Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Kurang Tidur


__ADS_3

Hamzah selalu menyetel alarm agar dia bisa bangun di sepertiga malam. Ketika alarm di ponselnya berbunyi, Hamzah pun menggeliat di dalam selimutnya.


Dia mengerjapkan dan mengucek mata. Lalu salah satu tangannya menjulur ke atas meja untuk mematikan suara alarm yang memekakan telinga.


Dia takut kalau suara alarm itu membuat Alifa berisik dan akhirnya berujung pada kemarahan wanita itu.


Teringat akan Alifa, Hamzah pun menoleh ke samping dan betapa terkejutnya dia mendapati Alifa yang tertidur dengan kedua lengan memeluk erat perutnya.


"Alifa?"


Dengan perlahan, Hamzah melepaskan tangan Alifa supaya tidak mengganggu tidur wanita itu. Namun, tangan Alifa sangat kuat mendekapnya.


"Alifa," panggil Hamzah sekali lagi.


Namun, wanita yang telah berstatus istrinya itu sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan bangun. Di saat itu juga, Hamzah dapat dengan jelas melihat wajah polos Alifa.


Wajah yang biasanya mengerutkan garis-garis marah atau mengejek, kini wajah itu tampak tenang dan apa adanya.


Posisi mereka yang sangat dekat membuat Hamzah terpaku memandang Alifa. Kulitnya yang putih lansat sangat kontras dengan alis dan rambutnya yang sangat hitam.


Dan entah dorongan dari mana, Hamzah memajukan kepalanya untuk bisa semakin dekat dengan Alifa. Saat bibir mereka hampir saja bertemu, tiba-tiba Hamzah tersadar.


"Astagfirullahaladzim, apa-apaan aku ini."


Hamzah menggelengkan kepala seraya memalingkan muka. Dia berusaha sekali lagi melepas tangan Alifa dari perutnya.


Kemudian Hamzah beranjak dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi. Dia memutuskan untuk mandi agar selepas subuh nanti dia bisa lanjut aktivitas yang lain.


Hamzah memutuskan tidur lagi setelah melaksanakan sholat tahajud. Dia masih duduk di atas sajadahnya dan membaca Al Quran sambari menunggu waktu sholat subuh tiba.


Akan tetapi, tak lama Hamzah mendengar Alifa yang mengigau dan berteriak. Hamzah yang khawatir langsung berlari mendekat.


Dia mendapati kedua kelopak mata Alifa yang masih terpejam namun, bibirnya terus meracau tidak jelas. Maka Hamzah pun mengguncangkan tubuh Alifa supaya terbangun.


"Alifa, ada apa?"


"Hamzah," kata Alifa begitu kedua matanya terbuka dan bangun terduduk. "Aku… aku mimpi buruk."


Hamzah duduk di samping Alifa. Dengan penuh perhatian, Hamzah menyisir rambut Alifa yang menjuntai kemana-mana menggunakan jemarinya.


"Istighfar. Mimpi buruk itu biasanya datang dari setan. Makanya Rasulullah menganjurkan kita untuk baca doa sebelum tidur."

__ADS_1


Alifa menghela nafas lesu. "Aku sudah baca doa kok. Seperti yang kamu lakuin tadi."


"Kamu baca tiga surat Qul?"


Alifa mengangguk.


"Baca juga ayat kursi?"


"Nah, itu yang aku belum hafal."


Sontak Hamzah tertawa mendengar ucapan Alifa. Terlebih Alifa mengucapkannya dengan menunjukan raut yang seolah kesal pada dirinya sendiri.


Menurut Hamzah, ekspresi Alifa itu sungguh lucu. Tapi Alifa yang melihat Hamzah tertawa menyimpulkan lain.


Alifa melotot tajam pada suaminya. Lalu bertanya, "Kenapa ketawa? Apa yang lucu?"


Hamzah berusaha sekuat tenaga menghentikan tawanya agar Alifa tidak tersinggung. Lalu Hamzah menggelangkan kepalanya.


"Enggak, kok," kata Hamzah dengan merekahkan senyum sempurnanya. "Ya sudah. Kalau begitu, karena kamu sudah terlanjur bangun, mending sholat tahajud gih."


Alifa terdiam sejenak. Pandangannya kosong menatap pada selimut, kemudian dia menoleh pada Hamzah dan bertanya dengan wajah yang tanpa ada rasa dosa.


"Memang niat sholat tahajud bagaimana sih?"


Tak ingin Alifa marah dan akhirnya wanita itu membatalkan keinginan sholat tahajud, Hamzah pun berusaha menghentikan tawanya. 


