Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Cemburu


__ADS_3

"Hamzah, rencananya nanti kamu mau kerja di mana?" tahya Haida di sela-sela mereka makan di sebuah restoran mewah di pusat kota. 


"Saya juga belum tahu, Oma. Ini masih nyari lowongan kerja."


"Tapi Oma rasa kamu nggak perlu terburu-buru cari kerja, deh. Kamu kan baru lulus kuliah, biar istirahat dulu gitu. Masalah uang, biar dari Oma saja."


Hamzah tersenyum sekilas. "Terima kasih, Oma. Tapi sudah kewajiban saya sebagai suami untuk mencari nafkah yang halal untuk Alifa."


Mendengar ucapan Hamzah, Alifa yang duduk di sampingnya pun menghela nafas. "Memang mau kasih nafkah bagaimana? Kalau kamu saja masih nganggur."


"Alifa," sentak Haida melirik tajam pada Alifa yang menurutnya merendahkan Hamzah. "Dia itu suami kamu. Kamu bisa nggak menghargainya dia sedikit saja."


"Nggak apa-apa, Oma," kata Hamzah lembut. Lalu dia melirik Alifa yang ada di sampingnya. "Asalkan kita berikhtiar diiringi dengan doa insha Allah, pasti ada jalannya, Fa. Kamu doakan saja supaya aku cepat dapat kerja."


Alifa hanya diam dan memilih untuk melanjutkan makannya. Sementara itu, Haida menatap Hamzah dan Alifa secara bergantian.


Tanpa ada orang yang melihat, Haida menyunggingkan senyum, sebab dia merasa telah tepat memilih suami untuk Alifa. Sangat jarang ditemukan pria yang seperti Hamzah di dunia modern seperti ini.


Selanjutnya makan malam pun dinikmati dalam diam. Selama sisa acara, tak ada yang berbincang lagi hingga sampai Alifa yang lebih dulu selesai dan izin pergi ke toilet.


Sekitar lima menit kemudian, Hamzah dan Haida juga telah menghabiskan makanan. Haida bermaksud untuk langsung pulang, namun Alifa yang pergi ke toilet belum juga kembali.


"Hamzah, kamu coba susul Alifa ke toilet gih. Oma tunggu kalian di mobil. Kita pulang sekarang, soalnya Oma mau cepat-cepat istirahat."


Hamzah mengangguk mantap. Lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah toilet wanita.


Di waktu yang bersamaan, Alifa yang baru saja keluar dari pintu toilet tiba-tiba saja dicegat oleh seorang pria. Alifa membulatkan mata lebar kala melihat pria itu.


Begitu juga sebaliknya, pria itu juga tampak terkejut bertemu dengan Alifa secara tak sengaja. Dia menunjuk Alifa dan berkata, "Alifa? Kamu ada di sini?"


"Kevin, kamu ngapain di sini?" 


Alifa langsung mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Hamzah sambil di dalam hatinya berharap agar Kevin tidak bertemu dengan suaminya.


"Aku lagi hang out sama temen. Lah, kamu?"


"Aku…"


"Alifa," panggil Hamzah mendekati Alifa.


"Mampus lah aku," gumam Alifa sangat pelan. Dia menepuk jidatnya dan tak habis pikir kenapa keadaan selalu memojokkannya.

__ADS_1


Kevin menoleh pada pria yang baru saja datang sambil memanggil nama Alifa. Gurat heran pun terukir di wajah Kevin. Pasalnya pria itu langsung menggandeng tangan Alifa.


"Oma, sudah nunggu kita di mobil," kata Hamzah hendak menarik tangan Alifa.


Namun, Kevin bertanya, "Alifa, dia siapa?"


Hamzah menoleh pada Kevin. Entah kenapa ada rasa tidak suka hinggap di dalam hati Hamzah kala memandang wajah Kevin. 


Dengan memasang wajah datar, Hamzah menjawab, "Aku Hamzah, suaminya Alifa."


"Suami?" Kevin terlonjak kaget mengulang ucapan Hamzah. Lalu Kevin pun menoleh pada Alifa untuk meminta penjelasan.


Setahu Kevin, Alifa sama sekali tidak pernah dekat dengan pria manapun tetapi kenapa tiba-tiba wanita itu sudah memiliki suami.


"Apa itu benar, Fa? Kamu sudah menikah?"


"Errr… anu… itu…eerrr." Alifa gagap tak bisa bicara dengan jelas.


Dia bingung harus mengatakan bagaimana pada Kevin. Sesungguhnya Alifa lebih suka jika pernikahannya dengan Hamzah dirahasiakan dan tak ada satu pun orang yang tahu.


Namun, kini satu orang dari teman Alifa sudah tahu rahasianya. Sialnya lagi orang tersebut adalah Kevin, pria yang selalu mengejar cinta Alifa.


