ketika sabar ku membuat ku sukses

ketika sabar ku membuat ku sukses
part 2- selalu salah


__ADS_3

"Mak, sudah lah kasian Kila kalau harus terus menerus bekerja." Iba kak Amel.


"Tidak bisa Amel. Dia harus bisa ku buat menderita tinggal bersama ku. Ini belum seberapa dengan luka yang ada di hatiku." Ketus ibu seraya pergi begitu saja meninggalkan kak Amel.


****


Huff akhirnya semua pekerjaan telah selesai. Dan sekarang juga sudah pukul 18.40 yang artinya sebentar lagi magrib.


Selesai magrib, kami 1 keluarga makan di meja makan. Iya meskipun kecil, tapi cukup nyaman untuk di buat makan.


"Kila, nanti jangan lupa untuk bereskan semua ini dan jangan lupa cuci piring nya." Ujar ibu dengan pandangan yang masih terfokus ke piring nya.


"Apa tidak bisa besok saja mencuci piring nya dek? Ini sudah malam, Kila harus belajar."ucap bapak sembari memperhatikan ibu


"Tidak bisa mas! Mau jadi apa dia, kalau habis makan main ditinggalkan saja tanpa dicucinya. Anak itu jangan dimanja mas."jawab ibu sinis.


Bapak tidak bisa lagi membantah ucapan ibu. Karena dari sorot mata nya begitu tajam.


Setelah selesai makan,aku pun membereskan meja juga sekalian mencuci piring. Tapi tanpa ku sengaja tiba-tiba...


Prangg!!


Astaghfirullah!


"Heh,dasar anak gak tau diri kamu itu. Saya suruh kamu mencuci piring bukannya memecahkan nya."


"Ampun bu, aku tidak sengaja. Tadi aku terpeleset bu."


"Halah, banyak pembelaan kamu itu. Awas kamu ya! Sini kamu ikut saya!" Marah ibu sembari menarik tangan ku.


"Ampun bu, jangan bu."


Ibu menyeret ku ke dalam kamar. Dan menghempaskan tubuhku dengan keras.


"Kamu itu harus nya sadar diri! Kamu itu cuman numpang disini. Kamu harus saya beri pelajaran dulu seperti nya agar kamu kapok!"

__ADS_1


Plakk


Buggh


Buggh


Setelah puas memukuli ku,ibu pergi begitu saja tanpa mempedulikan keadaan ku. Sakit! Sudah tadi aku jatuh, ditambah lagi dengan pukulan-pukulan dari ibu, serasa badan ku ini mau remuk. Aku tak kuasa lagi menahan air mata ini , "Mak, aku kangen." Kata-kata itu lah yang meluncur dari bibir ku.


**********


Keesokan paginya ,tanpa sarapan dari rumah aku sudah berangkat ke sekolah.


Di tengah-tengah jam pelajaran, datang seorang guru. Beliau meminta kepada guru yang mengajar kami untuk memilih salah satu dari siswa nya untuk diikutkan dalam lomba MTQ tingkat kecamatan dan aku lah yang terpilih.


"Buk, ngapai sih, pakai sih Kila segala yang dipilih. Nesa kan juga bisa kali buk." Usul sela dengan sinis.


"Iya buk. Sih Bunga juga ada. Lebih bagus lah buk mereka 2 daripada sih Kila. Entar yang ada kalah lagi bukannya menang!" Sinis Manda.


"Sudah-sudah, kenapa kalian ribut? Kila, apa kamu mau nak untuk ikut lomba MTQ?." Ujar bu Delia penuh harap.


Aku bimbang. Tapi dengan yakin aku pun menjawab, "m-m-maaf bu, Kila tidak bisa ikut lomba nya. Lebih baik Nesa sama Bunga saja." Jawab ku penuh hati-hati.


"Haa, gitu dong buk. Itu baru keputusan yang tepat." Ucap Manda dengan bangga, karena pada akhirnya pendapat nya lah yang terpilih.


