
Aku menatap Seli dengan kesal. dia seharusnya tahu.dia jelas bukan Ali yang memang suka cari masalah.bagaimana mungkin Seli bisa santai membaca buku ini di kelas?
"Cuma novel, Ra.mereka tidak akan tahu."Seli ikut melirik teman-teman di kelas.
"Ini bukan novel biasa.ini novel terbitan Klan Bulan. lihat! huruf nya memakai huruf Klan Bulan. jika ada yang melihat dan bertanya, kamu akan menjawab apa?"Aku berkata tegas.
Seli mengangkat bahu"Aku akan bilang buku ini dari luar negeri."
Aku menepuk dahi pelan,tambah melotot." Mana ada huruf negara lain yang seperti ini?dan lihat kamu membacanya dengan meletakkan lembar tipis penerjemah otomatis Klan Bintang,kan? benda ini, jika tercecer ditemukan orang lain itu akan dianggap milik alien. tidak ada ilmuwan yang bisa menjelaskan itu benda apa."
Seli segera melepas lembar tipis itu." Maaf,Ra. aku penasaran soalnya. Semalam bacanya sampai jam 12. terus disuruh tidur sama Mama. tidak sabaran, aku bawa saja ke sekolah----"
"Dari mana kamu memperoleh novel ini?"Aku memotong penjelasan Seli. aku yakin sekali jawaban yang akan diberikan Seli.
"Ali," gumam Seli.
Aku mendengus. betul,kan? si biang kerok itu.
"Dari mana Ali mendapatkannya?"desak ku.
"Ali bilang memperolehnya dari kurir dunia paralel."
"Kurir dunia paralel?"
"Iya, I|o yang mengirimkannya dari Kota Tishri dengan kurir itu. lantas tadi malam Ali memberikannya kepadaku. aku memang penasaran dengan novel ini, Ra."
Aku mendengus lagi. Dasar Ali si sumber masalah. dia bisa saja membohongi Seli yang mudah percaya begitu saja,tapi tidak padaku. tidak ada itu istilah jasa kurir dunia paralel. Mana ada! memangnya itu seperti jasa transportasi online yang sedang ramai di kota kami?portal antar klan bahkan hanya bisa dibuka oleh orang-orang tertentu, dengan teknologi tingkat tinggi. Ali pasti diam-diam mengunjungi Kota Tishri tanpa aku dan Seli, dan kembali membawa beberapa benda dari sana. Salah satunya novel ini.
__ADS_1
Aku tahu novel ini. saat petualangan kami di lorong-lorong kuno Klan Bintang, Panglima Pasukan Bayangan yang menemani kami bercerita bahwa kisah kami dituliskan menjadi novel Kota Tishri.¹
Aku masih hendak bertanya satu-dua kepada Seli.
Tapi bel sekolah telah berbunyi suaranya nyaring memecah percakapan. Murid-murid segera menuju kursi masing-masing. Guru-guru juga beranjak dari ruang guru menuju kelas.
Jangan baca lagi novel itu di sekolah, Seli!" bahkan jika itu buku lanjutan serial dan di tunggu tunggu banyak orang,"bisik ku serius.
"Maaf, Ra." Seli menatapku, sambil tersenyum, lalu memasukkan novel ke dalam tas. aku bergegas menoleh ke meja belakang. Sepertinya Ali terlambat lagi. batang hidungnya belum terlihat. awas aja kalau aku bertemu dengannya. dia harus di jitak kepalanya.
Tetapi sepanjang hari Ali tetap tidak terlihat. aku jadi tambah kesal.
Pelajaran pertama adalah pelajaran biologi. Pak Gun memegangi buku absensi, nama kami satu persatu. Tiba di nama Ali, seperti sudah biasa, Pak Gun hanya menghela napas, menatap sekilas meja belakang yang kosong. lalu mencoret buku absen. Ali tidak masuk--- tanpa kabar.
Pagi itu pelajaran biologi membahasa tentang fase generatif dan fase vegetatif tumbuhan. bukan pelajaran favorit ku, tapi Pak Gun selalu berhasil membuatku memperhatikan pelajaran.
Terlebih saat beliau memutar video tentang satu tumbuhan langka.
