ketika sabar ku membuat ku sukses

ketika sabar ku membuat ku sukses
prt 8 - laris manis


__ADS_3

Aku sudah bangun dari subuh tadi dan tinggal menunggu Lusi datang untuk menjemput ku. Sengaja aku memang tidak sarapan di rumah ,karena aku tidak mau membuat bu Mila merasa repot akan hadir nya aku dirumahnya.


Sambil menunggu Lusi yang kemungkinan sebentar lagi datang, aku menyempatkan untuk membaca novel favorit ku , iya itung-itung biar tidak ketinggalan bab nya, hehe. Sebenarnya, hobi ku membaca dan menulis jadi tidak heran jika di handphone ku ini banyak sekali aplikasi-aplikasi novel.


Saat masih serius-serius nya menatap layar handphone, tanpa sengaja aku melihat dari ekor mata ku bahwa bu Mila berjalan menghampiri ku.


"Kil, gak sarapan dulu? Ibu udah buatin nasi goreng tuh." Ujar bu Mila.


"Aaa tidak usah bu, Kila lagi buru-buru, karna dijemput temen." Jawab ku mengelak.


Bukan aku bermaksud tidak sopan, tapi setelah aku tau bahwa bu Mila sama halnya dengan ibu tiri ku, rasanya hati ini tidak senang. Memang beda sedikit, ibu tiri ku didepan dan belakang ku selalu mengh*na aku , sedangkan bu Mila didepan ku dia baik, tapi dibelakang ku dia menjel*k-jel*kkan ku.


"Oh gitu iyaudah," ucap bu Mila. "Oh iya kil ,ibu sampek lupa ngasih tau kamu kalo hari Minggu nanti akan ada arisan di rumah nya Wak Iis, dan kemarin Wak Iis datang kemari , dan menyuruh ibu bilang ke kamu, kalau kamu di suruh datang juga ke sana." Sambung bu Mila.


"Hmm" aku menghembuskan nafas pelan. Pasti akan banyak saudara yang datang ke acara itu, secara itu arisan keluarga.


"Kila belum tau bu bakalan datang atau tidak. Tapi in syaa Allah Kila usahain."jawab ku.


Sesaat bu Mila ingin membuka mulut lagi , tiba-tiba Lusi datang dengan menaiki sepeda motor kesayangan nya.


'uh, untunglah kamu datang lus! Jadi aku bisa terbebas dari pertanyaan-pertanyaan bu mila.' batin ku.


Setelah berpamitan, aku dan Lusi pun segera berangkat ke rumah owner basreng itu.


Rumah nya cukup strategis, langsung berhadapan dengan jalan besar. Aku di suruh Lusi menunggu di motor saja, biar dia yang mengambil basreng nya.


Memang kalau di perkirakan rumah owner ini tidak begitu jauh dari sekolah kami. Paling hanya menempuh waktu 10 menitan.


Lagi asyik-asyiknya melihat sekeliling , tiba-tiba Lusi sudah berjalan menghampiri ku dengan menenteng beberapa plastik berukuran sedang.


Tanpa banyak bicara lagi, aku membantunya membawa basreng-basreng itu dan kami meluncur ke sekolah.


Sesampainya di parkiran, aku pun mulai kepo dengan rasa basreng ini.

__ADS_1


"Lus, aku icip sedikit boleh kali ya?" Pinta ku.


"E-eeh gak boleh icip-icip kil. Kalo mau Lo ambil aja ni 1 bungkus tapi ya Lo bayar, haha." Sahut Lusi.


Aku pun mengangguk sambil memasukkan basreng ke dalam mulutku. Dan....wow! Ini bener-bener enakk!


"Lus, Gil* ini bener-bener enakk tau!" Seru ku sambil tetap mengunyah makanan itu.


Lusi tampak tertawa cekikikan melihat aku makan begitu lahap.


"Oh ya lus, kita jual basreng berapa harga?" Tanyaku


"Kita jual aja 1 bungkus ini 10 ribu kil. Lagipun orang juga gak akan komplen karna kan rasanya juga tidak mengecewakan." Ujar Lusi.


