ketika sabar ku membuat ku sukses

ketika sabar ku membuat ku sukses
part 6- muka dua


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan suamiku, aku menghampiri kamar anak nya itu dan dengan senang hati kuberikan hinaan untuk nya.


Puas rasanya bisa memarahi nya dan menghina-hina nya.


**********


Flashback on author


Kejadian malam itu, saat dimana aku dimarahi ibu tiri ku sungguh membuat luka yang teramat bagiku. Pasalnya apa sebegitu hina nya aku sampai-sampai tidak boleh berteman dengan laki-laki.


Tapi, sekarang yang aku pikirkan adalah bukan tentang berteman saja melainkan juga untuk meraih mimpi ku.


Keesokan paginya aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Seperti biasa sebelum aku berangkat aku menyempatkan untuk beberes rumah sebentar lalu menunggu teman perempuan ku untuk menjemput.


"Kil." Panggil bu Mila.


"Iya bu. Kenapa?" Tanyaku


"Apa yang dibilang tadi malam sama ibu tiri mu jangan didengerin ya. Itu cuman kelepasan aja."


"Oh itu ,iya bu gak apa. Aku juga udah biasa ngadepin sikap ibu kayak gitu." Jawab ku, "iyaudah ya bu ,Kila berangkat dulu ,itu temen udah jemput didepan. Assalamualaikum." Sambung ku.


"Iya waalaikumussalam."


Hanya menempuh waktu 20 menit ,aku sudah sampai di sekolah.


Hari itu entah mengapa bagiku adalah hari yang sejuk juga damai.


Baru aja tadi aku bilang damai, eh sudah ada yang mau membuat ulah buat ku di pagi hari.


"Manda ,bisa minggir gak. Itu kan kursi ku, lantas kenapa kamu yang dudukin?" Tanyaku terheran-heran, sedangkan yang merasa duduk di kursi ku malah tampak tidak perduli apa yang sedang ku ucapkan.


"Eh Manda , Lo t*li ato gimana sih! Ini tuh kursi nya Kila. Kursi lo tu kan ada ,tuh di sana tuh!" Ketus Lusi dengan menunjukkan jari telunjuk nya ke arah bangku sebrang sana.


Tapi lagi dan lagi , Manda seolah-olah tak mendengar apa yang aku dan Lusi ucapkan.


"Wah bener-bener ni anak. Buat emosi ku naik aja kil pagi-pagi." Marah Lusi.


Manda bangkit dari duduknya, berjalan pelan ke arah Lusi dan

__ADS_1


Brakk


Meja di pukul sama Manda, "heh ,Uda? Uda puas Lo ngomong nya? Asal Lo tau ya , bokap gua itu guru disini, jadi ya suka-suka gua dong mau duduk dimana. Kalo Lo gak suka pergi aja sih dari sekolah ini. Lagian ya sekolah ini tuh gak pantes buat temen Lo yang pincang itu. Seharusnya temen Lo itu di masukin ke SLB." Jawab Manda , diiringi gelak tawa nya dan teman-teman nya.


"Ehh elo tuh.....", Belum sempat Lusi jawab kata-kata Manda, aku segera menarik tangan nya dan membawa nya keluar kelas.


"Apaan sih kil. Lo itu tadi lagi dih*na. Lagi dipermalukan sama mereka. Gua gak bisa tinggal diem gitu aja ngeliat temen gua di ejek terus-terusan." Marah Lusi.


"Iya lus ,aku paham kamu berniat untuk membela ku. Tapi buat apa lus kamu ngabis-ngabisin suaramu cuman buat menjawab ucapan mereka yang bagiku gak penting. Dengar ya lus, gak kek gitu caranya balas semua perbuatan mereka. Cara kayak gitu terlalu nor*k. Lebih baik kita balas dengan cara yang tepat. Kita sukseskan diri kita dulu baru kita bisa balas semua perkataan orang-orang yang selalu menghina kita." Kataku menenangkan nya.


