Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Tidur


__ADS_3

Hamzah dan Alifa saling diam saat berada di dalam mobil. Mereka berdua duduk di kursi belakang dan sama-sama memalingkan wajah, melepas pandangan ke luar jendela mobil.


Sementara Haida yang duduk di kursi depan sesekali melirik melalui kaca spion tengah mengawasi gerak-gerik Hamzah dan Alifa. 


Haida menghela nafas panjang seraya berdoa dalam hati agar Alifa bisa melunakan sikapnya terhadap Hamzah.


Dua pulih menit berselang, akhirnya mereka tiba di rumah besar milik Haida. Begitu mobil berhenti di halaman depan, Alifa langsung turun, membanting pintu mobil dan berjalan cepat menuju dalam rumah.


"Hamzah, kamu yang sabar dalam menghadapi Alifa ya?" ucap Haida pada Hamzah setelah melihat kelakuan Alifa. "Dia seperti itu karena sejak kecil kurang mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Tapi percayalah, Alifa itu sebenarnya baik."


Hamzah tersenyum sekilas pada Haida dan menganggukan kepala. "Iya, Oma. Aku akan terus berusaha untuk sabar kok."


"Tapi kalau Oma perhatikan kamu sudah jatuh cinta sama Alifa ya?"


Hamzah terhenyak sesaat. Dia tersenyum canggung dan bingung harus menjawab apa.


Sebab Hamzah sendiri pun tidak tahu apa yang tengah dia rasakan. Hamzah menyadari jika dirinya marah saat mendapati Alifa berbincang dengan pria lain. Tapi apakah itu sudah cukup untuk bisa dikatakan sebagai rasa jatuh cinta?


Untung saja Yusuf datang menghampiri di saat yang tepat. Remaja laki-laki itu berjalan setelah berlari dengan memanggil Oma-nya.


Maka fokus Haida pun teralihkan dari jawaban Hamzah, yang membuat Hamzah sendiri menghembuskan nafas lega.


"Besok aku di sekolah bakal ada festival, Oma. Dan guru minta supaya orang tua murid datang. Oma bisa kan datang ke sekolah aku besok," tutur Yusuf dengan sikap yang manja.


Haida mengerutkan dahi tampak berpikir. Lalu dia berdecak kecewa dan berkata, "Yah, bagaiamna ya, Yusuf? Soalnya besok Oma juga ada keperluan."


"Bagaimana kalau Mas Hamzah saja yang datang?" kata Hamzah menawarkan diri.


Lantas Yusuf dan Haida pun menoleh ke arah Hamzah diiringi dengan senyum yang mengembang di bibir mereka.


Yusuf mengangguk setuju. Senyum remaja itu semakin berkembang hingga memperlihatkan deretan giginya yang putih.


Setelah perbincangan singkat selesai, Hamzah beranjak ke kamarnya. Dia membuka pintu dan mendapati Alifa yang sudah meringkuk di atas kasur.


Hamzah hanya memandang sekilas pada Alfa yang sesang sibuk bermain ponsel. Lantas dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.


Sudah menjadi kebiasaan Hamzah sebelum tidur pasti dia akan berwudhu terlebih dahulu. Setelah selesai, Hamzah mengambil selembar kain dari dalam lemari.


Kemudian Hamzah pun menghampiri Alifa yang sedang berbaring. Alifa sendiri berpaling dari ponselnya dan menatap heran Hamzah.


"Kamu mau apa?"


"Bisa berdiri sebentar nggak, Fa."


Alifa yang pasa dasarnya masih marah pada Hamzah, mengacuhkan permintaan suaminya. Dia kembali menatap layar ponsel dan berkata dengan nada jutek, "Nggak mau."

__ADS_1


Hamzah menghela nafas, dan detik berikutnya secara tiba-tiba, Hamzah menggendong tubuh Alifa yang menyebabkan wanita itu menjerit panik.


Rupanya Hamzah ingin Alifa turun sebentar dari ranjang. Dia meletakan Alifa di sisi tempat tidur, lalu dia mengibaskan kain ke atas permukaan kasur dengan menyebut basmallah.


Alifa yang melihat tindakan Hamzah itu mendengus dengan raut muka mengejek.


"Astaga, kamu kuno banget ya ternyata."


"Ini sunah rasulullah shollaullahu 'alaihi wasalam, Fa," tukas Hamzah dengan ekspresi yang tenang.


Alifa berdecak. Lalu naik lagi ke atas kasur karena tak mau berdebat panjang dengan Hamzah.


Alifa kembali memainkan ponselnya. Berselancar ria di sosial media tetapi perhatian Alifa teralihkan pada Hamzah yang berbaring di sampingnya.


