
Alifa menguap lebar kala dia keluar dari masjid. Dia memakai sandal yang ukurannya jauh lebih besar dari kakinya, sebab sandal yang dia pakai adalah milik pria yang kini menjadi suaminya.
Alifa memang sengaja tidak membawa banyak baju dan perlengkapan. Dia sengaja agar ada alsan supaya dia bisa kembali lagi ke kota.
Alifa dan Hamzah berjalan beriringan menuju rumah orang tua Hamzah yang jaraknya sangat dekat. Bahkan bisa dikatakan jarak masjid dan rumah Hamzah hanya terpisah oleh seperak tanah kosong.
Sesampainya di rumah, Alifa kembali ke dalam kamar untuk kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu. Namun, lagi-lagi Hamzah menahan tubuh Alifa dengan cara yang sama seperti tadi, yakni memeluknya.
Hal tersebut membuat Alifa sangat risih terhadap Hamzah. Apalagi tubuh mereka berdua saling menempel dan hanya terhalang oleh pakian yang mereka genakan.
Lantas Alifa pun menyikut dan mendorong dada bidang Hamzah dengan kekuaran penuh. Membuat Hamzah terdorong mundur beberapa langkah.
"Apaan sih?" kata Alifa jengkel.
"Kamu apa?" Hamzah malah balik bertanya.
"Ya mau tidur lah," ucap Alifa sambil naik ke atas tempat tidur.
"Tidur setelah waktu subuh itu nggak boleh, Fa."
"Ck, terserah aku lah mau apa. Orang aku masih ngantuk."
Hamzah tersenyum seraya menarik nafas. Dia berusaha untuk tetap sabar menghadapi Alifa meski sikapnya sangat kekanak-kanakan.
Hamzah duduk di tepi ranjang dan menatap lurus pada istrinya itu. Dia diam untuk beberapa saat lalu berkata, "Fa, kamu mau nggak jalan-jalan keliling desa ini."
"Enggak," jawab Alifa singkat, padat dan jutek.
"Tapi udara pagi hari iti seger lho, Fa. Nggak seperti di kota. Ditambah pemandangannya juga bagus banget."
Alifa menghela nafas, memutar bola mata malas lalu melempar pandangan dengan sorot mata yang jengah pada Hamzah.
"Aku nggak mau," ucap Alifa penuh penekanan di setiap kata. "Kalau aku bilang nggak mau, ya nggak mau."
"Apa yang buat kamu nggak mau?"
"Aku malas jalan kaki. Capek," sahut Alifa asal.
Namun rupanya Hamzah tampak serius menanggapi jawaban dari Alifa. Lantas dia mengangguk mantap dan turun dari ranjang.
__ADS_1
Hamzah menarik selimut dan tanpa permisi, tanpa aba-aba dan tanpa peringatan, dia menggendong Alifa hanya dalam sekali gerakan yang cepat.
Alifa pun menjerit kala tubuhnya terangkat dari tempat tidur. Rasa kaget bercampur rasa marah berkumpul di dalam dada Alifa.
"Hamzah, apa-apan kamu!" teriak Alifa yang berusaha meronta untuk diturunkan.
Sayangnya, tenaga Hamzah lebih kuat dari perkiraan Alifa. Pria itu sama sekali tidak menurunkan Alifa.
Justru yang ada, Hamzah berjalan ke luar kamar sambil menggendong Alifa.
"Hamzah, turun! Turunin aku!" teriak Alifa memukul-mukul tubuh Hamzah.
Kala itu, ibu Hamzah yang berada di dapur hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anak serta menantunya.
Meskipun begitu ibu Hamzah tidak menegur atau melerai mereka. Baginya, urusan rumah tangga biarkan biarkan menjadi urusan Hamzah dan Alifa sendiri.
"Mentang-mentang pengantin baru," gumam ibu Hamzah sambil meneruskan memasak di dapur.
Semantara Hamzah yang kini sudah berada di halaman rumah, akhirnya menurunkan Alifa. Wanita itu hendak melarika diri begitu kakinya menapaki tanah.
Untung saja, Hamzah segera mencengkram pergelangan tangan Alifa supaya wanita itu tidak pergi.