Aku menyetujui nya ,kami pun berjalan beriringan menuju kelas. Dan rencananya akan kami jual ketika jam istirahat sekolah nanti.


Teng teng teng!


Bel istirahat telah berbunyi. Sebelum semua murid yang ada di kelas keluar ruang ,aku dan Lusi sudah lebih dulu mengeluarkan beberapa basreng yang akan kami jual.


"Eh,eh. Apa-apaan ni rame banget." Seru Manda.


"Eh ada Manda, sini nda cobain basreng kami, mana tau kamu minat," ucapku lembut .


"Dih, ogah! Makanan kayak gitu gak level sama gua , paham!" Ujar Manda sinis.


"Heh, kalo Lo gak mau ya udah , kami juga gak maksa! Lagain gua juga gak mau kali jual basreng gua sama orang kayak lu!" Sewot Lusi.


"Wah, makin lanc*ng Lo sekarang sama gua ya!"


Aku yang bakalan tau Lusi akan membalas perkataan Manda, segera memegang tangan Lusi, setidaknya dengan begitu Lusi tau ,bahwa aku menyuruh nya untuk mengalah.


Manda yang dari tadi mengoceh tanpa kami respon pun tiba-tiba pergi begitu saja.

__ADS_1


************


Akhirnya kami sampai di rumah ku, lebih tepatnya rumah bu Mila. Setibanya di rumah aku mempersilahkan Lusi masuk, lalu aku berganti pakaian sebentar , kemudian mengambilkan minum buat Lusi.


"Nih lus, diminum dulu."kataku


"Ah elo kil macem sama sapa aja deh." Jawab Lusi.


"Alah gak apa lus, lagian cuman air putih nya."


"Okeh deh, makasih ya kil."


Selepas Lusi minum , kami pun mulai menghitung jumlah uang yang kami dapatkan hari ini, sementara Lusi sibuk menghitung uang, aku pun juga sibuk mengecek siapa-siapa saja yang telah memesan basreng pada kami saat di sekolah tadi.


Ternyata lumayan banyak juga yang memesan basreng kami, sekitar 6 orang, sedikit memang tapi mereka pesan sampai 2 atau 3 bungkus.


"Wahh... Kilaaa. Lihat ini!" Ucap Lusi.


Aku pun segera menoleh ke arah nya dan ternyata Lusi tengah memegang uang yang kalau diperkirakan bisa membentuk sebuah kipas.


Aku pun yang melihatnya melongo, "lus, itu beneran pendapatan kita hari ini?" Tanyaku memastikan.


"Ya iyalah kil. Lihat ni." Ujar Lusi menyodorkan sebuah buku kecil dengan nota angka 80 ribu rupiah. Aku memandang wajah Lusi, masih tidak percaya tapi ini nyata. "Bener kan kil?" Sambung Lusi.


Aku mengangguk terbit di bibir ini sebuah senyuman yang mengembang. Ah begini kah rasanya bisa menghasilkan uang dari hasil keringat sendiri. Mau sedikit pun jumlah nya tapi berasa sudah amat-amat bersyukur.


Kami sudah memutuskan, bahwa uang dari hasil jualan hari ini akan kami jadikan modal lagi buat besok, keuntungan nya akan kami simpan.


"Ok selesai. Oh ya kil, gua pamit pulang dulu ya. Udah sore juga ni." kata Lusi.


"Eh iya iya lus. Sampek lupa waktu gini kita," jawab ku yang refleks melihat jam dinding,dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib.


"Haha iya maklum lah kil, namanya juga baru merintis sebuah usaha ya gini wkwk." Ledek Lusi.

__ADS_1


Setelah Lusi pamit pulang, aku pun mengantar nya sampai ke depan rumah, sampai hilang dari pandangan ku baru lah aku masuk. Karena itulah yang diajarkan almarhumah mamak dulu.


Selepas kepulangan Lusi, aku pun bergegas membereskan rumah, lalu mandi kemudian melaksanakan shalat ashar.


__ADS_2