Setelah bu Delia berkata demikian, pelajaran pun di lanjutkan kembali. Sampai bel berbunyi pertanda jam pulang sekolah.


******


Baru saja hendak membuka pintu, dari dalam rumah aku sudah mendengar suara orang yang sedang berbicara.


"Kok bisa sih mbak yu mau nampung anak pincang itu di rumah ini?"


"Iya bener mbak yu. Kalau saya jadi mbak yu, uh udah saya usir dia tuh."


"Husstt jangan keras-keras. Saya gak mau sampai bapak nya dia tahu kalau saya memperlakukan anak nya gak baik di rumah ini. Iya disaat ada bapak nya, dia gak saya perlakuan dengan kasar. Tapi , disaat gak ada bapak nya maka akan saya hajar dia sampai saya puas.

__ADS_1


Saya gak akan pernah tenang kalau tidak buat dia menderita tinggal bersama ku. Kalau bisa tiap hari akan saya buat dia merasakan hidup seperti di neraka. Gara-gara mamak dia, saya di madu. Saya gak terima. Sekarang mamak nya sudah meninggal, jadi dendam saya akan saya balaskan pada anak nya . Akan saya buat menderita." Jawab ibu.


Bagai ditusuk ribuan anak panah. Sungguh aku tak menyangka bahwa ada begitu besar dendam yang sedang dipendam oleh ibu tiri ku pada almarhum mamak.


Padahal jika aku ingat dulu, kami hidup tidak lah begitu mewah. Rumah yang kami tempati pun bahkan jika dibandingkan dengan rumah ibu tiri ku, masih megahan rumah nya.


Tidak. Aku tidak boleh menangis. Aku anak perempuan pertama. Aku tidak boleh terus-menerus menjadi anak cengeng. Aku harus buktikan kalau aku bisa sukses.


••°°•••°°°•••°°°


Malam hari nya, aku lagi asik duduk berdua bersama bapak sambil melihat bintang-bintang.


"Pak,kapan sih habis masa kontraknya yang tinggal di rumah almarhum mamak?" Tanyaku semangat.


"Tahun depan kak. Kenapa memang nya?" Jawab bapak sambil kedua alisnya menyatu..


"Ah tidak pak, kakak hanya berpikir kalau sudah habis masa kontraknya lebih bagus kakak aja yang tinggal disitu."


"Loh, emang kakak gak betah tinggal sama bapak?"


"Bukan gak betah pak. Kakak merasa lebih nyaman aj tinggal di sana, karena kan sedari kecil disitu." Ucapku meyakinkan bapak


"Iya sudah, nanti kalau jatuh tempo nya sudah habis, kakak pindah kesana ya."


"Beneran pak?" Tanyaku memastikan.


Bapak mengangguk dengan senyum tulus yang terukir di bibirnya, " iya bener."


Tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi ,aku langsung memeluk bapak. Amat bahagia, karena apa yang aku ucapkan, bapak pun menyetujui nya. Ah bapak, aku tau engkau takkan pernah membuat anak mu kecewa.


*****


*******


Pagi harinya aku bangun lebih awal , karena aku tidak mau sampai-sampai, harus membuat ibu marah kalau aku bangun kesiangan. Pekerjaan yang bisa aku lakukan,maka akan aku lakukan.

__ADS_1


Bapak bahkan sudah lebih dulu pergi untuk mencari rumput. Bapak mempunyai beberapa ekor sapi. Tidak banyak tapi kalau dipelihara maka pasti akan bertambah banyak. Oleh sebab itu, setiap bapak pulang kerja pasti langsung mencari rumput, kecuali di hari Minggu .


Huff, tetap semangat ya pak. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, jika aku sukses kelak, maka bapak tidak perlu repot-repot untuk bekerja lagi. Bapak akan menikmati masa tua dengan tenang. Tunggu anak mu ini sukses pak.


__ADS_2