Alifa menggeram kesal dan menghentakan kaki karena kesal. Lalu dia berjalan dengan menghentak-hentakan kaki kembali menuju ke dalam rumah.
Namun, tiba-tiba langkah Alifa terhenti kala Hamzah berkata, "Alifa, maukah aku tunjukan tempat yang sejak dulu ingin kamu kunjungi?"
Alifa terdiam sejenak. Lalu dia memutar badannya untuk menghadap ke arah Hamzah.
Pria itu berdiri di tengah samarnya kabut. Tatapan Hamzah sangat menunjukan bahwa pria itu sedang bersungguh-sungguh.
"Kamu ingin pergi ke sebuah air terjun yang terdapat pelangi di sisinya?"
Sedangkan Alifa menggelengkan kepala. Bukan memberikan jawaban, tidak. Melainkan karena dia tak percaya jika Hamzah tahu lebih tentangnya.
Darimana Hamzah tahu? Pikir Alifa.
Lalu benak Alifa langsung mengarah pada Haida. Siapa lagi kalau bukan neneknya sendiri yang sudah bercerita pada Hamzah. Begitulah terkaan Alifa.
Tanpa menunggu jawaban dari Alifa, Hamzah langsung berjalan mendekat dan meraih tangan Alifa yang dingin.
__ADS_1
Sementara tangan Hamzah begitu hangat. Sehingga kehangatan itu perlahan merambat ke tangan Alifa yang membuatnya terpaku dan merasakan sebuah kenyamanan.
Alifa menurut saja kala Hamzah memandunya berjalan di jalan berbatu. Mereka melintasi sawah-sawah yang mulai menguning.
Kemudian mereka memasuki area hutan yang semakin jauh mereka melangkahkan kaki, semakin rapat pepohonan di sekeliling.
Alifa hanya diam. Dia tak lagi marah seperti tadi, sebab kini pandangan matanya terpesona pada keindahan alam desa.
Sesuatu pemandangan yang jarang dia temui di kota.
Alifa menghirup nafas panjang untuk merasakan udara segar nan bersih yang membuatnya tersenyum. Mentari pagi menyambut mereka dengan penuh suka cita.
Suara kicauan burung yang hinggap di satu dahan ke dahan yang lain, menambah syahdu suasana pagi itu. Lalu Alifa terhenyak sesaat kala mendapati dirinya sudah berada di hutan yang sangat sepi.
Bahkan sejauh mata memandang hanya ada pepohonan besar dan tak lagi terlihat sawah ataupun perumahan warga.
"Eh, tunggu! Kita mau kemana?" Alifa berhenti dan menampik tangan Hamzah. "Jangan modus kamu ya!"
Hamzah memutar badan dengan alis yang bertaut kebingungan. "Modus apa sih, Fa?"
"Aku tahu alasan kamu bawa aku ke sini," kata Alifa sinis. "Kamu sengaja bawa aku ke tempat yang sepi supaya bisa bebas ngapa-ngapain aku kan?"
Hamzah menghela nafas dan menggelangkan kepala. Lalu bergumam "Alifa, Alifa. Kalau aku pengin sudah dari semalam aku terkam kamu, tahu."
Jawaban Hamzah sukses membungkam mulut Alifa yang membulatkan mata. Sebab Alifa tak bisa lagi membantah.
Dia pun menjadi teringat bagaimana tadi malam mereka tidur di tempat yang terpisah padahal mereka sudah sah menjadi suami istri.
Namun, bagaimana pun hati Alifa masih bisa menerima Hamzah sebagai suaminya. Dia terdiam di tempat merenungkan nasib hidupnya ke depan.
Sedangkan Hamzah sudah berjalan mendahului Alifa. Merasa Alifa tertinggal, Hamzah pun kembali menoleh ke belakang.
"Alifa, ayo!"
Alifa menatap Hamzah dari kejauhan. Dia menggerakan kedua tangannya mengepal kuat, begitu pula dengan hatinya.
Dia berusaha untuk menguatkan hatinya agar dapat bertahan selama tiga bulan ke depan.
"Aku pasti bisa melewati ini semua. Dan selama tiga bulan ke depan, aku nggak boleh jatuh cinta sama Hamzah."
__ADS_1