
POV ibu tiri.
Flashback off
Tak pernah ku bayangkan sebelumnya, bahwa pernikahan ku akan berakhir seperti ini.
Namaku adalah Sukarseh binti Arman. Aku adalah seorang istri juga sekaligus seorang ibu. Meskipun anak yang saat ini bersama ku bukan lah hasil darah daging ku, tapi aku sungguh menyayangi nya bahkan separuh hidupku adalah untuk nya, Amelia Azahra. Awal kedatangan Amel membuat keluarga kami bahagia, karena ada tawa dan tangis anak bayi di rumah. Aku kira dengan adanya Amel , semua akan baik-baik saja.
Tetapi aku salah. Kepercayaan ku perlahan mulai hilang dengan sikap suami ku akhiri-akhir ini. Lebih tepat nya saat dia mengatakan kalau dia ingin berpoligami demi untuk mendapatkan keturunan. Hatiku hancur. Walaupun diperbolehkan dalam Islam. Tapi istri mana yang mau di madu ?
"Mas hanya ingin punya anak kandung, darah daging mas sendiri. Biar kelak di masa tua , kita ada yang merawat dek." Ucapnya meyakinkan.
"Kenapa mas harus menikah lagi , kalau mas mau punya anak, kita juga punya Amel mas. Amel kan juga anak kita. Meskipun bukan darah daging kita. Tapi kita sudah merawatnya sedari bayi. Apa karena aku tidak bisa punya anak mas , makannya kamu mau menikah lagi, iya?" Jawabku dengan nafas yang memburu.
"Tidak dek, tidak begitu maksud mas."
"Jadi apa maksud mu mas?" Tanyaku kembali.
"Mas, akan tetap menikah dek. Mas akan adil."
"Tidak mas. Aku tidak ingin dimadu." Jawabku.
Dia menghembuskan nafasnya perlahan, lalu menjawab. " Baiklah dek, kalau kamu tidak mau di madu. Kamu berarti memilih untuk bercerai." Sehabis mengucapkan kata-kata itu, dia bangkit dan menuju ke arah pintu , tapi belum sampai ke depan pintu aku memanggilnya dan berkata bahwa aku siap di madu.
"Oke kalau keinginan mu mau menikah lagi, aku terima. Aku terima dimadu mas. Tapi berjanjilah untuk berlaku adil. Karena aku lah yang menemani mu dari nol." Ucapku. Lalu pergi meninggalkannya sendirian.
Aku memang sengaja menerima dia untuk berpoligami. Karena aku mau lihat seberapa tangguh wanita yang akan dinikahinya itu. Karena aku tidak akan membiarkan wanita itu hidup dengan bahagia.
****
3 Minggu kemudian, acara pesta pernikahan suamiku dan istri kedua nya diadakan, meskipun sederhana tapi kedua mertua ku tampak nya bahagia. Terlihat saat mereka berfoto bersama.
"Dek, mas mohon, agar kamu hadir dalam acara pernikahan mas ya?"
'apa-apaan dia. Setelah dengan gampangnya dia meminta kepada ku untuk berpoligami. Sekarang dia meminta ku untuk hadir ke acara pernikahan nya. Gi-la . Sungguh dia gila.!' batin ku.
__ADS_1
"Tidak mas. Kalau kamu ingin menikah,maka menikah lah. Tidak usah turut mengajak ku ke acara mu yang tidak penting itu." Jawab ku ketus.
"Dek ,mas mohon. Agar semua orang tidak mengira bahwa mas menikah lagi tanpa seizin mu." Ucap nya lembut seraya memegang kedua tangan ku.
Aku bahkan sudah muak mendengar suara nya. "Sudah lah mas. Sudah aku perbolehkan kamu untuk menikah lagi. Lantas sekarang kamu menyuruh ku untuk datang ke acara mu itu. Dimana hatimu mas. Tak sedikitpun kamu merasakan sakit hatiku mas ?" Kataku dengan tatapan tajam.
Dia menghela nafas pelan. "Baiklah dek. Maaf kan mas ,karena mas memaksa mu. Maaf kan mas dek , Karena mas tidak memikirkan perasaan mu. Baiklah tidak apa-apa kamu tidak mau hadir. Terima kasih dek, terima kasih telah mengizinkan mas untuk menikah lagi."
