Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Cemburu


__ADS_3

Malam hari Alifa tidak bisa tidur dengan tenang. Seperti malam-malam sebelumnya, Alifa memang selalu mengalami insomnia.


Namun, kali ini penyebab Alifa susah tidur karena benaknya terus saja memikirkan wanita bernama Nindi yang dimaksud oleh Yusuf.


Lantas Alifa menoleh ke samping dimana Hamzah sudah tidur nyenyak serta terdengar pula suara dengkuran halus.


Alifa memastikan Hamzah memang sudah terlelap atau belum dengan cara mengibaskan tangan di depan muka sang suami.


Setelah yakin, Alifa pun meraih ponsel milik Hamzah yang tergeletak di atas meja. Alifa membuka chat masuk di ponsel Hamzah.


Bibir Alifa sedikit melengkungkan senyuman kala tak mendapati nomor ponsel yang bernama Nindi atau nama wanita lain. Bahkan semua isi pesan di dalam ponsel Hamzah berisi pesan dengan teman laki-laki.


Akan tetapi hati Alifa kembali dirundung rasa gelisah.


"Apa jangan-jangan pesan dari Nindi sudah dihapus?" Gumam Alifa sambil mengerutkan dahi tampak berpikir keras.


Tepat saat itu juga Alifa mendengus keras. Dia berbicara dengan dirinya sendiri, "Kenapa juga aku peduli sama Hamzah? Mau dia dekat sama wanita manapun juga, apa hubungannya sama aku?"


Kemudian, Alifa pun mengembalikan ponsel Hamzah ke atas nakas. Dia menggerutu pada dirinya sendiri yang entah kenapa sangat kepo dengan urusan pribadi Hamzah.


Waktu telah menunjukan pukul sebelas malam ketika Alifa berusaha untuk memejamkan mata dan akhirnya terlelap juga.


*


*


Adzan subuh berkumandang menyuarakan panggilan sholat untuk para manusia yang masih terlelap. Namun, suara adzan subuh tak lantas membuat Alifa terbangun.


Hawa dingin membuat Alifa justru merapatkan kembali selimutnya. Tak lama kemudian, tidur Alifa kembali terganggu karena suara alarm dari ponsel Hamzah.


Sontak Alifa menyumpal kedua telinganya menggunakan bantal. Lalu satu tangan Alifa terulur untuk mematikan alarm.


Saat itu juga mata Alifa setengah membuka dan mendapati Hamzah sudah tidak ada di sampingnya. Alifa mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sosok Hamzah.


"Pantes alarmnya nggak dimatiin, orangnya saja sudah nggak tahu dimana," gumam Alifa yang kembali menjatuhkan kepala ke atas bantal.


Alifa berguling di bawah selimut, mencari posisi yang nyaman untuk tidur lagi. Lalu Alifa mendengar suara pintu terbuka dan dia pun menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


Alifa mendapati Hamzah yang baru saja masuk kamar dengan membawa sajadah, membuat dahi Alifa mengerut heran.


Dia pun bertanya, "Kamu dari mana sih? Alarm hp kamu berisik tahu, nggak? Ganggu orangbtidur saja."


Hamzah hanya diam. Bahkan dia tampak tidak menggubris perkataan Alifa.


Seolah Alifa tidak sedang berbicara dengannya. Lalu Hamzah bertanya, "Kamu sudah sholat?"


"Belum," jawab Alifa santai dan dengan nada bicara yang jutek.


"Sholat dulu gih. Nanti keburu siang lho."


Alifa berdecak kesal. "Kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu habis dari mana?"


"Aku habis sholat berjamaah di masjid," kata Hamzah singkat, padat dan tanpa ekspresi. Kemudian Hamzah melanjutkan dengan bertanya, "Kamu yakin mau di atas kasur terus?"


"Ck, sudah deh. Nggak usah banyak omong. Aku masih ngantuk. Aku nggak mau pindah dari kasur."


Hamzah mengangguk perlahan. Tanpa diduga oleh Alifa, ternyata Hamzah melepas baju koko yang sedang dia pakai.


