Ketika Hamzah Bertemu Alifa

Ketika Hamzah Bertemu Alifa
Ketakutan


__ADS_3

"Bi, kamar Alifa sudah diberesin kan?" 


Haida bertanya pada asisiten rumah tangga yang sudah dia tugasi untuk menata ulang kamar Alifa.


Begitu mendapat kabar, bahwa Alifa dan Hamzah sedang dalam perjalanan pulang, Hiada pun memutuskan untuk segera menata ulang kamar Alifa.


"Sudah, Nyonya. Apa ada tugas lain?"


"Engga, sudah cukup. Makasih ya, Bi."


ART itu menunduk sopan. Lalu bertanya, "Kalau untuk menu makan malam, Nyonya Haida ingin masakan apa?"


"Nggak perlu masak, Bi. Karena malam ini saya mau ajak Alifa dan Hamzah makan di restoran."


Setelah itu, asisiten rumah tangga itu pun mengangguk dan beranjak pergi untuk mengerjakan tugas lain. Sedangkan Haida tetap berdiri di ruang tengah dengan rasa waswas yang tiba-tiba melanda.


Haida melirik ke arah alat penunjuk waktu mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Lalu dia melempar pandangan ke arah luar jendela.


"Seharusnya, mereka sudah sampai tapi kok belum dateng juga ya?" gumam Haida cemas. "Apa aku telepon saja?"


Ketika Haida mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Alifa, saat itu juga terdengar suara pintu terbuka dan suara salam yang sangat nyaring.


Lantas Hiada membalas ucapan salam itu dengan hati yang penuh kelegaan, sebab sang pemilik suara tak lain dan tak bukan adalah Alifa.


Senyum Haida merekah lebar. Dia berjalan cepat ke pintu depan dan ternyata benar, Alifa, sang cucu kesayangannya telah sampai di rumah dengan selamat.


Cucu dan nenek itu saling menghamburkan pelukan. Melepas rindu, padahal hanya tak berjumpa selama satu hari saja.


Di belakang Alifa, berjalanlah Hamzah dengan ras ransel menggantung di pundaknya. Belum lagi tas kecil milik Alifa yang juga menggantung di lengan Hamzah dan tangannya juga harus menyeret koper besar milik Alifa.


Hamzah memberikan salam pada Haida yang tatapannya tak lepas dari wajah Hamzah. Haida menyadari satu hal jika Hamzah sangat kelelahan akan perjalanan yang baru saja mereka tempuh.


"Kamu sepertinya lelah banget, Za. Sebaiknya kamu istirahat ya? Setelah kamu sudah agak fit, Oma mau ajak kalian makan bareng di restoran," Haida menoleh pada Alifa. "Alifa, ajak suami kamu ke kamar, dong. Kasihan dia kecapean."


"Emang kamar Hamzah di mana, Oma?" tanya Alifa dengan wajah tanpa dosa.


"Kok kamu masih nanya? Ya tentu di kamar kamu lah. Dia kan suami kamu."

__ADS_1


"Tapi kan, Oma. Kamar aku, tempat tidurnya sempit," kata Alifa beralasan.


Haida pun menggelengkan kepala mendengar ucapan Alifa. "Oma sudah ganti tempat tidur kamu dengan tempat tidur ukuran king size. Supaya kalian bisa tidur berdua."


"What?" pekik Alifa kaget.


"Nah, sekarang. Ajak Hamzah ke kamar kamu ya? Cepetan! Kasihan lho suami kamu."


Alifa memanyunkan bibirnya, serta menghentakan kaki sebal. Dengan terpaksa dia pun menunjukan kamar dirinya yang kini harus berbagai dengan Hamzah.


Mereka berdua naik ke lantai atas, berbelok ke kanan dan berjalan melewati lorong. Lalu sampailah mereka di pintu kamar kayu yang dicat warna putih.


Alifa membuka pintu kamarnya, dan berkata pada Hamzah, "Nah ini kamar aku."


"Kamar kita, Fa," kata Hamzah meralat. 


Pria itu meletakan tas dan koper satu per satu di lantai kamar. Sejenak Hamzah mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Sungguh kamar yang sangat feminim dengan cat dinding yang di dominasi warna merah muda dan putih. Lalu pandangan mata Hamzah terhenti pada salah satu dinding yang berisikan foto-foto masa kecil Alifa.


