
Hamzah menutup pintu kamar dengan sangat pelan setelah sang pemilik kamar itu tertidur pulas. Tatkala itu Haida menghampiri Hamzah.
Raut muka cemas terlukis jelas pada diri Haida. Dia sudah mengetahui jika Alifa pergi menemui ayahnya dan kini rasa penasaran menyelimuti dirinya akan apa yang telah terjadi antara Alifa dengan Steve.
Hamzah berjalan menuju taman belakang rumah sambil menceritakan pembicaraan Alifa saat di dalam kamar.
Seketika Haida menghela nafas seraya melepas pandangan kosong. Beberapa menit dia terdiam lalu bergumam, "Pada akhirnya Alifa tahu juga akan kenyataan ini."
Hamzah kala itu langsung menoleh menatap Haida. "Alifa bilang, besok ingin menemui ibunya untuk meminta penjelasan."
Haida tertunduk dan menatap lesu pada rumput hijau. "Kalau begitu, besok kamu temani Alifa ya, Za? Aku takut Alifa bertengkar sama mamanya."
Hamzah mengangguk mengiyakan.
Sementara Haida kembali melamun. Lalu beberapa saat baik Haida maupun Hamzah sama-sama terdiam.
Keheningan menyergap diantara keduanya. Hanya terdengar suara burung hantu di kejauhan sana.
Kemudian, tiba-tiba Haida berkata, "Oma merasa bersalah atas apa yang terjadi pada keluarga ini, Za."
Haida terisak dengan kedua mata yang telah berkaca-kaca. Segera Haida menyeka kedua pipinya yang mengalirkan sebuah bulir bening.
"Dulu Oma menjodohkan putriku dengan Steve. Aku pikir kehidupan pernikahan anakku akan berjalan bahagia. Tapi sayangnya, aku salah."
"Oma," ucap Hamzah dengan penuh kelembutan. "Oma jangan merasa bersalah!"
Haida kembali mengelap pipinya karena air mata tak bisa dia bendung lagi. "Sebenarnya Oma juga takut, pernikahan Alifa denganmu akan bernasib sama. Oma sangat egois ya, Za?"
Hamzah menggelengkan kepala. "Enggak, Oma. Apa yang Oma lakukan bukan sikap egois karena..."
Ucapan Hamzah mendadak terhenti. Dia termenung sejenak membuat Haida menatapnya untuk menantikan kalimat berikutnya.
__ADS_1
Hamzah menelan salivanya sebelum dia berkata, "Karena aku menerima pernikahan ini karena aku tulus mencintai Alifa."
Sebuah senyum terlukis di bibir Haida dengan kedua manik mata yang berbinar bahagia. Dia semakin menatap lekat pada Hamzah.
Ada sebuah perasaan lega kala mengetahui jika Hamzah mencintai Alifa. Kini hanya memastikan jika Alifa pun merasakan hal yang sama.
"Terima kasih, Za. Sudah mau mencintai Alifa. Dia itu sebenarnya gadis baik. Mungkin dia hanya kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Sehingga dia bersikap seperti itu."
Hamzah menganggukan kepala memaklumi. Lalu Haida bangkit berdiri sambil menepuk salah satu bahu Hamzah.
Haida berpamitan hendak masuk ke dalam kamarnya karena tak kuat akan hawa dingin malam ini.
*
*
*
Alifa mengalihkan pandangan ke arah jam yang tergeletak di atas nakas. Dimana jarumnya menunjukan pukul tiga pagi.
Alifa menyibak selimut dan kakinya menapaki lantai berjalan perlahan menuju Hamzah. Pria itu tengah fokus mengaji sehingga tidak menyadari kehadiran Alifa yang kini sudah ada di belakang punggungnya.
"Hamzah," kata Alifa kaku dan tampak malu-malu.
Hamzah tampak terperanjat lalu seketika dia menoleh ke belakang. Bola mata Hamzah membulat terkejut begitu melihat Alifa yang sudah bangun.
"Alifa? Ada apa?"
Alifa menundukan pandangannya, tak ingin Hamzah melihat ekspresi wajahnya yang pasti semerah buah tomat.
Sebenarnya Alifa malu untuk berkata, tapi entah kenapa di dalam dirinya ada dorongan yang kuat untuk melaksanakan sholat tahajud.
__ADS_1
"Za, aku mau sholat. Boleh nggak sih, sholat tahajud berjamaah?"
Seketika itu bibir Hamzah melengkungkan senyum memandang kagum pada Alifa. "Boleh kok, Fa."
"Ya sudah yuk, kita sholat."
Hamzah mengangguk pelan. "Aku selesain dulu ngaji. Kamu ambil wudhu dulu gih."
Kali ini Alifa yang mengangguk dengan canggung. Dia masih menundukan kepala karena malu pada Hamzah.
Namun, Alifa tetap bergeming. Dia masih berdiri di tempatnya berdiri. Seperti orang yang ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa, Fa?" Hamzah bertanya setelah menyadari gerak-gerik Alifa.
Alifa tampak ragu. Bahkan dia sampai meremas ujung piyamanya untuk meredam rasa gugup yang melanda. "Za, aku mau minta satu lagi sesuatu sama kamu. Boleh nggak?"
"Apa?"
"Tolong kamu jangan kerja lagi sama teman kamu itu ya?"
Hamzah tertawa kecil mendengar ucapan Alifa yang semakin membuat Alifa mengerutkan dahi bingung.
"Kok malah ketawa? Memang apa yang lucu?" Alifa bertanya dengan sedikit mendongakan kepala.
"Aku memang nggak terima tawaran kerja itu kok, Fa. Jadi kamu tenang saja."
Mendadak Alifa melonjak kecil sambil berteriak girang. Namun, detik berikutnya, Alifa tersentak kaget akan tingkahnya sendiri.
Saking kegirangan, Alifa sampai lupa bahwa dia masih berada di depan Hamzah.
Seketika Alifa langsung berlari menuju kamar mandi. Sedangkan Hamzah menggelengkan kepala merasa heran dengan sikap Alifa.
__ADS_1