Komet

Komet
1.memlih jurusan kuliah


__ADS_3

Musim hujan telah datang. Gerimis membungkus di pagi terus turun tak berkesudahan sejak tadi malam. jendela mobil berembun, udara terasa dingin.


Aku menguap lebar.


"Ra, kamu masih mengantuk?" tanya Papa. sejenak Papa menoleh ke arahku, lalu lanjut menatap ke depan, serius menyetir mobil.


Aku menggeleng buru-buru menutup mulutku.


pandangan ku tertuju ke luar jendela mobil. jalanan padat ,angkot, bus, mobil-mobil dipenuhi warga kota menuju tempat aktivitas. sepeda motor tak kalah gesit, merangsek di setiap jengkal celah tersisa. pengemudi dan penumpangnya mengenakan jaket hujan.


"Kapan kamu ulangan tengah semester?" Papa mencomot sembarang topik percakapan dari langit-langit yang mendung.


"Sebulan lagi, Pa."


"Oh,masih lama ."Papa mengangguk.kaki kanannya menginjak pedal gas pelan.mobil kembali maju dalam antrean lampu merah yang telah berubah hijau.


Aku terus memperhatikan jalanan.


"Kamu nanti mau kuliah di mana,Ra?"


Eh?Aku menoleh, menatap wajah Papa.


"Belum tahu,Pa. kan masih tahun depan."


Papa tertawa sambil terus konsentrasi menatap ke depan."Kamu udah kelas sebelas lho,Ra. setahun tuh singkat.tidak terasa tahun depan anak perempuan Papa kuliah."


Aku diam.ikut menatap ke depan.beberapa kali sebenarnya.aku selalu memikirkan soal itu-----karena guru guru disekolah Juga sering mengingatkan hal itu, agar kami siap sejak sekarang.Aku saat ini memang mengambil jurusan IPA, tapi mungkin kuliah di fakultas budaya lebih menarik. Aku amat menyukai pelajaran bahasa---satu-satu nya pelajaran yang tidak membuat daguku terlipat.


"Atau kamu mau satu kampus dengan teman-teman baik mu,Ra?


Aku bergumam pelan,itu juga kupikirkan. mungkin seru jika satu kampus dengan mereka.


"Seli akan kuliah di kedokteran seperti ibunya, bukan?"

__ADS_1


Aku mengangguk.ibu Seli pernah bilang dia berharap Seli juga menjadi dokter.


"Dan siapa anak cowok temanmu itu?ah iya,Ali, bukankah dia tahun lalu hampir tidak naik kelas?Anak itu,Papa khawatir dia tidak diterima di kampus mana pun.bahkan di kampus yang kekurangan mahasiswa.dia tidak memenuhi syarat."


Aku hampir tertawa mendengar kalimat Papa, tapi buru-buru mengangguk lagi.


Kamu harus membantu Ali belajar.,Ra. Anak-anak sekarang seperti si Ali itu.tidak memiliki kegigihan belajar sama tinggi nya dibanding anak-anak zaman dulu."


"Iya,Pa."


Papa dulu juga harus belajar Mati-matian agar bisa lulus di kampus yang Papa cita citakan. kamu tahu siapa teman baik yang selalu memotivasi Papa."


Aku menggeleng, tapi aku seperti nya bisa menebak


"Mama?"


"Iya mamamu. dia yang selalu mendorong Papa agar tidak menyerah.hingga kami akhirnya kuliah yang sama.meskipun berbeda fakultas.temanmu Ali,tanpa dorongan dari teman-temannya, Papa khawatir dia hanya akan punya masa depan suram."


Aku sekali lagi ingin tertawa.masa depan suram?Ali? sebenarnya aku ingin memberi tahu Papa bahwa itu super genius,bahwa pelajaran di SMA sangat membosankan bagi otak pintar Ali karena dia telah menguasainya sejak SD.tapi itu hanya akan membuat rumit percakapan.jadi aku kembali mengangguk.


"apakah di dunia lain itu juga ada kampus, Ra? Papa kembali bicara.


Aku menoleh."Kampus"


"Iya, kampus. universitas. mungkin kamu ingin kuliah di sana."Papa balas menatapku. lampu lalu lintas menyala merah,"mendengar cerita mu kepada Mama, dengan seluruh teknologi majunya kampus mereka tentulah yang terbaik dibanding kota kita.apalagi dengan petualangan mu setahun terakhir,itu lebih seru lagi."


