Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Malam Pertama


__ADS_3

Alifa menundukan kepala dengan lesu. Dia sama sekali tidak percaya bahwa mulai detik ini, statusnya telah berubah menjadi seorang istri dari pria bernama Hamzah.


Bagaimana ini bisa terjadi? 


Alifa pun masih tidak bisa percaya akan hal itu. Dalam waktu dua puluh empat jam kehidupan Alifa berubah total.


Dia yang kemarin meminta Hamzah untuk tidak mengharapkan pernikahan dengannya. Kini malah dia yang meminta Hamzah untuk meminangnya.


Alifa tersenyum kecut sambil memandang orang-orang yang duduk di sekitarnya. Ketika semua orang memanjatkan doa untuk sepasang pengantin baru, Alifa hanya diam termenung.


Sementara itu, Hamzah yang duduk di samping Alifa melirik melalui ekor mata. Dia dapat mengetahui jika Alifa terpaksa menerima pernikahan ini.


Namun, bagaimana lagi. Hamzah pun terpaksa menikahi Alifa setelah dia mengetahui alasan yang sebenarnya.


Haida ternyata telah lama menderita penyakit serius. Wanita tua itu hanya ingin memastikan bahwa Alifa dijaga oleh orang yang tepat sebelum dia pergi menghadap kepada Alloh Yang Maha Kuasa.


Sesuai permintaan Alifa, tak ada acara resepsi di pernikahan Alifa dan Hamzah. Sebenarnya Alifa bahkan ingin sekali menyembunyikan pernikahan ini dari siapapun.


Sehingga setelah acara ijab qobul selesai, hanya ada pesta kecil-kecilan yang diahadiri keluarga Hamzah saja. 


Sementara dari pihak keluarga Alifa hanya Haida dan Yusuf. Kedua orang tua Alifa bahkan tidak menghadiri pernikahan itu, yang membuat Alifa semakin merasa sedih dan merasa terbuang.


"Aku mau istirahat," kata Alifa pada Hamzah dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.


"Kamar kita ada di sebelah sana," Hamzah menunjuk sebuah pintu kecil di sudut rumah.


Tubuh Alifa terasa bergidik kala Hamzah mengatakan kalimat 'kamar kita'. Bayangan akan malam pertama pun mengusik jiwa Alifa secara tiba-tiba.


Alifa menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor yang bersarang di benaknya. Lalu dia melangkahkan kaki menuju kamar.


Alifa memutar gagang pintu, membuka secara perlahan dan kemudian mengedarkan pandangan. 


Sebuah kamar yang sederhana namun rapi. Hanya ada tempat tidur yang hanya muat satu orang. 


Alifa berdecak menatap tempat tidurnya. Bagaimana mungkin dia dan Hamzah akan berbagi tempat tidur di kasur yang sekecil itu? Yang ada mereka pasti akan tidur dalam kondisi berhimpitan.


Tak mau pikir panjang, Alifa langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya terasa lelah. Beban pikiran telah menguras habis energinya pada hari ini.


Alifa merasa baru sebentar berbaring di tempat tidur, namun, tiba-tiba pintu kembali terbuka dan masuklah Hamzah ke dalam kamar.

__ADS_1


Secara mendadak, degup jantung Alifa bertambah cepat. Apalagi saat dia membuka matanya dan mendapati Hamzah yang sedang membuka pakaiannya.


Alifa berusaha menelan salivanya. Dia benar-benar dibuat gugup saat Hamzah tak tanggung-tanggung membiarkan setengah badannya diperlihatkan pada Alifa.


"Ehem," Alifa sengaja berdeham membuat Hamzah terlonjak kaget dan langsung menoleh ke arah tempat tidur.


Bola mata Hamzah membelalak. Seolah dia baru sadar jika mulai kini dia berbagi kamar dengan orang lain.


"Sorry, Hamzah. Kamu tahu kan kalau sebenarnya aku terpaksa menerima pernikahan ini. Jadi aku nggak akan melayani kamu sebagi istri dan kamu pun nggak berhak memaksa aku," kata Alifa dengan memasang wajah masam.


Hamzah menarik nafas panjang dan menganggukan kepala perlahan. "Aku tahu kok. Aku cuma mau ganti baju lalu setelah itu aku akan tidur di luar."


Kemudian Hamzah pun membuka lemari, mengambil kaos dan celana rumahan. Sedangkan Alifa berusaha memalingkan wajahnya agar tak melihat Hamzah yang sedang berganti pakaian.


