Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Mengantar


__ADS_3

Pagi itu merupakan pagi yang sial bagi Alifa. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itu kiasan yang tepat untuk menggambarkan nasib Alifa.


Sudah dia diantar kuliah oleh Hamzah, pakai motor lagi.


Ini merupakan pertama kalinya, Alifa naik sepeda motor ke kampus. Dia sangat tidak biasa. Terlebih, jika naik motor maka otomatis tubuh Alifa akan berdekatan dengan Hamzah.


"Bawa motornya uang cepet! Jangan seperti keong!" Alifa mencondongkan badan agar Hamzah bisa mendengar ucapannya.


"Ya sabar, Fa. Kan ini macet. Jadi nggak bisa ngebut."


Hamzah tahu jika Alifa tidak senang dibonceng olehnya. Maka dari itu, Hamzah berusaha untuk menyalio kendaraan di depannya agar mempercepat waktu ke tempat tujuan.


Setelah itu, Hamzah berbelok ke sebuah jalan yang lebih kecil. Dia memutuskan untuk mengambil jalan alternatif, karena kalau tidak Alifa bisa terlambat.


Hamzah menambah kecepatan tapi tiba-tiba seekor kucing berlari melintasi jalanan. Membuat Hamzah mengerem mendadak dan Alifa yang membonceng di belakang terpelanting ke depan.


"Astagfirullahaladzim."


"Awh, Hamzah!" pekik Alifa yang terkejut. Dia membetulkan kaca helm sambil memanyunkan bibir sebal. "Kalau bawa motor yang benar, dong. Kamu sengaja ya? Biar aku bisa deket sama kamu."


"Maaf, Fa. Tadi ada kucing lewat."


"Kucing-kucing. Alasan saja kamu mah, ah."


Hamzah menarik nafas panjang, berusaha untuk tetap sabar. Tak mau beradu mulut dengan Alifa, Hamzah memilih untuk diam dan melanjutkan menjalankan motor.


Tak sampai lima belas menit, Hamzah sudah berhenti di depan gerbang kampus Alifa. 


Secepat mungkin Alifa pun turun dari motor hendak berjalan memasuki kampus. Dia mempercepat langkah kaki agar tak ada orang yang melihat dirinya bersama Hamzah.


"Alifa," panggil Hamzah.


Alifa memutar badannya kembali. Dengan memasang wajah galak, dia berkata, "Apa?"


"Kamu nggak lepas helm kamu?"


Alifa berdecak dan merutuki kebodohannya dalam hati. Bagaimana bisa dia lupa melepas helm?


Dengan cepat, Alifa melepas dan memberikan helm itu pada Hamzah. Tepat saat itu juga, Kevin datang menghampiri.


"Pagi, cantik," sapa Kevin dengan tatapan menggoda pada Alifa.

__ADS_1


Meski Alifa tak memberi respon pada sapaan Kevin, namun hal itu sudah cukup untuk membuat Hamzah terbakar hatinya.


"Alifa," sapa Kevin sekali lagi setelah dia tak mendapatkan respon dari Alifa.


"Apaan sih?" tanya Alifa galak.


"Kamu hutang penjelasan sama aku."


"Penjelasan apa?"


Kevin melirik pada Hamzah sekilas yang kemudian dimengerti oleh Alifa. Lantas Alifa pun mendadak berubah menjadi tegang.


Inilah yang dikhawatirkan Alifa sejak berangkat dari rumah. 


"Pria ini yang kemarin ada di restoran sama kamu kan?" Kevin bertanya. "Dia benar suami kamu?"


"Aku…" Hamzah membuka mulut hendak membenarkan. 


Akan tetapi Alifa buru-buru berkata cepat, "Enggak. Dia bukan suami aku kok. Dia cuma… err… cuma…"


"Cuma apa?" Kevin bertanya sembari menyipitkan mata curiga, sebab Kevin melihat ada setitik keraguan di hati Alifa.


"Dia cuma sepupu aku, kok. Sudah ah, masuk saja yuk," Alifa menarik lengan Kevin agar tidak lagi membahas tentang Hamzah.


Dia mengucapkan kata istighfar. Dia sadar bahwa dia sudah berjanji akan ikut merahasiakan pernikahannya dengan Alifa.