"Meskipun kita sudah nikah, ini tetap jadi kamar aku. Ngerti? Dan ini adalah wilayah teritorial milikku. Jadi kamu iti ibarat numpang tidur di kamar aku, ngerti?" celoteh Alifa meluapkan segala sikap sombongnya.


Alifa mendengus kasar memandang Hamzah. "Kamu sholat saja sendiri."


"Astagfirullahaladzim," gumam Hamzah menggelangkan kepala. "Jangan bilang begitu, Fa! Meninggalkan sholat itu dosanya lebih besar dari zina."


Alifa menghela nafas seraya membungkukkan badan dan memutar bola mata malas.


"Kamu itu ya, mulai deh ceramah lagi, ceramah lagi. Apa nggak bosan kamu itu ngatur-ngatur hidup orang lain apalagi…"


"ALIFA!" tiba-tiba saja Hamzah membentak Alifa dengan mimik wajah yang garang.


Sontak Alifa terlonjak kaget. Seketika itu pula seluruh badan Alifa merinding begitu melihat wajah Hamzah ketika marah.


Tak di sangka, seorang Hamzah pun bisa marah dan marahnya seorang Hamzah sangatlah menakutkan bagi Alifa.


Wanita itu mematung di tempat. Aura kemarahan terpancar kuat dari Hamzah, membuat Alifa kesusahan menelan salivanya.

__ADS_1


Kemudian Hamzah berjalan mendekat ke arah Alifa. Dia menyambar dan mencengkram kuat bahu Alifa hingga Alifa meringis kesakitan.


"Auh, Hamzah, sakit!"


"Aku tahu kamu nggak menginginkan pernikahan bersama aku. Tapi, seenggaknya hargai aku sebagai suami kamu, Alifa," ucap Hamzah masih dengan nada yang berapi-api.


Alifa hanya diam menatap lekat sepasang bola mata hitam milik Hamzah. Wajah Alifa saat ini sudah seperti kelinci yang ketakutan karena berhadapan dengan singa ganas.


Lalu mendadak tangan Hamzah memegang ujung kaos yang digenakam Alifa dan hendak dia tarik ke atas.


Namun, untungnya Alifa berhasil menahan pergerakan tangan Hamzah itu. Wajah Alifa semakin bertambah panik sebab dia tahu akan apa yang diinginkan suaminya.


"Kamu mau apa?" Alifa bertanya meski dia sendiri tahu jawabannya.


"Buka baju kamu," jawab Hamzah masih dengan nada bicara yang membentak.


"Iya, tapi mau apa?" Alifa bertambah panik dan dia pun bertanya lagi.


"Pilih aku paksa kamu sholat atau pilih aku paksa kamu melayani aku?"


Alifa membulatkan mata lebar. Dia tak menyangka ternyata Hamzah juga memiliki sisi lain. 


Bahkan Alifa menyipitkan mata meneliti wajah Hamzah. Bermacam spekulasi pun hinggap di benak Alifa. 


Dari spekulasi Hamzah memiliki kepribadian ganda sampai bipolar. 


Alifa sampai bisa berpikir seperti itu karena baru tadi pagi suaminya sangat bersikap lemah lembut terhadapnya. Tapi pada sore hari ini dia tampak garang.


Melihat Alifa yang hanya diam, Hamzah pun mengguncangkan tubub Alifa agar cepat sadar dari lamunannya.


"Cepat, jawab!" bentak Hamzah.


"Aku… pilih…" Alifa berkata terbata-bata. "A-ku aku pilih sholat."


Hamzah menyeringai sambil melepas genggaman tangannya pada tubuh Alifa. "Bagus. Sekarang, cepat wudhu!"


Masih dengan tubuh dan wajah yang tegang, Alifa berjalan meninggalkan Hamzah untuk menuruti perintah suaminya.

__ADS_1


Sementara itu, sepeninggalan Alifa, Hamzah terkekeh pada dirinya sendiri. Ternyata aktingnya sangat menyakinkan sampai membuat Alifa sangat ketakutan.


__ADS_2