
Flashback On
Malam itu Yani di tugaskan untuk menjaga salah satu pasien di rumah sakit. Waktu menunjukan pukul 10 malam, karena merasa lapar Yani berniat keluar untuk membeli makanan.
''Sus, boleh saya keluar sebentar?'' ijin Yani pada Suster jaga.
''Kamu mau kemana?''
''Beli makanan'' jawab nya ramah.
''Boleh, hati hati ya ini sudah terlalu malam''
''Baik Sus, terimakasih''
Yani berjalan kaki menikmati hembusan angin malam di musim semi.
Sementara beberapa kilometer dari posisinya sedang terjadi baku tembak senjata, yang melibatkan antar geng mafia yang memperebutkan kekuasaan lahan ilegal untuk markas besar penimbunan barang barang terlarang.
Doorrr...doooorrr...dooor!
Suara tembakan saling bersautan di udara.
Doorr!!!
''Aakh!!'' suara erangan tertahan dari salah satu pemimpin geng.
''Tuan! Tuan apa anda tertembak'' tanya sang bawahan.
Dorrr...dooorrr...doorrr!!!
__ADS_1
''Cepat habisi mereka!'' titah nya, tak peduli darah segar mengalir dari lengan nya.
''Baik Tuan!''
Baku tembak terus terjadi di saat orang yang tertembak mencoba menjauh dari tempat kejadian.
Ia terus berjalan menahan sakit di luka tembakan nya, darah segar terus mengalir deras memberi jejak nya.
Yani yang baru saja keluar dari salah satu mini market melihat seseorang berjalan sempoyongan, karena khawatir ia mencoba menghampirinya.
''Tuan! Tuan! anda kenapa?'' tanya Yani.
Orang yang di tanya menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap gadis manis yang menanyai nya.
Yani melotot terkejut ketika melihat darah segar yang terus mengalir dan menetes di jalan.
''Astaga! Tuan anda terluka!'' ucap Yani menutup mulut nya.
Tanpa aba aba Ria mencoba memapah Pria yang lebih tinggi 20cm dari nya.
''Mari Tuan, saya antar anda ke rumah sakit terdekat'' ucap Gadis manis yang lugu itu.
Sang Pemuda menahan tawa nya sungguh tanpa papahan Ria pun Pemuda itu masih sanggup untuk berjalan sendiri.
Namun ia tidak menolak, justru malah menikmati perjalanan menuju rumah sakit itu, sesekali ia melirik gadis manis di sebelah nya yang tampak begitu khawatir.
Sepertinya dia bukan Orang Taiwan, tapi ia sangat fasih berbahasa Mandarin. gumam Pemuda itu dalam hati.
Sesampainya di rumah sakit Yani dengan telaten membersihkan luka tembakan yang sudah di jahit dan di keluarkan peluru nya.
__ADS_1
Pemuda itu tanpa berkedip menatap wajah Yani yang benar benar manis di pandang, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, bibir yang mungil, dan lesung pipi di kanan.
''Tuan, kenapa anda bisa tertembak? anda pulang kemana? atau anda mau menginap di sini dulu?'' tanya Yani sembari menempelkan perban.
Yang di tanya hanya asyik tersenyum sendiri sambil terus menatap Yani.
''Tuan! Tuan! anda tidak apa apa kan?'' ucap Yani melambaikan tangan nya.
''Hah? eh? hm iya terimakasih'' jawab pemuda itu gelagapan.
Yani tersenyum lega.
''Manisnya'' ucap pemuda itu tanpa sadar.
''Apa? anda bilang apa?'' tanya Yani.
''Nama mu siapa?''
''Apriani putri, anda bisa memanggil saya Ya ni'' jawab nya ramah dengan senyuman.
''Ya ni?'' ucap pemuda itu menganggukan kepala.
Yani pun membalas nya dengan anggukan kepala dan tersenyum.
''Apa kah kau pekerja luar?''
''Iya, saya TKI asal Indonesia'' jawab Yani ramah.
''Oh, ternyata orang Indonesia? Oh ya, nama ku Li Yi Sao''
__ADS_1
''Li Yi Sao? Tuan Li Yi sao'' ulang Yani dengan senyum renyah nya.
Bersambung...