Aku masih terdiam------ itu tidak pernah terpikirkan olehku,aku bahkan tidak menduga Papa tiba-tiba bicara tentang dunia paralel. selama ini.selama ini, seperti menjadi peraturan tidak tertulis di rumah, Papa dan Mama akan mengubah topik pembicaraan setiap kali soal itu dibahas di bahas, karena itu akan berakhir dengan kenangan dan pertanyaan serius:Siapa orang tua kandungku?tapi pagi ini Papa justru memulainya.


Papa tersenyum lembut.


Apa nama kampus terbaik di Klan Bulan,Ra?"


Aku menelan ludah, baru mau menjawab," Akademi Bayangan Tingkat Tinggi."

__ADS_1


"Wow!" keren sekali, apakah mereka punya jurusan teknik ekonomi hukum atau kedokteran seperti di dunia kita?"


Aku menggeleng. tepatnya aku tidak tahu persis. Aku hanya pernah mendengar nama sekolah itu disebut saat berpetualang bersama I|y, putra I|o, dan Vey. I|y adalah lulusan Akademi tersebut tempat petarung terbaik di Klan Bulan melanjutkan pelajaran formal. mungkin di sana juga di ajarkan pelajaran normal seperti ekonomi hukum atau teknik mesin. selain teknik bertarung tingkat tinggi, karena I|y sempat bercita-cita bekerja di sistem transportasi Kota Tishri yang canggih.


"Kamu mau kuliah di sana?"


"Belum tahu,Pa."


""Dulu, saat kuliah, Papa memutuskan untuk pergi merantau jauh ke pulau lain. Orang tua Papa, eyang putrimu, jelas keberatan. beliau tidak ingin kami sekolah jauh.tapi itu keputusan Papa. usia Papa sudah dewasa, bisa menjaga diri. Maka setelah berpuluh kali dibicarakan, eyang putri akhirnya menyerah. Papa tidak tahu rencana mu, Ra. tapi jika saatnya tiba dan kamu mau kuliah di tempat jauh sekalipun, dunia yang berbeda itu, Papa akan mendukung. Selalu. mungkin Mama akan keberatan, tapi itu bisa di bicarakan."


Aku terdiam, mengangguk lamat-lamat.


Lampu hijau.


"Tapi itu masih lama,Ra. masih satu tahun setengah. bisa kita bicarakan nanti-nanti. Ah, berat sekali topik percakapan kita pagi ini. sepertinya gerimis ini membuat Papa jadi sentimental. Anak perempuan Papa sudah ternyata sudah dewasa."Papa tertawa. mobil kembali melaju.


......*****......


Sekolah sudah ramai saat aku tiba. Gerimis tidak membuat murid-murid kehilangan semangat. beberapa terlihat berkerumun mengobrol seru, tertawa, satu-dua murid mengobrol seru, tertawa satu-dua murid duduk di kursi mengerjakan sesuatu----sepertinya PR. sisanya berdiri sembarang sambil menunggu bel masuk berbunyi. aku menyapa dan membalas sapaan saat menuju mejaku.


"Hei, Ra."


Seli tersenyum. dia sudah datang duduk membaca sesuatu.


Aku balas tersenyum.


"Kamu sedang membaca buku apa, Seli?"


"MMM...."Seli ragu-ragu menjawab. Dia hendak memasukkan buku itu ke laci meja.


"Buku apa sih?" Aku lebih dulu melihat nya.


Seli langsung terdiam. dia tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ya, ampun!" Mataku langsung melotot. itukan buku yang amat terlarang di sekolah. BUMI. Petualangan antarklan. Buku jilid satu, covernya kaga buku-buku petualangan.


"Seli..." aku berbisik serius, bergegas duduk di sebelahnya, melihat ke sekeliling tidak ada yang menguping atau melihat kami." Berapa kali aku harus mengingatkan, Kita disuruh Av dan Miss Seli untuk merahasiakan banyak hal tentang buku itu. jangan mencolok,jangan memancing perhatian. Duh, kamu malah membaca buku ini di tengah-tengah murid lain!"


__ADS_2