ketika sabar ku membuat ku sukses

ketika sabar ku membuat ku sukses
part 3- kenyataan pahit


__ADS_3

POV bapak.


Flashback off


"Dek, aku mau ngomong sama kamu." Kata ku,lalu duduk di sebelah nya.


"Mau ngomong apa sih mas. Ya mbok ngomong wae." Jawabnya santai.


"Em-em anu dek."


Aku gugup. Antara takut dan buat dia kecewa.


"Apa sih mas. Kok anu-anu segala."


"Mas mau menikah lagi dek." Ucap ku dengan mantap.


Kemudian aku melirik ke arah nya, terlihat dia mematikan tv dan melemparkan remote nya sembarang arah.


"Apa kamu bilang mas? Kamu mau menikah lagi? Apa salah aku mas?" Teriak istriku.


"Kamu gak salah apa-apa dek. Mas hanya ingin punya anak kandung, darah daging mas sendiri. Biar kelak di masa tua , kita ada yang merawat dek." kataku meyakinkan nya.


"Kenapa mas harus menikah lagi , kalau mas mau punya anak, kita juga punya Amel mas. Amel kan juga anak kita. Meskipun bukan darah daging kita. Tapi kita sudah merawatnya sedari bayi. Apa karena aku tidak bisa punya anak mas , makannya kamu mau menikah lagi, iya?" Jawab nya dengan nafas yang memburu.


"Tidak dek, tidak begitu maksud mas."


Tuh kan , pasti bakalan jadi salah paham begini,batin ku dalam hati.


"Jadi apa maksud mu mas?" Tanya nya kembali.


"Mas, akan tetap menikah dek. Mas akan adil." Jawab ku.


"Tidak mas. Aku tidak ingin dimadu." Katanya.

__ADS_1


Aku menghembuskan nafas perlahan, lalu aku pun menjawab. " Baiklah dek, kalau kamu tidak mau di madu. Kamu berarti memilih untuk bercerai." Sehabis mengucapkan kata-kata itu aku bangkit dan menuju ke arah pintu , tapi belum sampai ke depan pintu dia sudah berkata lagi.


"Tunggu mas , oke kalau keinginan mu mau menikah lagi, aku terima. Aku terima dimadu. Tapi berjanjilah untuk berlaku adil. Karena aku lah yang menemani mu dari nol." Ujar nya .


Aku tersenyum, lega rasanya setelah mendengar keputusannya, bahwa dia ingin dimadu.


Karena bagaimanapun, lelaki mana yang tak ingin mempunyai keturunan. Lelaki mana yang tidak ingin mempunyai anak dari darah dagingnya sendiri.


Sejujurnya aku tidak ada niatan untuk menceraikan nya. Meskipun dia tidak bisa memberikan ku keturunan, di akibatkan oleh penyakit kista nya, tapi aku sayang padanya.


********


Flashback on


Setelah selesai makan malam, aku memilih keluar rumah sebentar untuk membeli rokok. Tapi setibanya aku di rumah bukannya ketenangan yang aku dapat, melainkan suara bentakan dan suara permohonan ampun yang terdengar di telingaku.


Prangg!!


"Heh,dasar anak gak tau diri kamu itu. Saya suruh kamu mencuci piring bukannya memecahkan nya ,kamu tau gak ,piring itu lebih berharga daripada kamu ."


"Halah, banyak pembelaan kamu itu. Awas kamu ya! Sini kamu ikut saya!" Marah ibu sembari menarik tangan ku.


"Ampun bu, jangan bu."


Tidak salah lagi. Itu adalah suara istri ku dan suara anak ku. Ada apa ini ? Kenapa anak ku sampai di bentak-bentak. Aku menyelinap masuk ke dalam rumah. Diam-diam aku mendengarkan semua yang di bicarakan istriku.


