
Dengan langkah gontai Kila berjalan ke arah nya. Rasanya ingin sekali Kila menggamp*r mulutnya yang judes itu.
Sampai di depan nya Kila pun menatap nya datar.
"Ada apa? Bisa gak, gak usah teriak-teriak gitu? Aku gak tuli!" Tekan kila.
Wulan tersenyum sinis, "kalo kau gak tuli, kenapa kau gak jawab pas aku manggil hah!" Hardik Wulan.
Kila yang malas meladeni Wulan, lantas pergi meninggalkannya begitu saja. Di tengah ramainya rumah wawak nya itu, Kila berusaha mencari keberadaan bapak nya. Tapi, bukan keberadaan bapak nya yang di temukan melainkan kehadiran ibu tirinya di hadapan nya.
Kila berusaha untuk tenang, walau di hatinya ada segelintir rasa trauma yang disebabkan oleh ibu tiri nya.
"Mau kemana kau?" Tanya ibu tiri.
"Aku mau nyari bapak bu, mana bapak?"
"Gak usah lah kau cari-cari bapak mu, bapak mu pun sebenernya malu punya anak kayak kau."
"Apa maksud ibu?" Tanya Kila tidak paham.
Lalu ibu tiri nya menarik tangan Kila ke samping rumah wawaknya.
Dilepaskannya tangan Kila dengan kasar, Kila pun meringis menahan sakit di pergelangan tangannya.
"Kau jangan merasa Uda tenang karna tidak tinggal lagi dengan ku, karna aku tidak akan pernah puas membuat mu menderita."
Kila menatap nya tajam, "Dan jangan ibu pikir bahwa aku akan diam saja sekarang bila di sakiti, tidak bu." Ucap Kila, yang secara diam-diam mengambil ponsel dari saku celana untuk merekam suara nya dan ibu tirinya.
"Kau masih anak kecil, jadi gak usah sok kuat. Mamak kau aja bisa ku singkirkan, apalagi kau yang gak seberapa ini." Jawab ibu tiri dengan angkuh.
"Ya memang aku sudah tau bu kalau dari awal, ibu lah yang dengan tega membunuh mamak ku." Sahut kila dingin.
Ibu tiri lantas gugup saat Kila berkata seperti itu. Di pikiran nya, darimana dia tau kalau dialah yang telah membunuh mamak nya.
"T-tau darimana kau."
"Jangan ibu pikir aku bodoh bu.Selama ini aku diam tanpa memberitahu bapak, karena aku pikir mungkin aku salah tafsir, rupanya setelah aku mendengar sendiri dari mulut ibu barusan, ternyata penafsiran ku benar adanya."
Ibu tiri tampak kaget apa yang baru saja di bilang oleh Kila, pasalnya, yang dia tau , Kila itu anak yang bodoh dan tidak tau apa-apa.
Ibu tiri tampak diam, berusaha untuk menahan kegelisahan nya..
__ADS_1
"Kenapa ibu diam bu? Jawab! Apa yang uda ibu lakuin sama mamak, obat atau sant*t apa yang telah ibu kirim kan untuk mamak ku bu!" Amuk Kila.
"Heh, kau jangan asal nuduh ya. Aku gak pernah pake-pake sant*t kayak gitu. Kau pikir aku ini musyrik. Anak gak tau di untung kau itu, seharusnya kau itu bersyukur, karena pas mamak mu ninggal kemarin itu, kau ku izinkan tinggal di rumah ku, bukan sebaliknya ,malah menuduh ku kayak gitu. Pikir dulu lah, pikir kan balas budimu sama ku." Jawab ibu tiri seraya berkacak pinggang di hadapan Kila.
Nafas Kila tersenggal-senggal, "baik, ibu tunggu saja, ketika aku sukses nantik, akan kau bayar budimu itu bu." Jawab Kila.
Ibu tiri tampak tersenyum mengejek, "hah, mau kau bayar pake apa hah! Pake daon. Uang jajan masih minta bapak mu aja berlagak kau mau bayar sama ku. Mimpi kau itu!" Cecar ibu tiri.
Setelah mengatakan itu, ibu tiri pergi begitu saja meninggalkan Kila.
Sekarang untuk Kila tidak ada lagi air mata yang akan menetes cuman gara-gara di hina seperti itu. Dia akan berusaha membuktikan kepada seluruh dunia, bahwa meskipun dia berketerbatasan, tapi dia yakin , dia bisa menaklukkan dunia.
