Komet

Komet
15. Seseorang mendekati Seli Ali Dan Raib.


__ADS_3

Seseorang berdiri sepuluh langkah Dari kami. Tubuhnya tinggi, wajahnya tidak terlalu jelas dalam badai. dia membawa sesuatu yang bercahaya---mungkin sebuah lampu.


"Siapa dia Ra?" Seli berbisik cemas."Hantu?" aku menyikut lengan Seli."Tidak Ada hantu di sini,Seli."


Orang itu melangkah mendekati Kami. aku mengepalkan jemari, mengaktifkan sarung tangan Bulan milik ku,bersiap-siap jika terjadi sesuatu yang buruk.


"Hei! apa yang kalian lakukan di sini, hah? do tengah badai?" Orang itu berteriak, berusaha mengalahkan debur ombak. jaraknya hanya tiga langkah sekarang. kami bisa melihat nya lebih jelas. menilik wajahnya, usianya sudah tua, tujuh puluh tahun atau lebih. dia mengenakan pakaian terbuat dari kain, dengan topi jerami lebar, seperti pakaian nelayan. ekspresi wajah dan gerak tubuhnya tidak mengancam. dia justru terheran-heran melihat kami.


Sementara Aku dan Seli sebaliknya, heran melihat sesuatu yang dia pegang. itu seperti tangkai kayu yang di ujungnya ada bola kaca. di dalam bola itu berisi air itu ada seekor ikan yang bergerak-gerak. ikan itu mengeluarkan cahaya terang dari ekornya. aku kira dia membawa lampu seperti petromaks atau senter. aku tidak menduga asal cahaya itu ternyata dari seekor ikan didalam bola kaca. Siapa orang ini? kabar baiknya, alat penerjemah canggih Klan Bintang yang kami kenakan mengenali bahasa orang tersebut.


"Astaga! Kalian masih muda sekali. paling lima belas-enam belas, bukan?" Orang itu menjulurkan lampunya menerangi wajah kami lebih dekat."Bagaimana mungkin kalian ada di sini ?"Tempat ini jauh dari manapun apakah kalian tersesat?"


Aku tidak menjawab, aku masih berjaga-jaga. juga Seli dan Ali.

__ADS_1


"Ayo ikuti aku ! kalian tidak bisa berlama-lama di tengah badai seperti ini, atau kalian akan kaku menggigil kedinginan." orang itu sudah balik kanan, melangkah.


Aku dan Seli saling tatap. Ikut dia kemana? perkampungan nelayan ?Kami sudah memeriksa seluruh pulau. tidak ada rumah di sini


"Ayo!" Orang itu menoleh, melambaikan tangan.


Ali melangkah lebih dulu.


"Ali-----" Seli hendak mencegahnya, setidaknya bisakah Ali berpikir sebentar, sebelum memutuskan percaya begitu saja. Tapi aku sepakat dengan Ali, kami tidak punya pilihan lain. atau tetap di sini berjam-jam menunggu badai reda sambil menggigil kedinginan. Baiklah, aku ikut melangkah.


"Tidak apa, Seli. jika terjadi sesuatu, kita akan melawan."


Seli akhirnya ikut melangkah, walaupun dengan wajah cemas.

__ADS_1


Orang bertubuh jangkung itu terus memimpin di depan pulau kosong, tidak ada bangunan di sana.


Orang itu meletakkan lampunya di celah pohon, lantas membungkuk, menarik sesuatu di permukaan tanah, seperti lempeng besi besar yang menutupi sesuatu. saat lempeng itu di tarik, sebuah lubang terbuka menuju ke bawah.


Aku dan Seli saling tatap. Astaga!


Orang itu kembali mengambil lampunya lalu berjalan menuruni anak tangga yang ada di lubang itu. cahaya terang dari dalam sana. udara hangat berembus ke wajah kami.itu seperti pintu menuju ruangan yang nyaman.


"Ini keren sekali." Ali bergumam, ikut melangkah turun."Kita berjam-jam mencari rumah ternyata penduduk pulau ini meletakkan rumahnya di bawah tanah.


Aku dan Seli ikut melangkah melewati mulut lubang.


"Tolong tutup pintunya!" Orang tua itu berseru dari anak tangga paling bawah.

__ADS_1


Aku mengangguk, menarik lempeng besi sambil turun.


Sempurna pintu itu menutup, suara debum ombak, kesiur angin, hujan deras, dan semua keributan di luar tinggal sayup-sayup, aku menelan ludah, melangkah di anak tangga yang basah.


__ADS_2