ketika sabar ku membuat ku sukses

ketika sabar ku membuat ku sukses
part 4- sebuah hinaan


__ADS_3

POV author


Setelah kejadian malam itu, esok hari nya bapak benar-benar membawa ku pergi untuk pindah dari rumah ibu. Bahkan bapak sendiri yang membantu ku untuk membereskan semua pakaianku.


Disaat kami mau berangkat pun ,ibu sama sekali tidak mencegah. Bisa kulihat raut wajah ibu tersenyum sinis ke arah ku.


Tiba-tiba ada rasa haru yang menyeruak di dalam hatiku. Bapak membela ku, dan membawa ku pergi dari rumah penyiksaan ini.


"Pak, bapak mau bawa kakak tinggal dimana?". Tanyaku saat kami berada di perjalanan.


"Kakak tinggal sama bu Mila ya? Kan bu Mila udah gak punya suami lagi , jadi kan kakak gak perlu sungkan karena ada laki-laki di rumah nya. Mau kan kak? Sementara aja kok." Jawab bapak


Aku tersenyum. "Iyah pak, kakak mau. Gak papa kalau kakak di sana emangnya pak ? Apa bapak Uda bilang sama bu Mila? Takutnya nanti kakak di sana jadi buat susah bu Mila." Tanyaku.


Bu Mila adalah adik kandungnya bapak. Beliau di tinggal suaminya meninggal baru saja. Sekitar 4 bulan yang , karena ada penyakit.


"Udah kakak tenang aja. Orang bu Mila sendiri kok yang nyuruh bapak buat Bawak kakak tinggal di rumah nya. Jadi kakak gak usah khawatir ya." Ucap bapak untuk meyakinkan ku.


Aku pun mengangguk. Pertanda aku sudah paham apa yang akan selanjutnya bapak bahas. Aku sangat paham apa yang bapak rasakan. Bukannya bapak pilih kasih. Tidak! Bapak hanya bingung yang mana harus dibela. Di satu sisi ada istrinya dan di satu sisi juga ada anaknya.


Bapak pasti bingung. Kalau bapak membela istrinya pasti anak nya kecewa. Dan kalau bapak membela anak nya pasti istrinya juga kecewa. Jadi bapak ini ibarat buah simalakama. Bapak bingung harus memilih yang mana. Karena kedua-duanya sama-sama berarti dalam hidup bapak. Tapi pada akhirnya, bapak telah menetapkan pilihan nya dengan membawa ku pergi dari rumah itu.


***


Sesampainya di rumah adik nya bapak, aku disambut dengan baik oleh sang punya rumah.

__ADS_1


"Semoga betah ya tinggal di rumah ibu. Ya gini lah rumah ibu, apa adanya." Ucap bu Mila.


" Iya bu, gak papa kok. Gini aja Kila juga udah seneng ." Jawab ku.


Selepas membereskan semua pakaianku, bapak berpamitan pulang , karena bapak juga harus pergi bekerja.


3 bulan sudah aku tinggal di rumah bu Mila. Tidak ada penyiksaan lagi yang kurasa kan. Tidak ada caci maki juga yang tiap hari harus ku dengar, karena bu Mila tidak memarahi ku.


Sampai pada akhirnya, ada teman laki-laki yang berniat untuk mampir ke rumah. Sebelum dia datang, aku sudah bertanya terlebih dahulu pada bu mila, apakah boleh teman laki-laki ku datang, dan bu Mila membolehkannya.


"Itu tadi siapa mu?" Tanya bu Mila ,sesaat teman laki-laki ku sudah pulang.


"Temen kok bu." Jawab ku.


"Ou iya udah." Ucap bu Mila .


******


Padahal sudah 3 bulan aku tidak melihatnya dan kali ini aku melihatnya lagi ada rasa takut lagi didalam hatiku.


Awalnya semua baik-baik saja, sampai di akhir nya bapak mau pulang, dan secara tiba-tiba ibu tiri ku menghampiri ku.


"Kau yang bagusan kali ya bawa laki-laki ke rumah ini. Uda hebat apa kau hah! Gak malu apa kau sama keadaan mu yang pincang itu. Apa kau pikir ada yang mau sama kau hah. Mikir lah kau dulu. Bu Mila mu ini janda, terus tiba-tiba tdi ada laki-laki datang ke rumah, Nanti dipikiran orang-orang apa." Ucap ibu tiri ku ketus.


"Ya gak lah Wak. Kan orang-orang pada tau pastinya. Ya kali anak muda jumpain aku, ya pastinya jumpain Kila lah. Lagian jodoh itu kan gadak yang tau Wak. Bisa jadi tadi temen nya Kila itu rupanya jodoh nya." Kata bu Mila kepada ibu tiri ku dengan lembut.

__ADS_1


Aku hanya bisa diam mendengarkan apa yang mereka bicarakan didepan ku. Tak ada niatan untuk membela , karena pastinya di mata ibu tiriku akulah yang selalu salah.


Apa salah ada teman laki-laki yang berniat untuk mampir ke rumah? Apa aku tidak boleh berteman dengan laki-laki? Seburuk itu kah penyakit ku ? Apa benar yang dikatakan oleh ibu tiriku, bahwa tidak akan ada laki-laki yang berniat untuk menikah dengan ku? . Ya Tuhan, semua nya aku serah kan pada mu.


***********


Keesokan harinya, di saat aku hendak melangkah ke arah dapur, di saat bersamaan juga aku mendengar suara berbisik-bisik. Tapi aneh nya, suarakan bisikan itu seolah-olah terdengar jelas ditelinga ku.


Aku pun menghampiri suara bisikan itu. Rupanya arah nya ada di halaman belakang rumah bu Mila. Aku bersembunyi di dekat pintu dapur yang menghubungkan dengan luar.


"Kemarin sopo to ,wong Lanang yang mampir neng omah mu mil?"


(Kemarin siapa sih, orang laki-laki yang mampir ke rumah mu mil?)


" Ouh iku, temen ne sih Kila Wak."


(Ouh itu , temen nya sih Kila Wak).


"Oalah, aku kira sopo. Temen opo cowok'e. Ya kalo cowok'e, kok Yo Eneng ya yang gelem ambek de'ene. Wes pincang ngono."


(Oalah, aku kira sapa. Temen apa cowo nya. Ya kalau cowo nya , kok ya ada ya yang mau sama dia. Uda pincang gitu).


"Yo aku ra tau Wak."


(Ya aku gak tau Wak).

__ADS_1


Tess! Seketika hatiku seperti diteteskan bara api. Perih , panas, sakit itulah yang aku rasakan. Kenapa semua orang pemikiran nya selalu seperti itu. Apa aku tidak berhak bahagia? Apa aku tidak berhak ada hubungan dengan laki-laki. Bukankah semua makhluk sudah memiliki pasangan nya masing-masing ?


Bersambung


__ADS_2