
Sudah hampir setengah jam Hamzah menunggu di depan gerbang kampus Alifa. Namun, wanita yang dia tunggu tak kunjung datang.
Hamzah menjadi gelisah. Beberapa kali dia menghubungi nomor ponsel Alifa tapi sama sekali tidak aktif.
Lalu Hamzah menghubungi Haida untuk menanyakan apakah Alifa sudah pulang ke rumah atau belum. Akan tetapi jawaban dari Haida membuat Hamzah semakin gelisah.
Sebab dari penuturan Haida, Alifa sama sekali belum sampai ke rumah. Dirinya pun sudah menghubungi Alifa beberapa kali tapi tak satu pun panggilan telepon itu diangkat oleh Alifa.
Hamzah menggigit bibirnya dengan pikiran yang semrawut. Dia memasukan lagi ponsel ke dalam saku jaket.
Tepat ketika itu, Hamzah melihat perempuan yang Hamzah kenal sebagai teman dekat Alifa. Hamzah mengenalinya karena dia pernah melihat foto perempuan itu berada di kamar Alifa.
Hamzah pun menghampiri Caca yang baru saja keluar dari gerbang dan terlihat sedang menunggu taksi online.
"Assalamualaikum," sapa Hamzah.
Caca pun menoleh sambil menjawab salam. Lalu dia meneliti penampilan Hamzah dari atas sampai ke bawah.
"Ada apa, Mas?"
"Kamu temennya Alifa, kan?" Hamzah bertanya.
Caca mengangguk mengiyakan. "Iya, ada apa, Mas?"
"Kamu lihat Alifa, nggak?"
Dahi Caca mengerut kebingungan. Kemudian, dia menggelengkan kepala secara perlahan.
"Alifa kan sudah pulang dari tadi siang, Mas."
Hamzah menarik nafas panjang. Degup jantungnya berpacu cepat dan benaknya langsung berpikir kemana perginya Alifa.
"Kira-kira kamu tahu Alifa pergi kemana?"
__ADS_1
"Enggak, Mas." Jawab Caca yang dahinya semakin mengerut bingung. Kemudian dia balik bertanya. "Memang Mas ini siapa ya?"
Hamzah hanya tersenyum sekilas. "Aku keluarganya Alifa."
"Tapi aku kok nggak pernah lihat Mas yang satu ini ya? Padahal aku sudah sering main ke rumah Alifa lho," gumam Caca sambil terus memperhatikan raut muka Hamzah.
Caca berusaha untuk mengingat anggota keluarga Alifa dan mengingat akan wajah pria yang ada di hadapannya.
Merasa tidak nyaman diperhatikan terus oleh Caca, Hamzah pun pamit untuk pergi. Akan tetapi Caca mencegat Hamzah.
Wanita itu menyipitkan mata curiga. Lalu berkata, "Mas kan sudah tanya-tanya ke saya. Sekarang giliran saya yang nanya baik-baik ke Mas."
Hamzah menghela nafas. Sungguh dia tidak mau meladeni wanita di depannya karena pikirannya terus mencemaskan Alifa.
"Ya, mau tanya apa?" ucap Hamzah pada akhirnya.
"Mas jawab dengan jujur. Mas ini sebenarnya siapanya Alifa?"
Hamzah sekali lagi menarik nafas panjang dan dia berkata, "Saya suaminya."
Sementara Caca tercengang dengan jawaban Hamzah. Bahkan dia sampai berdiri mematung dan tak bisa berkutik.
"Hah? Masa sih Alifa sudah nikah?"
*
*
*
Alifa menangis di kursi belakang mobil. Dia tak memperdulikan sopir taksi yang beberapa kali melirik melalui kaca spion.
Raut wajah sang sopir taksi terlihat cemas, sebab wanita yang menjadi penumpangnya sejak tadi terus menangis dan tidak memberitahu tempat tujuan.
__ADS_1
Maka sang sopir pun bertanya, "Mbak, ini mau berhenti di mana?"
Alifa mendongak dan menatap lurus ke depan. Dia baru sadar jika sejak tadi dia belum memberitahu tempat tujuan.
Namun, Alifa sendiri juga tidak tahu harus kemana dia pergi. Dia memijat pelipisnya yang terasa pening.
Tepat saat itu juga, Alifa melihat ada sebuah taman kota yang tampak sepi dan terasa tepat untuk menjadi tempat menyindiri.
Sehingga Alifa meminta sang sopir berhenti di taman itu. Alifa turun, dan berjalan menyusuri taman. Lalu dia duduk di salah satu bangku.
Alifa menatap kosong pada bunga-bunga tulip yang tertanam rapi. Alifa terus duduk di sana tak memperdulikan keadaan sekitar.
Bahkan dia tak peduli pada tetesan air hujan yang perlahan mulai turun dan membasahi badannya.
Merasa tak kuat lagi menahan hawa dingin air hujan, Alifa pun menepi dan meneduh ke sebuah bangunan yang ternyata bangunan itu adalah sebuah masjid.
Alifa duduk di pelataran masjid dengan memeluk lututnya sambil menengadah memandang langit kelabu.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk pundah Alifa. Sontak Alifa menoleh dan dia mendapati seorang perempuan tersenyum padanya.
"Mbak, bajunya basah. Kenapa nggak diganti, Mbak? Nanti sakit lho," ucap perempuan itu dengan sangat ramah.
"Saya nggak bawa baju ganti," sahut Alifa tanpa ekspresi.
"Kebetulan saya bawa baju panjang. Mbak bisa pakai baju saya dulu kalau mau."
Alifa berpikir sejenak. Lalu dia pun mengangguk setuju. Dia dan perempuan yang baru dikenalnya itu berjalan ke toilet perempuan di masjid itu untuk berganti baju.
Kemudian perempuan itu mengajak Alifa untuk sholat berjamaah. Alifa yang merasa sudah dibantu, tak enak hati jika menolak.
Maka dia pun menurut saja. Dia sholat di masjid itu bersama beberapa jamaah yang lain.
"Mbak, terima kasih sudah baik sama saya," kata Alifa setelah selesai sholat. "Tapi, Mbak kok mau peduli sama saya sih? Kan Mbak nggak kenal sama saya?"
__ADS_1
Perempuan itu hanya menoleh dan tersenyum manis pada Alifa. "Saya peduli karena itu yang diajarkan Rasulullah. Bersikap baik kepada siapapun bahkan pada orang yang tidak kita kenal."