Tak lama setelah itu, Alifa mendengar suara pintu yang ditutup. Alifa menoleh kembali dan rupanya Hamzah sudah tidak ada di tempatnya.


Kamar itu hanya berpenghunikan Alifa seorang. Hal itu membuat Alifa cukup merasa lega. Setidaknya dia tidak dipaksa untuk melayani Hamzah di malam pertama mereka.


Lalu Alifa pun menarik selimut dan tak membutuhkan waktu lama, dia tertidur pulas terbuai ke dalam alam mimpi.


*


*


*


Namun, tepat saat itu juga, Alifa merasakan ada sesuatu yang menggoncangkan tubuhnya disertai juga dengan suara orang yang memanggil namanya.


"Alifa," panggil orang itu. "Alifa."


"Hem."


"Bangun! Kita sholat subuh yuk!"


Alifa membuka setengah matanya karena rasa kantuk yang mendera. Dia menoleh pada orang yang sudah berdiri di hadapannya.


Lantas Alifa pun menghela nafas jengah. Lalu berkata dengan suara serak khas orang bangun tidur, "Kamu aja yang sholat, ah. Aku nanti saja."


"Kita berjama'ah yuk. Biar pahalanya makin gedhe," bujuk Hamzah penuh kesabaran.

__ADS_1


Alifa berdecak malas. Matanya yang kembali menutup serasa susah sekali untuk membuka.


"Enggak, ah. Aku masih ngantuk nih."


Hamzah tersenyum melihat tingkah Alifa yang seperti anak kecil. Sebuah ide jahil melintas di benak Hamzah.


Maka dia pun menyibak selimut yang menutupi tubuh Alifa lalu berbaring di samping istrinya itu. Hamzah memiringkan tubuhnya dengan satu tangan yang melingkar di pinggang Alifa. 


"Kamu mau tahu caranya supaya nggak ngantuk?" Hamzah bertanya sembari tangannya mempererat pelukan di perut Alifa.


Sontak Alifa yang merasakan pelukan Hamzah itu pun langsung membelalakan mata. Jantungnya berpacu dengan sangat cepat begitu pula sekujur tubuhnya yang tiba-tiba berdesir.


Dengan gerakan cepat, Alifa melempar lengan Hamzah, turun dari ranjang dan berdiri dengan tubuh yang masih gontai.


"Kamu mau apa? Jangan macam-macam ya!" teriak Alifa dengan suara lantang.


Semantara Hamzah terkekeh melihat Alifa yang melototkan mata padanya dengan rambut panjangnya yang berantakan seperti singa.


Lalu Hamzah menempelkan jari telunjuknya ke bibir sebagai isyarat agar Alifa diam. "Jangan berisik! Nanti kedengeran orang lain."


Alifa menghela nafas, bibirnya dia majukan ke depan dan dia pun kembali duduk di tepi ranjang.


"Yuk, kita sholat!" ajak Hamzah untuk kesekian kalinya.


"Males, dingin."


Hamzah mengulas senyum kecil seraya menatap Alifa. Meskipun wanita itu justru berpaling dan tak mau menatapnya balik.


"Kamu tahu nggak, tiga amalan yang jika dilakukan bisa menggugurkan dosa. Pertama, berjalan kaki menuju masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. Kedua, menunggu waktu sholat, dan ketiga…"


"Ah, sudah deh. Nggak usah ceramah. Aku ngantuk," keluh Alifa yang hendak berbaring kembali.


Namun, tindakan Alifa justru dicegah oleh Hamzah dengan cara memeluk erat tubuh Alifa. Hamzah memeluk dan menahan Alifa agar dia tidak kembali berbaring ke tampat tidurnya.


"Yang ketiga, berwudhu di saat sulit. Seperti dalam keadaan sakit atau dingin. Seperti yang sedang kamu alami sekarang," sambung Hamzah.


Alifa menarik nafas panjang berusaha untuk tetap tenang meski detak jantungnya justru semakin tidak karuan.


"Tapi aku nggak bawa mukena," kata Alifa beralasan.

__ADS_1


Hamzah kembali tersenyum dan mulai mengendorkan pelukannya. "Kita sholat di masjid. Di sana ada banyak mukena."


Alifa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membuat rambut kusutnya semakin kusut. "Iya, iya deh, ah."


__ADS_2