Betapa murka nya aku. Gara-gara satu piring saja yang pecah ,dia sampai memukuli anak ku. Bahkan sampai dia telah selesai memukuli nya ,dia tinggalkan begitu saja tanpa sedikitpun menyadari kesalahannya. Aku marah! Jelas aku marah.


Aku saja bapak nya tidak pernah memukuli anak ku. Tapi tidak, aku tidak boleh gegabah. Aku harus tenang dan harus memikirkan jalan yang terbaik untuk membawa anak ku pergi dari sini.


*****


Beberapa hari setelah itu, saat mau berangkat bekerja, aku memberitahu kepada istriku bahwa aku akan pulang terlambat, kemungkinan malam.

__ADS_1


Malam hari nya , aku sengaja mematikan mesin motor ku dari jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah. Lalu ku dorong.


Sesampainya di depan rumah. Aku mengendap-endap masuk dari pintu belakang. Karena berhubung kamar anak ku, Kila, dekat dengan dapur.


Baru saja aku menutup pintu, sudah terdengar suara keras, seperti suara tamparan. Hatiku berdegup kencang. Nafasku memburu. Apa jangan-jangan suara tamparan itu....


"Kamu, jangan pernah bermimpi akan tinggal di rumah ini dengan tenang. Cukup sadar diri kamu itu cuman numpang disini. Kalau gak karena bapak mu aja udah saya usir kamu. Kamu itu harusnya malu, kamu itu anak dari pelakor ditambah lagi kamu itu pincang. Gak akan ada laki-laki yang mau sama kamu. Seharusnya kamu itu ikut aja ke alam baka bersama mamak mu yang pelakor itu. Cih!"


Hatiku panas, hatiku terbakar disaat aku mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut istriku. Aku bahkan sudah tidak bisa menahan emosi ku lagi sampai pada akhirnya..


Brakk


"m-m-mas? Ka..ka..kamu udah pulang?" Ucap istriku sambil berupaya menyembunyikan keterkejutannya.


"Iya. Aku udah pulang. Dan apa yang kamu lakukan pada anak ku hah?" Jawab ku dengan dada yang naik turun.


Dia diam saja. Mungkin lagi memikirkan alasan apa yang tepat untuk mengelak dari amukan ku.


"Apa yang kamu katakan ini mas? Aku bahkan tidak melakukan apapun pada anak mu. Aku hanya menyuruh nya untuk belajar karena besok sekolah." Ujar nya berupaya untuk tenang.


"Tidak usah banyak alasan lagi Sukarseh binti Arman. Aku bahkan sudah mendengar semua yang kamu katakan." Jawab ku dengan emosi yang meluap-luap, enak saja dia mau membohongi ku.


Dia terkejut ketika aku menyebut nama nya secara lengkap. Dia pasti paham bahwa aku saat ini sedang benar-benar emosi.


"Pak, ada apa ini pak? Kenapa bapak memarahi mamak ?" Ucap Amel yang datang dengan tergopoh-gopoh.


Aku mencoba mengatur nafas ku . Sebisa mungkin aku harus meredam amarah ini. Aku tidak mau membuat anak-anak ku trauma akibat pertengkaran kedua orang tua nya.


"Sudah, kalian tidur lah. Dan kamu dek, kamu bilang ,Kila cuman numpang kan di rumah ini? Baiklah mulai besok, Kila ikut bapak untuk pindah rumah." Setelah mengucapkan kata-kata itu aku pun keluar dari kamar.


Pikiran ku benar-benar kalut. Bahkan untuk menatap mata anak ku tadi , aku tidak sanggup. Dengan keadaan pipi nya yang memerah sehabis ditampar, juga rambutnya yang berantakan, dan sudah ku yakin dia pasti habis di jambak.


"Nak , sebegitu tersiksa nya kamu tinggal disini? Kenapa tidak pernah kau ceritakan ini semua kepada bapak nak? Kenapa kau menanggung semua beban ini sendirian nak?" batin ku.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2