ketika sabar ku membuat ku sukses

ketika sabar ku membuat ku sukses
part 17-- mendapatkan sebuah semangat


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu, bertepatan dengan arisan keluarga. Kila yang sedari tadi pagi berpikir keras, harus kah dia datang atau tidak usah?


Tiba-tiba ponsel nya berdering.


Tertera di panggilan telepon nya "Tuan besar". Itu adalah nama yang sengaja Kila buat untuk bapak nya.


"Halo, assalamualaikum pak."


"Waalaikumussalam, kakak nanti datang kan ke acara arisan nya?"


"Kalau gak datang gak boleh ya pak?" Tanya Kila hati-hati.


"Iya gak apa sih, cuman kan kita menghargai kak. Datang ya?" Ucap bapak Kila meyakinkan.


Kila menghembuskan nafas nya pelan, "iyaudah pak, nanti kakak ke sana." Jawab Kila meskipun hatinya berat sekali.


"Makasih ya kak. Iyaudah, bapak matikan dulu telepon nya. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Setelah panggilan berakhir, Kila masih dilema, apakah keputusan yang dibuat nya benar atau tidak.


Entah mengapa perasaannya tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu.


************


"Gimana mas? Mau anak mu datang?" Ucap ibu tiri ke bapak nya Kila setelah selesai mematikan handphone nya.


"Iya, dia mau datang." Ucap bapak Kila singkat.


"Oh baguslah." Jawab ibu tiri.


Dalam hatinya dia membatin, "akan banyak kejutan yang kamu terima di sana nanti anak pincang, akan ku permalukan kau."


*******


Siang harinya, Kila sudah bersiap-siap hendak pergi ke acara arisan. Tapi dia tidak mau keluar kamar dulu sebelum bu Mila pergi. Karena Kila tidak mau berjumpa dengan bu Mila. Rasa sakit hatinya kemarin masih membekas di hati.


Tak berapa lama, bu Mila pun pergi. Kila segera keluar dan berjalan keluar rumah serta menguncinya.

__ADS_1


Jarak rumah wawak nya yang sedang mengadakan arisan dengan rumah bu Mila tidak lah jauh, tapi baginya yang memiliki keterbatasan, waktu yang di tempuh nya jadi lama. Tapi, dia tetap semangat berjalan meskipun lelah.


Di tengah perjalanan, ada yang memanggil nya. Kila berbalik badan, dan melihat ada orang yang sedang berjalan ke arah nya.


Orang itu seperti sudah berumur 60 an, dengan keriput di bagian wajahnya, tangan serta kakinya, tubuhnya pun juga menunjukkan bahwa dia sudah tua.


"Iya nek , ada apa ya?" Tanya Kila sopan.


Nenek itu sudah berada di depan nya, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ka-kamu anak nya tamah?" Ucap nenek itu.


Kila yang di bilang anak nya tamah pun bingung..


"Tamah siapa ya nek?"


"Iya tamah, kamu anak nya tamah kan?"


"Bu-bukan nek. Mungkin nenek salah orang." Jawab Kila.


"Enggak kamu anak nya tamah, Kila kan?"


"Iya nenek tau. Karena nenek dulunya pernah ke rumah mu , nenek gak sempet datang buat lihat mamak mu yang terakhir kalinya nak." Ucap nenek itu lirih.


Kila yang baru menyadari kalau yang nenek itu sebut adalah mendiang mamak nya pun langsung menatap nenek itu sendu.


"Gak apa-apa nek, kalau nenek gak bisa datang kemarin itu."


"Iya nak, gadak yang ngabarin nenek, nenek tau nya setelah setengah bulan mamak mu meninggal, itupun dari tetangga-tetangga mu." Terang nenek itu.


Kila tersenyum tipis, "iya nek, wajar nenek gak tau, karena mamak meninggalnya juga tiba-tiba."


"Padahal mamak mu itu baik Lo nak. Mamak mu suka berbagai, gak pelit, ramah. Tapi kok ya takdir cepat sekali membawa nya pergi dari dunia ini." Isak nenek itu.


Kila yang melihatnya pun matanya mulai berembun.