Lalu Hamzah pun melajukan motornya untuk pulang ke rumah.


*


*


*


"Mas Hamzah, kenapa? Kok dari tadi aku lihat Mas Hamzah seperti banyak pikiran gitu?" Yusuf bertanya sambil mengamati raut wajah Hamzah yang duduk di sampingnya.


Mereka berdua memang sedang duduk berdampingan di tengah-tengah kerumunan orang yang menghadiri acara festival sekolah.


Bibir Hamzah melengkungkan senyuman. Meski kentara sekali jika senyuman itu terkesan dipaksakan, tapi Hamzah berkata, "Enggak ada apa-apa, kok."


Tentu saja Hamzah tak mau mengutarakan kegundahan hatinya pada Yusuf. Sejak tadi dia memang terganggu oleh sikap Alifa kepada Kevin.

__ADS_1


Yusuf pun mengangguk. Lalu dia berkata, "Mas, nanti aku bakal tampil baca puisi. Tapi aku tegang banget, Mas. Takut ada salah-salah kata."


Hamzah kembali tersenyum. Satu tangan Hamzah terulur mengusap puncak kepala Yusuf.


"Merasa tegang itu manusiawi kok. Apalagi jika hendak melakukan sesuatu yang sangat penting. Nabi Musa as juga takut saat hendak menghadapi Firaun. Tapi, Yusuf tahu nggak doa yang diamalkan Nabi Musa kala itu?"


Yusuf mengangguk mantap. "Tahu mau, Mas. Rabbisyraḥ lī ṣadrī wa yassir lī amrī waḥlul 'uqdatam mil lisānī yafqahụ qaulī. Ya Rab-ku, lapangkanlah dadaku, dan ringankanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku."


"Nah, doa itu Yusuf amalkan saat Yusuf hendak maju nanti. Oke?"


"Oke, Mas. Semangatin aku nanti ya?"


Saat gilirannya membaca puisi, Yusuf beranjak dari tempat duduknya dan maju ke atas panggung. Sehingga kursi yang ada di samping Hamzah kosong.


Saat itu juga, Hamzah merasa ada yang menepuk bahunya. Membuat dia pun menoleh ke samping.


"Hamzah? Ini benar kamu, kan?" tanya seorang wanita bertubuh jangkung dan memakai gamis bermotif bunga. "Temanku waktu di kampung."


Hamzah mengerutkan dahinya sejenak. Tapi detik berikutnya, kedua bola mata Hamzah membulat kala mengenali wanita yang menyapanya.


"Lho, Nindi? Kok kamu di sini?"


Wanita bernama Nindi itu tertawa. Lalu dia duduk di kursi yang tadi ditempati oleh Yusuf.


"Aku ke sini karena temenin keponakan aku. Lah kamu?"


"Aku juga temenin adik aku," jawab Hamzah. Dia menunjuk Yusuf yang sedang berada di depan membacakan sebuah puisi. "Tuh dia adik aku."


Nindi hanya mengangguk dan kembali mencecar pertanyaan. Mereka berbincang banyak hal dikarenakan Nindi dulunya adalah warga satu kampung dengan Hamzah.


Hanya saja Nindi pergi ke kota karena diboyong oleh suaminya dan menetaplah Nindi di sana dalam waktu yang cukup lama.


Hamzah hanya menanggapi obrolan Nindi seperlunya. Dia sadar betul jika statusnya kini yang sudah menjadi suami orang. Begitu pula Nindi yang menjadi istri orang.


"Oh ya, kamu di sini kerja dimana?" tanya Nindi pada akhirnya penasaran akan kehidupan Hamzah saat ini.


"Aku masih cari-cari lowongan, Nin."


"Kamu mau nggak kerja di tempat aku?" tanya Nindi to the point. "Aku bakal kasih jabatan penting buat kamu. Karena aku percaya kamu tuh dari orangnya jujur, Za."


Hamzah tampak ragu untuk menerima tawaran Nindi atau tidak. Dan keraguan di wajah Hamzah terbaca jelas oleh wanita muda itu.

__ADS_1


Maka Nindi pun mengambil sebuah kartu nama lalu memberikannya pada Hamzah.


"Kalau kamu mau pikir-pikir dulu, ini kartu nama aku. Kamu bisa hubungi aku kapan saja."


__ADS_2