Lusi tampak nya mulai berpikir terlihat sekali saat kening nya berkerut dan jari telunjuk nya mengarah ke bibir nya. Uhh! Rasanya ingin ku unyel-unyel , sangking gemes nya. Ehh! Gak boleh, yang ada entar aku di timpuk. Haha!


∆∆∆∆


Waktu pulang sekolah telah tiba, dan aku sudah berada di depan pintu rumah bu Mila. Tapi dari arah dalam rumah aku seperti mendengar suara orang yang sedang berbicara, ya aku tau itu suara siapa, itu suara bu Mila dengan Wak Ajeng. Awalnya aku ingin segera membuka pintu tapi, sebelum aku membuka nya aku mendengar nama ku disebut dalam pembicaraan mereka.


"Mil, itu sih Kila kalo di rumah mu ngapai aja ?" Tanya Wak Ajeng.


"Oh ,,dia ya gitu. Gadak bantuin apa-apa. Yang ada macem ratu lah Wak." Ucap bu Mila.


"Loh ,tapi tiap pagi tak tengok dia nyapu halaman mu mil?" Tanya nya.


Degg


Jantung ku berdegup kencang mendengar jawaban bu Mila. Aku merasa tak percaya apa yang aku dengar barusan. Bu Mila yang aku pikir baik selama ini , tapi ternyata dia malah menjelek-jelekkan aku dibelakang ku. Bahkan semua yang di bilang nya adalah kebohongan.


Aku bahkan mencuci baju ku sendiri, mengangkat jemuran ku sendiri, bahkan membantunya mencuci piring, menyapu lantai, tapi mengapa bu Mila berkata bohong seperti itu.


Memang aku akui , dikala aku mengerjakan semua pekerjaan itu , bu Mila tak pernah melihatnya. Tapi bukankah bu Mila paham? Ah sudah lah. Memang seperti itu kalau tinggal di rumah orang. Berbuat baik pun kita , akan tetap salah dimata yang punya rumah.


"Assalamualaikum." Ucap ku seraya masuk kedalam rumah. Aku sudah tak mau menguping lagi. Karena, aku sudah tau bagaimana sifat bu Mila.


"Waalaikumussalam." Jawab bu Mila dan Wak Ajeng berbarengan.


"Loh, Kila Uda pulang?" Tanya Wak Ajeng.


"Udah Wak. Barusan aja." Ucapku berbohong, "Kila masuk kamar dulu ya Wak, bu,." Kataku.


"Oh iya iya. Istirahat lah."

__ADS_1


Sampai di kamar, ku hempas kan badan ini ke kasur. Rasanya lelah. Lelah menjalani kehidupan ini, apalagi sudah tidak ada sosok mamak yang selalu menguatkan ku. Huff!


Entah berapa lama aku tertidur, saat terbangun aku melihat jam ternyata sudah jam 16.00 wib. Dan ada beberapa pesan beruntun dari Lusi.


[P]


[Kil, kok Lo gak online sih!]


[Gua ada ide tau kil.]


[Yaelah pasti molor ni anak!]


[Yaudah,ntar kalo Lo Uda bangun jangan lupa telpon gua ya kilaa.]


Dan masih banyak lagi isi pesan yang dikirim Lusi. Aku pun yang kepo dengan ide dia langsung saja ku pencet tombol gagang hijau itu.


Berdering!


"Halo!" Ujar Lusi di sebrang telepon


"Iya,halo lus. Ada apa tadi kamu ngechat aku beruntun gitu?" Tanyaku.


"Hehe iya kil. Ini nih, gua ada ide tau!" Jawab nya


"Ide apaan."


"Gimana kalo kita jualan di sekolah."


Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapan yang baru saja Lusi bilang, "iya boleh, tapi pasalnya kita mau jualan apa lus?" Tanyaku lagi.


"Ahaha itu mah rahasia. Dah besok di sekolah gua kasih tau sama Lo apa yang bakal kita jual. Di jamin deh laku." Seru Lusi


"Hem oke lah lus. Aku ikut kamu aja , asal gak yang aneh-aneh ya."


"Santai kil. Iyaudah gua tutup dulu ya telpon nya. Babay Kila."


"Iya bay."


Tut.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2