Tak mau memberikan jawaban pasti, akhirnya Alifa pun berkata, "Maaf, Kev. Aku pulang dulu ya? Sudah ditunggu sama Oma."


Alifa berkacak pinggang seraya menampilkan wajah masam. Dia sangat marah pada Hamzah yang membuat rahasianya bocor.


"Kenapa sih kamu harus cerita ke Kevin kalau kita sudah menikah?"


"Lah memang kita sudah menikah kan? Aku suami kamu dan kamu istri aku," ucap Hamzah yang tak mau disalahkan.


Kali ini entah apa yang Hamzah bersikap seperti itu. Tapi satu hal yang jelas, ada rasa gemuruh amarah saat melihat Alifa berbincang akrab dengan pria lain.


Sementara saat Alifa bersamanya, istrinya itu selalu bermuka masam.


"Iya, tapi aku mau pernikahan kita dirahasiakan. Aku nggak mau orang lain tahu kita sepasang suami istri," ucap Alifa yang tampak tidak didengarkan oleh Hamzah.


Hamzah sendiri terdiam menyadari dirinya tengah diserang rasa cemburu dan dia pun segera menarik nafas.


Hamzah ingat kala dulu dia pernah membaca sebuah buku untuk mengatasi cemburu. Sebuah doa yang pernah diajarkan ummul mukminin Aisyah dari rasulullah saw.


Mula-mula Hamzah meletakkan tangan kanannya ke dada dan berucap, "Bismillah, allhuma daawinii bidawaaika wasyfinii bisyifaaika wa'aghnii bifadhilka 'amman siwaaka wahdzar 'anni aadzaaka. Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah obatilah aku dengan obatMu dan sembuhkanlah aku dengan kesembuhan-Mu. Cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu dan lepaskan aku dari siksa-Mu."

__ADS_1


Melihat Hamzah berdoa, Alifa mendengus, memalingkan muka, dan melipat tangan di depan dada. 


"Kamu itu pria paling aneh yang pernah aku temui."


"Alifa, Hamzah?" Sebuah suara menegur mereka berdua. 


Rupanya suara itu berasal dari Haida yang berjalan mendekati mereka. Dari dalam mobil, Haida mengamati Alifa dan Hamzah yang sepertinya sedang bertengkar.


Maka Haida pun turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua. Haida memandang Alifa dan Hamzah secara bergantian.


Dia mengamati setiap ekspresi yang ditunjukan oleh masing-masing dan Haida pun sudah bisa menyimpulkan jika mereka berdua memang sedang berselisih.


"Ada apa ini?"


"Dia dulu tuh, Oma," sungut Alifa menunjuk Hamzah. "Dia membocorkan rahasia pernikahan kami ke salah satu teman kuliah aku."


Alifa memanyunkan bibir karena kesal. Dia sangat berharap sang nenek akan membelanya dan menegur Hamzah.


Namun, Alifa salah menerka. Justru Haida menggelengkan kepala menatap Alifa. 


" Di sini kamu yang salah, Alifa. Jangan melempar kesalahan pada Hamzah!"


"Sudahlah, Oma. Kita pulang saja yuk," kata Hamzah untuk meredakan masalah.


Haida menatap Hamzah dengan tatapan teduh dan mengizinkan pria itu untuk lebih dulu masuk ke dalam mobil.


Setelah Hamzah pergi, Haida kembali fokus pada cucunya. Dia memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.


Lalu Haida pun berkata, "Alifa, Oma tahu kamu terpaksa menerima pernikahan ini. Tapi boleh nggak kalau Oma minta sama kamu untuk sedikit saja menunjukan rasa hormat pada Hamzah."


"Ck, Oma. Aku itu terpaksa menikah sama Hamzah. Aku nggak cinta sama dia."


"Ya, Oma tahu. Hamzah juga awalnya ragu untuk menikahi kamu tapi dia berusaha untuk menjadi suami yang baik buat kamu," Haida menatap lekat cucunya.


Melihat Alifa yang malah memalingkan muka. Maka Haida pun menarik dagu Alifa dengan lembut, memaksa cucunya itu untuk menatapnya.


"Kamu nggak mau masuk neraka hanya karena nggak patuh sama suami kan?" tanya Haida dengan suara lembut. "Kamu nggak mau masuk surga?"


Alifa berdecak. "Kok Oma malah bahas neraka sama surga sih? Aneh. Oma sudah ketularan Hamzah kali ya?"


Haida tertawa kecil mendengar kalimat yang diucapkan Alifa. 

__ADS_1


Lalu Haida kembali berkata, "Alifa dengarkan Oma baik-baik, seorang wanita apabila dia senantiasa sholat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, menjaga kehormatan dan ********, serta mentaati suaminya, maka akan dikatakan padanya masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki."


__ADS_2