
_________
"Wah, bener-bener keterlaluan tuh sih Manda, mentang-mentang bapak nya guru jadi semena-mena dia sama Lo."
" Uda lah lus, biarin aja. Kali ini kita biar kan dia senang. Lain kali kalo dia ngulah lagi, kita balas. Gimana ,oke?"
"Hem iyaudah deh kil iya. Tangan Lo masih sakit kan? Yaudah Lo tunggu didekat gerbang ini aja ya kil, biar gua yang ambil motor nya."
Kila mengangguk, kalo dia protes pasti bakal kenak ceramah panjang kali lebar sama sih Lusi. Tak lama Lusi kembali dengan menaiki motor nya dan berhenti tepat di sebelah Kila. Lalu Kila pun perlahan jalan dan naik ke motor Lusi.
_________
Di tengah jalan tiba-tiba motor yang dikendarai oleh lusi oleng. Mereka pun menepikan motornya. Untuk mengecek apa yang membuat motor itu oleng.
Rupanya setelah dicek, motor yang dikendarai oleh Lusi ban nya bocor. Mau tak mau mereka harus mencari bengkel.
Cukup lama mereka berjalan mencari bengkel disekitar situ. Sampai lah mereka di perempatan, mereka memutuskan untuk duduk sebentar. Seraya mengambil nafas.
"Lus, gimana ini gadak bengkel deket sini." Ujar Kila.
"Aduh iya kil. Mana kaki gua Uda mau gempor lagi ini. Capek banget." Jawab Lusi sambil memegangi betis nya.
Tak lama kemudian, tiba-tiba Lusi melihat dari kejauhan seperti orang yang dia kenal.
"Rayyan." Teriak Lusi. Yang membuat Kila pun sontak kaget dan segera melihat kearah Lusi teriak tadi.
"Rayyan, sinii." Teriak Lusi lagi.
Orang yang di panggil Lusi pun dengan cepat menghampiri mereka. Bahkan sudah berada di depan mereka.
"Lusi, Kila, kalian ngapain di sini? Bukannya pulang sekolah udah dari tadi ya?" Tanya Rayyan.
"Itu dia Rayyan, harusnya kami Uda sampai di rumah dari tadi, tapi karna ban motor ku bocor jadi kami harus mencari bengkel, tapi sampai sekarang gak dapet-dapet. Huh" jawab Lusi sedikit kesal.
"Oh gitu. Aku baru ingat. Di depan sana ada tuh bengkel motor. Kalian bisa kok bawa ke sana motor nya." Usul Rayyan.
"Iya tapi masalah nya kaki aku Uda gak kuat lagi Rayyan buat jalan." Rengek Lusi.
"Iyaudah, biar aku telpon aja tukang bengkel nya, biar mereka yang ambil ke sini."
Rayyan pun menelpon tukang bengkel itu, dan tak berselang lama ada beberapa orang yang datang untuk membawa motor itu untuk di ganti ban nya.
"Sekarang, kalian mau tetap nunggu disini sampai motor nya selesai atau mau pulang?" Tanya Rayyan.
Kila dan Lusi saling pandang. Karna mereka pun bingung mau menjawab apa. Kalau mereka tetap menunggu di sini mereka takut, karna tempat ini begitu sepi sedangkan kalau mereka pulang, mau naik apa?
Rayyan yang tahu kalau mereka berdua sedang bingung pun ingin menawarkan tumpangan.
__ADS_1
"Gimana kalau kalian aku antar pulang?"
Serentak Kila dan Lusi langsung menengok ke arah Rayyan.
"M-maksud kamu boncengan bertiga gitu?" Tanya Kila.
"Ya iya lah , kan motor ku cuman 1. Kalau harus bolak-balik kan lama pastinya."
"Tapi apa kata orang-orang Rayyan kalau kita boncengan bertiga?" Tanya Lusi.
Rayyan terdiam, mendengar pertanyaan Lusi.
Tiba-tiba ponsel Lusi berbunyi..
"Halo."
"Iya halo ma."
"Kamu dimana nak? Dari tadi kok gak pulang-pulang? Mama cari disekolah juga udah enggak ada. Sebenarnya kamu dimana Lusi?" Tanya mama nya Lusi di seberang telpon.
"I-iya ma. Memang harusnya udah pulang, tapi di jalan tiba-tiba ban motor Lusi bocor jadi ya harus di tambal dulu."