********
"Hai ma." Sapa Lusi ke mama nya yang sedang duduk di teras belakang rumah.
"Eh, hai juga sayang. Ada apa? Tumben anak mama kesini, biasa di kamar Mulu ngedrakor?"
Lusi memperlihatkan deretan gigi-giginya, "mau nya sih gitu ma, tapi aku kepikiran sama Kila."
Mama nya Lusi yang tadinya lagi serius melihat ponsel, kini berhenti dan menatap Lusi anak nya.
"Memangnya kenapa Kila ,sayang?"
"Iya terus kenapa? Bagus dong, jadi Kila bisa berkumpul kan sama keluarganya?"
"Aduh mama, keluarga bapak nya Kila itu rata-rata pada jahat ma. Apalagi ini ada ibu tiri nya. Sudah deh. Di tambah gara-gara yang Kila di antar pulang sama Rayyan, itu jadi masalah terbesar ma buat Kila."
Mama nya Lusi pun terdiam, "jadi apa yang kamu mau sayang?"
"Kita susulin aja yok ma ke acara arisan nya tiba-tiba perasaan ku gak enak."
"Iyaudah ayok, kita kesana. Apa sih yang gak buat anak kesayangan mama ini." Ucap mama Lusi sambil menjawil hidungnya lusi.
Kemudian mereka memasuki kamar masing-masing, bersiap-siap, setelah siap mereka pun segera meluncur ke rumah Kila.
-------------------------
Tampak bu Mila berjalan menghampiri ibu tiri, Wak Laksmi dan Wulan.
"Eeh mil, kau darimana aja. Uda ditungguin juga" ucap ibu tiri.
__ADS_1
"Iya yuk. Tadi aku mampir dulu ke warung ,biasa anak ku minta jajan. Kalo gak di beliin rewel nanti."
Ibu tiri mengangguk dengan mulutnya membentuk seperti huruf O.
"Eh Wak, jadi nanti kita permalukan Kila di depan saudara yang lain?" Tanya Wulan.
"Iya jadi dong. Wawak pun Uda gedeq kok."sahut Wak Laksmi.
"Tadi aku uda marahi sih Kila duluan Lo, ahaha." Kata ibu tiri.
Sontak Wak Laksmi, Wulan, dan bu Mila menoleh ke arah nya..
"Loh kok bisa Wak?" Tanya bu Mila.
"Iya kok bisa Wak. Terus wawak apain dia?" Tanya Wulan.
"Ya jelas di gas lah kok yang eneng-eneng wae kau lan." Sungut Wak Laksmi.
Sedangkan ibu tiri hanya memperhatikan mereka saja, tanpa berani menjawab pertanyaan yang dilontarkan untuk nya tadi. Dia malu kalau harus menjawab bahwa Kila sudah berani menjawab apa katanya. Tidak seperti dulu lagi, yang ketika di tindas , dia diam.
**********
Tepat pukul 15.00 , acara dimulai. Dari makan-makan, menyanyi dan masih banyak lagi. Kila juga sudah berhasil menemukan bapak nya, dan kini dia duduk disampingnya.
Ada rasa bahagia yang Kila rasakan, karena sudah lama sekali dia tidak duduk berdua bersama bapak nya, apalagi semenjak dirinya tinggal bersama bu Mila, bapak nya juga jadi jarang datang.
Acara yang ditunggu-tunggu pun akhirnya dimulai, yaitu pengocokan nama, yang setiap nama ditulis di kertas kecil lalu dimasukkan ke dalam botol, lalu di kocok, dan nama yang keluar itulah yang akan menarik arisan berikut nya.
Dan saat 1 kertas keluar, nama yang tertulis itu adalah nama Wak Laksmi.
Betapa senang nya Wak Laksmi, sampai-sampai suaranya sendiri yang paling besar.
"Yehh,, aku yang narik bulan depan." Girang Wak Laksmi.
Sontak semua yang ada disitu bertepuk tangan, Kila yang menyaksikan itu pun terheran-heran. Pasalnya mereka seperti emak-emak rempong.
Seharusnya Kila tidak ada di sini, karena dia masih muda sedangkan acara arisan ini rata-rata emak-emak semua.
"Tapi aku tak mau nanti di acara ku sih anak ini datang....
"Loh,, dia kegatelan....
__ADS_1
Bersambung..-----------