"Kita gak tau nek takdir Allah, mungkin Uda jalannya. Lagipula mamak disana pasti juga uda gak ngerasain sakit lagi." Ujar Kila berusaha menenangkan nenek itu.


Nenek itu mendongak, menatapnya. "Jadi selama kamu disini, ada saudara-saudara mu yang datang memberikan uang jajan atau menjenguk mu nak?" Tanya nenek itu.

__ADS_1


Kila bingung harus menjawab apa, karena memang selama dia disini tidak ada satupun keluarga bapak nya yang menjenguk nya, bahkan memberikan uang jajan pun tidak ada. Bukan Kila mengharapkan uang dari mereka, tapi Kila mengharapkan kedatangan mereka menjenguknya saja sudah lebih dari cukup.


"Tidak ada nek, mungkin bukan tidak ingin menjenguk atau memberi, tapi mungkin mereka juga lagi di keadaan yang susah, jadi untuk memberi mereka juga tidak bisa." Jawab Kila.


Nenek itu tersenyum getir menatap Kila, "kamu memang anak yang baik nak, bahkan kamu menutupi kebenaran nya, demi menjaga nama baik mereka. Sehat selalu nak." Kata nenek itu sambil memeluk Kila.


Nenek itu sebenarnya sudah tau akan semua sifat-sifat saudara bapak nya Kila, makannya nenek itu bisa menjawab bahwa Kila rela menutupi keburukan saudara-saudara bapak nya.


"Makasih nek."


"Iya nak sama-sama, iyaudah nenek mau pulang dulu ya, kamu jaga dirimu baik-baik. Jangan pernah mau ditindas nak, kamu harus kuat seperti mendiang mamak mu dulu." Sahut nenek itu memegang tangan Kila.


Kila yang seperti mendapatkan sebuah semangat pun lantas mengangguk dengan senyum yang terbit dari kedua bibir nya, rasanya dia seperti mendapat semangat dari nenek nya sendiri. Ya, nenek Kila telah berpulang setahun yang lalu, menyusul kakek nya Kila. Kepedihan yang amat mendalam dirasakan nya.


Setelah mengatakan itu, nenek langsung pergi meninggalkan Kila dengan sebuah senyum yang menghiasi wajah nya yang sudah tua dan perlahan mulai menjauh dari tempat Kila berdiri.


Kila memandang langit, ``lihatlah Mak, kebaikan seperti apa yang mamak buat, sampai-sampai banyak sekali orang yang menyayangi mu Mak``. Gumam Kila, tak di sangka air mata menetes di sudut matanya.


Tiba-tiba saku celananya bergetar. Segera dia mengambil ponselnya, terlihat di layar depan, ada notif chat dari bapak nya, banyak sekali. Setelah dia lihat, ternyata sudah jam 14.15. yang artinya Kila sudah hampir telat sampai di acara arisan.


Segera Kila meninggalkan tempat itu dan berjalan perlahan menuju rumah wawak nya yang tinggal separuh jalan lagi.


Dari jauh Kila sudah mendengar orang menyanyi, memang setiap acara arisan pasti yang narik arisan itu bakal menyewa kibot, atau paling tidak membunyikan lespeker dan karaokean.


Kila juga bisa melihat dari kejauhan, rumah wawak nya begitu ramai. Antara ia ingin terus lanjut berjalan kesana atau balik pulang saja. Ia pun tak tahu.


Sampai ada yang memanggil nya..


"Kilaa.. sini kauu ,, ngapai di situ aja jadi patung kau iyaa!"


Itu suara Wulan. Keponakan bapak nya Kila, seharusnya dia memanggil Kila dengan sebutan kakak, tapi karena umur nya lebih tua dan dia sudah menikah, makannya Kila yang memanggil nya kakak.


Kila yang mendengar Wulan teriak pun lantas melihat ke arahnya.


"Heh tuli ato gimana sih kau, siniii." Teriak Wulan lagi.


Dengan langkah gontai Kila berjalan ke arah nya. Rasanya ingin sekali Kila menggamp*r mulutnya yang judes itu.


Sampai di depan nya......

__ADS_1


Bersambung------------...


__ADS_2