Meski tatapan mata Alifa memandang layar ponsel, tapi Alifa bisa mendengar Hamzah melafadzkan ayat-ayat suci Al Quran, yaitu surat Al ikhlas, surat An-Nas, dan surat Al Falaq.


Melalui sudut mata, Alifa melihat Hamzah meniup telapak tangannya, lalu mengusapnya ke seluruh badan. 


Dahi Alifa mengerut heran. 


Memang seperti itukah ritual sebelum tidurnya Hamzah? Aneh banget. Pikir Alifa dalam hati.


Setelah itu, Alifa masih bisa mendengar Hamzah mengucapkan ayat kursi yang disambung dengan berdzikir.


"Kenapa, Fa?" 


Seketika Alifa menjadi salah tingkah. Dia buru-buru memalingkan muka, menggaruk kepalanya yang tidak gatal selama otaknya mencari alasan yang tepat.


"Enggak. Nggak ada apa-apa. Tadi aku lihat ada cicak di dinding sebelah sana tuh."


Alifa menunjuk dinding di sebelah Hamzah. Lalu Hamzah pun mengalihkan pandangan, mencari jejak cicak yang katanya ada di dekatnya.


"Mana? Nggak ada cicak juga."


"Tadi mah ada," kata Alifa bersikeras berbohong.


Hamzah menghembuskan nafas panjang. Dia tersenyum simpul menyadari sebenarnya Alifa tengah memperhatikannya sejak tadi.


"Bilang saja, Fa. Kamu lagi memperhatikan aku kan?" terka Hamzah.


"Idih. Jangan ge-er kamu ya! Mana mungkin aku perhatian sama kamu."


Hamzah mengangkat bahu. Lalu menarik selimut hingga menutupi dadanya dan dia pun tidur dengan memiringkan badannya.


"Jangan lupa ikutin yang aku lakukan tadi, Fa! Biar tidurmu nggak diganggu setan."

__ADS_1


Alifa memalingkan muka. Dia berusaha kembali fokus pada ponselnya.


Kemudian, Alifa terperanjat, sebab dia baru sadar akan satu hal. Maka Alifa pun mengguncangkan bahu Hamzah.


"Hai, tunggu! Kok kamu tidur di sini?"


Hamzah yang sudah setengah mengantuk menoleh pada Alifa. "Terus aku tidur di mana?"


"Ya, diluar lah."


"Oma pasti nggak akan ngizinin aku tidur di luar. Nanti yang ada pasti kamu yang bakal kena marah."


Alifa terdiam dan berpikir. Lalu dia bergumam, "Iya juga ya?"


Alifa kembali mengguncangkan tubuh Hamzah yang kembali tertidur. "Ya tapi kamu jangan tidur di kasur aku. Hai, bangun! Pindah ke sofa sana!"


Perintah Alifa itu tak diindahkan oleh Hamzah. Sebab pria itu sudah terlelap ke dalam alam mimpi.


Membuat Alifa berdecak kesal. Tak mau menghabiskan waktu percuma, Alifa pun membuat benteng dari bantal di antara dirinya dan Hamzah.


"Nah, ini lebih baik," gumam Alifa yang merasa idenya sangatlah brilian.


Kemudian, Alifa bermian ponselnya kembali sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. 


Suasana semakin hening. Di rumah besar itu hanya Alifa saja ya g belum tidur. Lalu Alifa pun mulai merasa merinding. Terlebih, dia sedang menonton film horor di ponselnya. 


Alifa merasa ada sepasang mata yang mengamatinya dari kejauhan. Lantas Alifa pun mengusap tengkuk dan segera mematikan ponsel.


Brak.


"Aaggrrhh."


Daun jendela menjeblak terbuka akibat tiupan angin, membuat Alifa refleks menjerit. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Alifa turun dari tempat tidur untuk menutup jendela.


"Kok aku bisa lupa nggak nutup jendela sih," gumam Alifa sambil merapatkan tirai.


Ketika itu pula, Alifa teringat akan pesan dari Hamzah. Lantas Alifa pun mengukuti ritual sebelum tidur seperti yang dilakukan Hamzah.


Namun, tiba-tiba terdengar suara gemuruh kilat yang sanagt keras pertanda malam ini akan turun hukan yang lebat.


Alifa semakin takut dan tidak bisa tidur. Bahkan tubuhnya gemerar saking takutnya pada suara halilintas yang menyambar-nyambar di atas langit sana.


Di saat ketakutan itu, otak Alifa sudah tak lagi bekerja dengan baik. Dia meruntuhkan benteng bantal yang ada diantara dirinya dan Hamzah.


Alifa merapatkan tubuhnya tepat di samping Hamzah. Lalu dia berbaring sambil memeluk suaminya itu. Barulah Alifa bisa merasa tenang dan akhirnya terlelap.

__ADS_1


__ADS_2