"Jadi sekarang kamu ini dimana biar mama jemput."
"Di jalan anggrek bunga ma."
Tut Tut Tut
"Apa kata mama kamu lus?" Tanya Kila.
"Mama aku mau datang ke sini sebentar lagi."
"Oh yaudah, aku bakal tungguin kalian di sini sampai mama nya Lusi datang." Ujar Rayyan.
"Baiklah" jawab Lusi dan Kila serempak.
Kurang lebih 5 menitan mereka menunggu, datanglah mama lusi.
"Jadi ini gimana? Mana motor kamu Lusi?" Tanya mama nya.
"Motor aku Uda di bawa ke bengkel sama Rayyan ma."
"Oh ya sudah. Biar nanti papa saja yang ambil motor kamu ya. Sekarang kita pulang."
"Ma, kita antar Kila dulu ya ma." Pinta Lusi
"Maaf sayang, kita gak bisa antar Kila, karna nenek di rumah sendirian. Bagaimana kalau Kila di antar saja sama Rayyan?" Usul mama lusi.
__ADS_1
Rayyan menatap Kila, dan tanpa sengaja Kila pun menatap Rayyan. Pandangan mereka pun bertemu. Detik berikutnya mereka sama-sama membuang pandangannya.
"Hem ,boleh aja kok Tante." Kata Rayyan.
"Haa,, yaudah. Kila kamu di antar Rayyan saja ya. Maaf banget Tante gak bisa antar kamu, soalnya kasian nenek nya Lusi sendirian di rumah. Kila gak papa kan?"
"Iya Tante gak papa kok. Kila paham. Makasih ya Tante , makasih ya Lusi." Ujar Kila.
"Iyaudah kil, aku sama mama aku pergi dulu ya."
"Assalamualaikum." Ucap Lusi dan mama nya.
"Waalaikumussalam."
Setelah kepergian Lusi dan mama nya. Tinggallah Kila dan Rayyan berdua yang saling diam. Cukup lama mereka diam sampai pada akhirnya Rayyan mengajak Kila pulang , dan di setujui oleh kila dengan anggukan.
Selama di perjalanan tidak ada satupun yang berbicara ataupun memulai pembicaraan.
Sampai lah mereka di depan rumah Kila.
"Terima kasih ya Rayyan. Udah mau nganterin aku pulang. Maaf ngerepotin." Ucap Kila.
"Iya sama-sama kil. Enggak ngerepotin sama sekali kok. Iyaudah, aku pulang ya. Assalamualaikum."
"Iya waalaikumussalam Rayyan."
Setelah nya Rayyan pun pergi, dan menghilang dari pandangan Kila.
"Wah-wah.. udah pulang terlambat, dah gitu diantar sama cowo lagi. Mau jadi apa kau Kila. Jadi cewe kok gatelan kali." Ujar Wulan.
Kila yang kaget pun langsung melihat ke sumber suara itu. Ternyata suara itu adalah suara Wulan. Anak dari bu Nor, adik dari bapak nya Kila.
Sebenarnya Kila enggan untuk menjawab perkataan Wulan, tapi kalau tidak di jawab, Wulan akan lebih parah lagi menghina nya.
"Apa sih kak. Kakak kalo gak tau apa-apa gak usah nuduh kayak gitu." Jawab Kila dengan tegas.
"Sapa juga yang nuduh. Itu Lo tadi Uda ada buktinya. Mau ngelak lagi kau iya? Gak bisa. Bahkan Uda ku poto tadi kalian. Dan bakal ku tunjukin poto itu ke bapak mu, biar bapak mu tau kalo anak nya gatelan."
"Sapa yang gatelan sih kak, tadi itu motor kawan cewe ku bocor ban nya , jadi aku terpaksa numpang sama cowo tadi." Bela Kila.
"Halah. Alasan kau aja nya itu. Ngada-ngada." Sinis Wulan.
"Terserah lah kak."
Kila pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kamar nya rapat-rapat. Dia sudah muak mendengar hinaan yang dilontarkan orang-orang di sekelilingnya. Entah salah apa yang diperbuatnya dia pun tak tahu. Yang dia tahu orang-orang begitu amat benci pada dirinya juga dengan almarhum mamak nya.
Bersambung.....
__ADS_1