"Tumbuh-tumbuhan lazimnya memiliki fase generatif dan fase vegetatif dalam pertumbuhannya. fase generatif adalah fase pertumbuhan saat tanaman menimbun karbohidrat untuk pembentukan bunga, buah, dan biji serta pemasakan. sedangkan fase vegetatif adalah fase saat tanaman menggunakan sebagian besar karbohidrat untuk membentuk akar, batang, daun, pucuk tanaman, dan pembesaran tanaman. sederhananya, fase generatif adalah fase berkembang biak, fase vegetatif adalah fase pertumbuhan. siklus ini berjalan sedemikian rupa, sehingga kita bisa melihat, ada musim buah-buahan, ada musim panen, ada musim tanam, dan seterusnya. Pohon misalnya, berbuah satu tahun sekali. ada bulan-bulan ketika durian masuk fase generatif, berbuah."
Kami menonton video sambil PAK GUN terus menjelaskan.
"Dengan teknologi, petani bisa mengubah fase ini menjadi lebih cepat untuk keuntungan produksi pertanian. dulu tanaman padi membutuhkan 6-8 bulan baru panen, sekarang cukup 3-4 bulan. tumbuhan bisa lebih cepat berbuah, bahkan bisa berbuah sepanjang tahun dengan tambahan nutrisi dan pupuk yang tepat. dalam kasus ini. fase generatif dan vegetatif nya berjalan secara serentak.
Video terus menayangkan contoh-contoh tumbuhan dengan siklus tersebut.
"Tapi ada tumbuhan yang sangat spesial di bumi." Pak Gun diam sejenak--- sengaja membuat kami penasaran, mengacungkan pointer ke layar.
__ADS_1
"Inilah pohon coco de mer. spesies langka dari tumbuhan kelapa, tumbuh di Kepulauan Secyhelles, Laut India. Tinggi pohonnya bisa mencapai 25-34 meter, dengan buah raksasa beratnya 15-30 kilogram. Inilah buah dengan biji terbesar di seluruh bumi."
Aku menonton video yang menunjukkan pohon tersebut.
"Tapi bukan itu yang membuatnya spesial, melainkan fakta bahwa tumbuhan ini membutuhkan 87 tahun atau hampir satu abad, barulah pohon ini menghasilkan buah yang matang."
Murid-murid di kelas menatap terpesona.
"Astaga!" Johan bahkan refleks berseru.
"Kenapa Johan?" tanya Pak Gun.
"Itu berarti, jangan pernah petani menanam pohon itu, Pak Gun."Johan mengusap wajah.
"Kenapa, jangan Johan?"
"Ya buahnya baru bisa di panen seratus tahun kemudian,setelah satu abad, itu lama sekali."
Pak Gun tertawa, diikuti juga oleh tawa teman-teman lain. Seli disebelahku juga tertawa kecil.
aku melirik ke meja kosong.jika di sana ada Ali, dia pasti hanya akan mendengus pelan, menganggap itu tidak lucu. Tepatnya, Ali mungkin sudah tahu fakta tentang pohon coco de mer ini sejak lama, jadi tidak membuatnya tertarik membahasnya.
Kamu tahu kenapa Ali tidak masuk sekolah?" aku bertanya pada Seli.
Seli mengangkat bahu.
"Bukankah tadi malam dia menemui mu, memberikan novel itu?"
__ADS_1
iya memang. tapi aku tidak tahu kenapa dia tidak masuk. Lagi pula itu Ali,kan?" dia bisa saja tidak masuk karena sibuk di basement rumahnya. Eksperimen aneh-aneh miliknya." Seli meneruskan menyendok bakso.
Istirahat pertama, setelah pelajaran biologi, perutku lapar. senasib denganku, Seli mengajakku ke kantin, makan bakso. sekitar kami ramai oleh celoteh pengunjung kantin. Anak-anak basket duduk tidak jauh di dekat kami, juga anak-anak kelas dua belas. satu-dua anak-anak basket menyapa kami tadi, karena Ali anggota tim basket sekolah. kami berdua jadi lebih di kenal oleh senior sekolah, meskipun mereka cuma tahu teman Ali.