Tentu saja hal itu menjadikan kedua bola mata Alifa membulat sempurna. Dia sangat terkejut Hamzah akan membuka baju di hadapannya.


"Kamu mau apa?" Alifa bertanya panik, dengan refleks dia langsung menyilangkan tangan di depan dada. "Kamu harus tahu ya? Meski kita suami istri, tapi kamu nggak bisa berbuat seenaknya saja."


"Aku cuma mau ganti baju. Memang salah? Ya salah kamu sendiri kenapa nggak mau pindah dari kasur."


Alifa mendengus keras sambil melayangkan tatapan tajam pada Hamzah. Segera Alifa turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, daripada dia harus melihat Hamzah ganti baju.


Setelah mandi dan menunaikan sholat subuh, Alifa mendapati Hamzah telah berganti baju kemeja serta celana panjang hitam.


Hamzah juga tampak sibuk merapikan beberapa berkas yang kemudian dia masukan ke dalam amplop coklat.


"Kamu mau kemana?" Alifa bertanya masih dengan memakai mukenanya.


"Hari ini aku mau melamar pekerjaan di perusahan temen aku," jawab Hamzah tanpa melihat ke arah Alifa. Bola mata Hamzah masih sibuk menatap bayangannya di cermin.


Bibir Alifa memberengut, melihat Hamzah yang tampak begitu rapi. Ada rasa tidak senang di dalam diri Alifa tapi Alifa sendiri tidak tahu apa penyebabnya.

__ADS_1


"Temen siapa?" Alifa kembali bertanya.


"Namanya Nindi."


"Perempuan yang kemarin Yusuf cerita itu?"


Hamzah mengalihkan pandangan dari cermin ke arah Alifa. Satu mata Hamzah tampak menyipit meneliti raut muka Alifa yang terlihat cemberut.


"Memang kenapa? Kamu cemburu?" Hamzah balik bertanya.


"Apa? Aku cemburu?" Alifa tertawa garing. "Mana mungkin aku cemburu sama kamu."


Lantas Alifa pun melempar pandangan agar Hamzah tidak melihat ekspresi wajahnya yang penuh dengan rasa kesal. Alifa melepas mukenanya sambil sesekali melirik Hamzah.


Kemudian terlintas di benak Alifa agar Hamzha terpambat datang ke sesi wawancara kerja dan pada akhirnya Hamzah tidak diterima kerja.


Maka Alifa pun berkata, "Nanti antar aku berangkat kuliah."


Sontak Hamzah kembali menoleh pada Alifa dengan alis yang menaut. Tentu saja Hamzah heran, akan sikap yang ditunjukan Alifa hari ini.


"Kok tumben kamu minta diantar? Biasa kamu nggak suka kalau aku nganter kamu."


Alifa menghela nafas. Dia memutar bola mata malas. Lalu dia pun berbohong dengan berkata, "Aku lagi malas naik taksi."


Hamzah menarik salah satu sudut bibirnya menbentuk senyum seringai. Sebenarnya dia pun tahu jika Alifa berbohong tapi karena tak mau bertanya lebih, Hamzah pun lebih memilih diam.


Pagi itu, bukan hanya Hamzah saja yang heran akan perubahan sikap Alifa, tapi Haida dan Yusuf pun merasakan hal yang sama.


Bahkan Yusuf sampai melongo tak percaya melihat Alifa dengan senang hati dibonceng oleh Hamzah mengunakan sepeda motornya.


Di perjalanan, ketika Hamzah tengah melajukan motornya, tiba-tiba Alifa berkata, "Hamzah, kita mampir ke minimarket dulu ya? Aku mau beli sesuatu."


Hamzah terkesiap. Lalu dia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Tapi apa nanti nggak telat kuliah, Fa?"


"Enggak. Aku kuliah siang kok."

__ADS_1


"Apa?" Hamzah terkejut tapi tetap menatap ke depan. Dia hanya melirik sekilas wajah Alifa dari bayangan kaca spion. "Terus kenapa kamu minta diantar pagi-pagi?"


__ADS_2