubuk hati Hamzah, dia memang terus memikirkan Alifa.
Sejak perempuan itu merebut kaleng minumannya dan mereka dipertemukan lagi secara kebetulan sebagai guru ngaji dan muridnya.
Sejak saat itu, benak Hamzah tidak bisa lepas dari Alifa.
"Astagfirullahaladzim, kok aku jadi kepikiran Alifa terus," gumam Hamzah berdecak sambil memijat keningnya. "Padahal, Alifa itu jauh banget dari kriteria wanita yang ingin aku jadikan istri. Tapi kalau dilihat, hidup Alifa itu memang menyedihkan banget."
Hamzah berdecak dan memijat pangkal hidungnya. Bibirnya terus saja menggumamkan kalimat istighfar lalu dia menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding.
Hamzah memutuskan untuk sholat istikharah meminta langkah yang tepat untuk dia ambil ke depannya. Apakah dia harus menerima perjodohan dengan Alifa atau tidak?
__ADS_1