ketika sabar ku membuat ku sukses

ketika sabar ku membuat ku sukses
part 1- kejam nya ibu tiri


__ADS_3

"Bagus kamu ya, enak-enakan tidur. Orang di rumah ini udah mondar-mandir dari tadi pagi sedangkan kamu masih di dalam kamar." Ucap ibu tiri ku dengan raut wajah yang merah padam.


"Maaf bu, aku kan lagi sakit." 


"Halah. Alasan saja kamu itu. Sudah sana cepat cuci piring terus sapu halaman. Sekarang!". 


Jderrr


Mau tidak mau aku harus bangkit dari pembaringan untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah diberikan oleh nya. Sejujurnya, aku merasa iri pada kak Amel, karena apa ? Meskipun dia hanya anak angkat,tapi dia selalu menjadi anak kesayangan ibu ku.


****


"Assalamualaikum. Kak, udah makan belom? Bapak ambilkan makan ya. Tunggu disini dulu."


Iya. Dia adalah bapak ku. Yang sebagian orang pernah berkata bahwa cinta anak perempuan adalah bapak nya. Bapak tidak pernah membandingkan anak-anak nya. Semua disama ratakan. Kasih sayang nya, perhatian nya, semua sama ke anak-anak nya. 


Bagiku bapak hidup ku sekarang. Bapak penyemangat ku untuk terus hidup. Dulu aku sempat berfikir kalau bapak tidak memperdulikan aku setelah kematian almarhum mamak tetapi aku salah. Justru bapak semakin perhatian padaku, meskipun untuk membela ku didepan ibu tiri itu mustahil.


"Ini nah. Makan dulu ya, biar lekas sembuh. Biar cepat bisa sekolah lagi. Bapak mau ke depan dulu." Aku mengangguk sembari tersenyum ke arah bapak yang telah menghilang dari pandangan ku.


"Ck. Enak sekali hidup kamu ya. Makan aja pakai tunggu diambil kan dulu sama bapak nya. Ingat! Seharusnya kamu yang Melayani bapak mu bukan bapak mu yang melayani mu!" Cecar ibu tiri dengan tangan nya yang menuding-nuding kening ku.


Setelah ibu puas memarahi ku, ibu pergi meninggalkan kamar dengan membanting pintu. 


Disaat itu juga air mata yang sedari tadi ku tahan tak mampu ku bendung lagi. Aku hancur,aku menangis. Bayang-bayang masa lampau mampir ke benak ku.


"Kalau kamu manggil dia dengan sebutan mamak, maka silahkan kamu ikut tinggal dengan nya,jangan ikut dengan ku! Panggil dia dengan sebutan ibu!" Bentak mamak seraya mengeluarkan air mata nya. 


Sungguh perih hatiku ketika mamak kandung ku sendiri berkata seperti itu sembari menangis. Hatiku luruh dan disaat itu juga,aku berjanji pada diriku untuk tidak memanggil ibu tiri dengan sebutan mamak.


Tapi, takdir berkata lain. Mamak telah lebih dulu dipanggil yang maha kuasa. Mamak meninggalkan ku. Bahkan ucapan yang mamak lontarkan waktu itu, menjadi kenyataan yang begitu menyakitkan bagiku. Ya,aku harus kuat! Mamak akan selalu bersama ku di setiap langkah ku.

__ADS_1


*


*


*


Entah pukul berapa kemarin malam aku tertidur. Dan pagi telah menyapa.


"Pak, ayo!" Panggil ku pada bapak yang tengah minum teh.


"Loh, Uda mau sekolah kak? Apa uda sehat?"


"Sudah pak. Kakak takut ketinggalan pelajaran."


"Iya sudah ayo, bapak antar".


Disela-sela perjalanan bapak sempat memberikan nasehatnya pada ku


"Kak, kalau ibu marah-marah, jangan di lawan ya. Diamin aja."


SMAN 2 NUSA BANGSA. Tempat aku menimba ilmu.


 Setibanya aku di sekolah,aku langsung masuk kelas. Karena kebetulan bel juga sudah berbunyi.


***


"Oke anak-anak, karena berhubung sudah bel istirahat kita lanjutkan nanti. Selamat pagi." Ujar ibu Delia guru Biologi.


"Kil, kantin yuk!" Ajak Lusi teman dekat ku.


"Hm boleh." Aku pun menyetujui nya, kami berjalan beriringan tapi, tentu dengan ritme yang pelan karena keadaan ku.

__ADS_1


"Dih, ngapai sih tuh anak pincang ke kantin segala."


"Tau. Buat orang males makan aja deh!"


"Uda yuk pergi! Malas banget ada sih pincang."


Sakit! Sudah biasa. Sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Lusi yang berada di dekat ku pun memegang pundak ku.


"Sabar ya kil. Aku yakin suatu saat kamu pasti sukses."


"Makasih ya lus, kamu sudah mau menjadi teman ku." Jawab ku dengan air mata yang mulai menetes.


Lusi tersenyum, "sudah ah, ayo, kita ke kantin kan buat makan ,bukan buat nangis kan?" Ejek Lusi.


"Iya. Ayo."


Pukul 14.00 aku sampai di rumah. Baru saja merebahkan tubuh ini ke kasur, tiba-tiba


Brakk


"Bagus. Malah enak-enakan tidur. Kamu gak lihat cucian piring numpuk hah! Cepat beres kan!" Ketus ibu dengan tangan berkacak pinggang.


"Aku baru saja pulang sekolah bu, izin kan aku tidur sebentar saja." Ujar ku memelas, karena jujur saja kaki ku capek sehabis jalan saat pulang sekolah tadi.


Ibu tersenyum sinis, " tidak-tidak. Sekarang kamu tidak boleh tidur, kerjaan buat kamu masih banyak. Kerjakan sekarang." 


Aku perlahan bangkit untuk mencuci piring dan kemungkinan besar akan ada beberapa pekerjaan lagi yg diberikan untukku.


"Enak sekali kamu mau tidur. Aku tidak akan membiarkan kamu untuk istirahat kali ini. Dasar anak pincang. Anak pelakor!" Batin ibu tiri ku.


Setelah mencuci piring, aku disuruh untuk menyapu halaman, mengangkat jemuran, dan lainnya. Tak hayal aku sangat kesulitan dengan keadaan ku,tapi aku tidak boleh nyerah.

__ADS_1


"Mak, sudah lah kasian Kila kalau harus terus menerus bekerja." Iba kak Amel.


"Tidak bisa Amel. Dia harus bisa ku buat menderita tinggal bersama ku. Ini belum seberapa dengan luka yang ada di hatiku." Ketus ibu seraya pergi begitu saja meninggalkan kak Amel.


__ADS_2