
Aliandra pov.
Hari ini adalah hari yang seharusnya paling aku inginkan, yaitu hari kebebasan ku dari hukuman Zayn. Tapi, entah kenapa tergurat rasa sedih meninggalkan kantor ini, meskipun aku hanya bekerja disana selama sebulan tapi aku sudah merasa dekat sekali dengan orang-orang disana terutama Nora.
Hari ini aku kembali ke kantor dengan perasaan yang tidak bisa ku artikan, antara senang terbebas dari Zayn dan sedih karena tidak bisa bertemu dengan Nora dan teman-teman lainnya.
"Kalau kau lulus nanti, kau lamar kerja saja disini supaya kita bisa bareng lagi" Nora memberikan saran untukku saat aku menemuinya dan mengatakan hari ini adalah hari perpisahan kami.
"Kalau buat kerja disini aku harus mikir 10 kali dulu deh kayaknya mbak" aku tersenyum bercanda.
"Iya juga sih, tapi gajinya gede lo dan ini perusahaan bergengsi juga, masa cuma gara-gara Zayn kamu nggak mau kerja disini" Nora masih saja membuatku tertarik untuk bekerja disana karena ia juga sudah merasa nyaman berteman denganku.
"Nanti deh aku pikirkan dulu, sekarang aku mau fokus buat wisuda dulu" jawabku.
Tak lama kemudian Celvin datang menghampiri kami.
"Tuan Zayn memanggilmu" Celvin berbicara padaku dengan wajah datarnya dengan singkat padat dan jelas.
"Baiklah, aku akan kesana nanti" jawabku lagi.
"Sekarang" Celvin kembali membalas dengan singkat.
aku hanya menghela nafas saja sambil beranjak ke ruangan Zayn setelah berpamitan pada Nora.
Aku mengetuk pintu terlebih dahulu, karena aku tidak ingin dihukum karena masuk tanpa mengetuk pintu.
"Masuk" suara Zayn terdengar lantang dari dalam sana.
Setelah membuka pintu, aku berjalan menghampiri Zayn dan berdiri tepat didepan meja kerjanya.
"Kenapa tuan memanggil saya?" tanyaku.
Tiba-tiba Zayn tergelak sampai matanya berair, hal itu justru membuat ku bingung.
__ADS_1
"Kenapa kau tiba-tiba berubah menjadi sangat sopan seperti ini padaku? apa karena ini hari terakhirmu bekerja disini?" Zayn bertanya padaku setelah ia merasa tidak ingin tertawa lagi.
Sebenarnya aku sangat malas untuk menjawab pertanyaan itu, tapi apa boleh buat aku tidak ingin ia menambah masa hukuman ku lagi.
"Apa saya tidak boleh bersikap sopan pada tuan?" bukannya menjawab aku malah bertanya lagi.
"Jawab saja pertanyaanku, jangan malah balik bertanya" Zayn tampak kesal.
"Baiklah, mungkin memang benar yang tuan katakan tadi, karena ini adalah hari terakhir saya bekerja disini jadi saya ingin meninggalkan kesan yang baik terhadap tuan" jawabku dengan senyum yang dibuat-buat.
"Kenapa tidak dari dulu saja begini? aku kan bisa mengurangi masa hukumanmu kalau kau sopan seperti ini." Zayn menjawab dengan senyuman yang tak bisa ku artikan.
Hal itu seketika membuatku menyesal, kalau saja aku mengikuti permainan nya dengan baik dan bersikap baik juga padanya, aku tak perlu membuang-buang waktu ku selama ini bersamanya.
"Maaf Tuan" Aku hanya menjawab dengan kata itu, karena aku tidak tau harus menjawab apalagi karena semua nya sudah terlanjur.
" Baiklah, karena kau bersikap baik padaku dan cukup menghiburku pagi ini, jadi kau akan ku berikan reward dengan pulang lebih awal hari ini" Zayn berujar dengan masih menatapku.
"Benarkah? Terimakasih Tuan." Aku menjawab dengan antusias dan mata berbinar. aku tak percaya ternyata sangat mudah meluluhkan hati boss gila ini.
Hal itu sedikit membuatku terluka, bukan karena aku tak bisa bertemu dengannya lagi tapi karena perkataannya seolah-olah mengatakan bahwa aku adalah si pembuat masalah dihidupnya.
"Baiklah, saya akan melakukan apa yang tuan perintahkan tadi, sekali lagi terimakasih banyak tuan" Aku menjawab dengan nada setenang mungkin.
"Ok. Silahkan keluar dari ruangan ku sekarang juga" Zayn menjawab dengan dingin berbeda dengan sebelum-sebelumnya yang terlihat seperti kami adalah dua orang yang akrab meskipun selalu dipenuhi dengan adu mulut. Saat ini kami terlihat seperti dua orang asing lagi saat kami pertama kali bertemu di kantin kampus saat itu.
Aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang tak dapat aku jelaskan, seharusnya tidak ada yang salah dengan sikap Zayn padaku, karena memang aku berada disini karena kesalahan-kesalahan ku padanya di masa lampau.
Diluar sana ternyata Nora sudah menunggu ku, ia langsung memelukku dengan erat, air mataku tiba-tiba saja jatuh, entah karena memang aku sedih akan berpisah dengan Nora entah karena aku sedih dengan sikap Zayn padaku tadi.
Setelah perpisahanku dengan Nora dan beberapa teman yang lainnya, aku keluar dari kantor itu dan melajukan mobilku ke taman yang tak jauh dari sana.
Aku memilih untuk menenangkan perasaanku di taman ini dengan memesan satu cup ice cream berukuran jumbo dan memperhatikan anak-anak kecil yang berlarian di taman ini.
__ADS_1
Saat tengah asyik menikmati semua yang aku lakukan saat itu, tiba-tiba ponsel ku berdering menandakan ada telepon masuk.
Aku segera merogoh tasku untuk menemukan benda pipih itu.
Fiona? tumben nelpon.
Aku segera menggeser ikon hijau di layar hpku dan menempelkannya di telinga.
"Halo Fio, ada apa?" aku membuka percakapan.
"Apa aku tidak boleh menelponmu lagi?" tanya Fiona terdengar kesal di seberang sana.
Aku hanya terkekeh mendengar sahabat ku itu.
" Tentu saja boleh, aku cuma khawatir ada apa-apa sama kamu, soalnya udah lama kamu nggak hubungi aku, trus baru sekarang muncul lagi" jawabku panjang lebar.
"Aku kan sibuk menyiapkan skripsiku dan mengatur jadwal sidang, makanya aku nggak sempat mau telepon kamu apalagi ketemu." nada nya berubah menjadi seperti anak kecil yang sedang merengek pada ibunya.
"Iya, iya.. sekarang gimana? udah selesai semua?" Tanyaku pada Fiona.
"Alhamdulillah, udah beres tinggal nunggu wisuda kek kamu" seketika nadanya berubah lagi seperti anak kecil yang kegirangan dapat mainan baru.
Aku hanya tertawa mendapati sikap sahabatku itu yang sangat cepat berubah-ubah.
Setelah mengakhiri telepon dengan Fiona, aku memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari pun juga terlihat sudah gelap seperti akan turun hujan lebat.
Aku segera ke parkiran dan melajukan mobilku pulang ke rumah.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like, comment and vote ya readers.