
Jangan di tanya dan bayangkan seperti apa reaksi wajah Robi saat melihat senyum persetujuan dari wajah cantik Ria.
Wanita yang ia cintai selama ini, meskipun ia tau Ria belum membalas dengan rasa yang sama. Itu semua tidak jadi masalah, sungguh cinta Robi terhadap Ria benar benar sudah membuat nya menjadi tidak berdaya.
Saat bisa bersama dan selalu melihat wajah Ria setiap hari itupun sudah cukup bagi nya.
Sementara Ria sendiri memilih seolah semua biasa saja, walau sebenarnya ia sangat tau perasaan Robi terhadap nya. Bahkan sudah dua kali Robi berusaha untuk mengutarakan isi hati nya tapi Ria selalu dengan cepat menemukan alasan untuk menghindar.
''Ria...'' suara Robi memecah keheningan.
''Hms...'' saut Ria tanpa memalingkan pandangan nya dari luar jendela.
''Bulan depan kita ada tour lagi ke Taiwan''
Ria memilih diam.
''Aku harap kau bisa ikut kali ini'' lanjut Robi.
Ria masih diam.
''Ria...'' panggil Robi.
__ADS_1
''Kau tau jawaban ku Rob'' jawab Ria.
''Kenapa Ria? bukan kah kau juga pernah ke sana? bahkan hampir 3 tahun lama nya''
''Rob...Jangan tanya dan bahas lagi'' potong Ria.
Hening sesaat.
''Aku sungguh tidak mengerti Ria, apa sebenarnya alasan mu? dan apa yang terjadi 3 tahun lalu? sungguh aku bingung setelah kepulangan mu, kau menutup diri, bahkan dari cinta ku'' suara pelan Robi yang jelas terdengar di telinga Ria.
Ria hanya memilih seolah tak mendengar apa yang di ucapkan Robi.
Flashback On by Ria
Pagi itu terasa sedikit berbeda dari hari biasa nya, suasana Panti Asuhan Harapan Mulia terlihat sunyi tanpa sorak suara gelak tawa anak anak Panti lain nya.
Di sini lah lah Ria di besarkan.
Ria merupakan anak yatim piatu kedua orang tua nya meninggal bersamaan, dalam sebuah kecelakaan Pesawat.
Saat itu Ria berusia 3 tahun dan di adopsi Ibu Susi yang tidak lain adalah
__ADS_1
Ibu Ketua dan Pemilik Panti Asuhan Harapan Mulia.
Ibu Susi membesarkan Ria layak nya putri sendiri, kasih sayang yang melimpah untuk Ria nyaris tercurah sepanjang waktu.
Hingga saat Ria berusia 20 tahun, di pagi yang tidak biasa itu, tanpa sengaja ia mendengar percakapan di ruang rapat.
Ibu Susi, para perawat, pekerja berkumpul di ruangan tersebut, juga di hadiri oleh beberapa orang laki laki berperawakan sangat gagah yang mengawal laki laki paruh baya berusia sekitar 50 tahun.
Dari wajah mereka jelas terpancar rasa sedih, dan takut.
''Saya mohon Tuan bisa memberi waktu untuk kami, jika kami di usir maka bagaimana nasib anak anak di sini, mohon belas kasih mu Tuan'' pinta Ibu Susi mengiba.
''Itu bukan urusan ku! aku tidak mau tau, pokok nya bulan depan tempat ini harus rata dengan tanah!'' tegas laki laki paruh baya itu.
Isak tangis pun mulai terdengar, raut wajah kebingungan dan kepanikan terpancar jelas di wajah Ibu Susi dan para perawat lain nya.
''Tuan! saya mohon beri kami waktu, saya mohon Tuan. Saya akan berusaha untuk membayar uang sewa tanah tepat waktu, saya mohon Tuan'' ratap Ibu Susi.
''Hahahaha! coba kau ingat sudah berapa bulan kau tidak bayar uang sewa nya?! hah?!!'' pekik laki laki tua itu.
Bersambung...
__ADS_1