Dia menatap Alifa dengan pandangan yang lembut. Lalu tangan Hamzah terulur mengusap rambut Alifa dengan penuh kelembutan pula.


"Kamu ambil wudhu saja dulu. Nanti aku ajarin."


Alifa menurut saja. Kali ini dia tidak banyak protes. Selama hidup, Alifa tidak pernah melaksanakan sholat tahajud yang kini membuatnya penasaran.


Alifa penasaran, seperti apa sholat tahajud dan keutamaannya. Apalagi dia akan diajari langsung dari pria yang mengerti agama.


*


*


*


Sinar matahari pagi menyambut umat manusia seolah sedang memaksa mereka untuk bangun dari mimpi indah dan mewujudkan mimpi tersebut.

__ADS_1


Begitu pula yang terjadi di dalam rumah besar milik Haida. Semua penghuni rumah bangun dan melakukan kegiatan rutin mereka masing-masing.


Kemudian pukul tujuh pagi, Haida, Yusuf, Alifa dan Hamzah sudah berkumpul di meja makan. Salah seorang pelayan berjalan mondar-mandir menyajikan beberapa hidangan sarapan.


Tepat saat itu, Alifa menguap lebar tak kuasa menahan rasa kantuk. Yusuf yang melihat Alifa tampak kurang tidur pun menjadi berpikir hal yang negatif.


Yusuf tersenyum, lalu berkata, "Kak Alifa, semalam habis ngapain? Kok seperti kurang tidur gitu? Jangan-jangan habis…"


Yusuf berdeham. Masih dengan senyum yang merekah di bibir, dia melirik ke arah Hamzah.


"Habis apa?" tanya Alifa galak. "Jangan mikir yang kotor-kotor ya! Aku kurang tidur tuh karena semalam habis sholat tahajud, tahu nggak?"


Mendengar ucapan Alifa, Haida pun terperanjat senang. Dia menoleh pada Alifa dan tersenyum bangga.


Namun, tampaknya berbeda dengan Hamzah. Pria itu justru melirik tajam Alifa melalui sudut matanya.


"Ah, masa sih Kak Alifa bisa sholat tahajud. Aku nggak percaya. Bilang saja, Kak Alifa itu habis membuat keturunan. Nggak perlu pakai alasan tahajud segala, Kak."


"Hai, mulut kamu mau sumpal pakai lap, hah?" bentak Alifa yang dengan cepat menyambar kain lap yang tersampir di bahu pelayan.


Alifa bangkit dan hendak meraih bagian kaos depan Yusuf. Untung saja, secepat kilat, Hamzah menahan tangan Alifa dan memaksa wanita itu untuk duduk kembali.


"Fa, nggak baik ribut di meja makan," Hamzah menasehati Alifa dengan suara lembut. "Sudah jangan kepancing sama adik kamu sendiri."


Lalu Hamzah menoleh pada Yusuf yang masih terkekeh mengejek Alifa. "Yusuf, kamu juga jangan ganggu kakak kamu."


Yusuf terdiam menunduk. "Baik, Mas Hamzah."


Melihat Alifa dan Yusuf yang berdamai tanpa perlu campur tangan darinya, Haida merasa sangat terbantu akan kehadiran Hamzah. Dia semakin yakin jika dia memang tidak salah pilih cucu menantu.


"Alifa, nanti berangkat kuliah kamu diantar sama Hamzah. Mau kan?" tanya Haida tiba-tiba.


"Nggak mau. Kan ada sopir, Oma."


"Hari ini, Oma butuh sopir untuk mengantar Oma. Kadi hari ini kamu berangkat kuliahnya diantar sama Hamzah," kata Haida tegas.


Alifa berdecak kesal. Dia menghela nafas untuk tetap sabar dan memikirkan cara terbaik agar tidak diantar kuliah oleh Hamzah.


"Aku naik angkutan umum saja," sahut Alifa singkat sambil melanjutkan memakan makanannya.


"Enggak," ucap Haida lebih tegas lagi. "Oma nggak setuju kamu naik angkutan umum. Kalau terjadi bahaya atau ada orang yang berniat jahat, bagaimana?"

__ADS_1


"Sudahlah, Fa. Turuti saja kemauan Oma. Biar aku yang antar kamu ke kampus. Aku akan usahakan, insha Allah rahasia pernikahan kita akan aman."


Alifa berdecak dan menghela nafas pasrah. Dia takut jika teman-temannya tahu kalau dirinya sudah menikah.


__ADS_2