Dia berusaha untuk memeluk ku tapi tak sempat, karena aku dengan segara menghindar.
'Ini bukan awal kebahagiaan mu mas. Aku memang masih sangat menyayangi mu tapi aku akan membuang pelakor itu jauh-jauh dari hidupmu.' batin ku.
*******
Flashback on
Semenjak meninggal nya sih pelakor itu, anak nya yang pincang turut dibawa oleh suamiku ke rumah ku.
Sebenarnya aku ingin menolaknya, tapi setelah ku pikir-pikir, ada baiknya juga anak pincang itu di sini , karena dengan adanya dia aku bisa membalas kan dendam ku yang belum selesai kepada mamak nya.
Awal kedatangannya, ku sambut dia dengan baik di rumah ini. Tapi semakin hari dia mulai melihat jadi diriku sebenarnya. Semakin hari juga dia merasakan penyiksaan dariku.
Ingin rasanya ku habisi nyawa nya. Tapi tidak semudah itu karena aku ingin dia mati dengan perlahan-lahan.
Tapi sebelum aku menyiksanya lebih jauh.
Aku sudah ketahuan duluan oleh suamiku, bahwa aku sedang menyiksa anak nya.
Brakk
"m-m-mas? Ka..ka..kamu udah pulang?" Ucap ku sambil berupaya menyembunyikan kegugupan ku.
"Iya. Aku udah pulang. Dan apa yang kamu lakukan pada anak ku hah?" Jawabnya dengan dada yang naik turun.
Aku diam saja. Karena, aku lagi memikirkan alasan apa yang tepat untuk mengelak dari amukan nya.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan ini mas? Aku bahkan tidak melakukan apapun pada anak mu. Aku hanya menyuruh nya untuk belajar karena besok sekolah." Ujar ku berupaya untuk tenang.
"Tidak usah banyak alasan lagi Sukarseh binti Arman. Aku bahkan sudah mendengar semua yang kamu katakan." Jawab nya dengan lantang.
Aku yang mendengar nya dibuat seolah-olah membeku. Tidak pernah dia berkata selantang itu kepada ku. Tapi kini ? Cuman gara-gara anak pincang ini, dia sampai-sampai berani membentak ku seperti itu.
Akan ku pastikan anak itu menderita di tangan ku.
Esok harinya, aku sudah melihat suamiku beserta anak pincang nya itu sedang berkemas. Ternyata dia tidak main-main dengan apa yang diucapkannya tadi malam.
******
Setelah kepergian anak pincang itu dari rumah ini, aku sudah tidak bisa memberinya siksaan.
Sampai suatu malam, aku dan suamiku menghadiri acara pernikahan teman suamiku. Dan sebelum pulang ,kami sempat kan untuk menghampiri adik suamiku yang telah ditinggal mati oleh suami nya.
Saat sedang asik berbincang-bincang dengan adik suamiku. Tiba-tiba saja dia bercerita tentang anak dari suami ku.
"Wak , mau tau gak ?"
"Mau lah. Apa itu kira-kira?" Jawab ku antusias.
"Itu loh , tadi siang anak tiri wawak kedatangan tamu laki-laki."
Aku terkesiap mendengar nya. 'kurang ajar. Di rumah ku dia sok-sok diem, tapi disini dia sok keras.' ucap ku dalam hati.
"Laki-laki sapa mil? Cowo nya atau temen nya ?" Tanyaku.
"Ya kalau itu aku kurang tau Wak. Tapi katanya sih temen nya."
Mendengar nya sudah membuat emosi ku meluap. Bagaimana tidak. Dia sudah pincang tapi berlaga ada laki-laki yang mau sama dia. 'Cih! Mimpi dia'.
Tak berselang lama kami bercerita tentang nya, suami ku tiba-tiba menghampiri ku dan mengajak ku untuk pulang, karena sudah larut malam.
Tapi, sebelum aku pulang. Tanpa sepengetahuan suamiku, aku menghampiri kamar anak nya itu dan dengan ketus kuberikan hinaan untuk nya.
__ADS_1
Puas rasanya bisa memarahi nya dan menghina-hina nya.
bersambung....