
pukul 04.00am saat aku akan menuruni tangga, Mama dan Papa sudah menunggu di depan rumah. Mama tersenyum lembut kepada ku. jelas sekali Mama berusaha mati-matian mengusir sisa tangisan tadi malam. Mama menyerahkan kotak bekal berisi roti bakar untuk sarapan.
"Untuk bekal, Ra."
"Terima kasih, Ma." aku menerimanya.
"Hati-hati di jalan, Ra." Papa berpesan.
Aku mengangguk. kumasukkan kotak bekal ke dalam tas. aku telah menggunakan pakaian hitam-hitam berteknologi tinggi yang bisa membuatku bergerak lebih cepat. ramvut panjang ku di kuncir rapi, penampilan ku ringkas, efisien khas petarung dunia paralel. semua perbekalan ku sudah kumasukkan ke dalam tas ransel berteknologi Klan Bintang.
"Raib pergi, Ma, Pa." Aku membuka pintu rumah
Mama menyeka pipinya, mengangguk. Papa melambaikan tangan.
Dalam sekejap aku sudah melesat cepat mengunakan teknik teleportasi. Tubuhku sudah berpindah posisi ratusan meter meninggalkan rumah, melaju di jalanan lengang. Lampu-lampu menyala, depan toko tampak sepi, halte-halte masih kosong. aku melewati satu-dua kendaraan yang membawa sayur ke pasar pergi, juga petugas keamanan yang menguap menahan ngantuk. mereka tidak tahu baru saja melewati mereka, terus menuju rumah Seli.
Aku tiba di rumah Seli lima menit kemudian.
Miss Selena telah menunggu di sana. juga Ali, Seli, dan kedua orangtuanya. kapsul perak ILY mengambang setengah meter di atas rumput belakang rumah. Mama Seli menawarkan sarapan, tapi Miss Selena menggeleng tegas. Terima kasih banyak, Bu. kami harus bergegas. Raib,segera mengeluarkan Buku Kehidupan."
Aku mengeluarkan buku matematika ku.
"Kita menuju ke mana Miss?" tanya ku.
"Stadion Matahari."
__ADS_1
"Stadion?" aku menatap Miss Selena. tempat ini? demi melihat wajah serius Miss Selena tanpa senyum sedikit pun, aku segera memutuskan segera bicara dengan Buku Kehidupan. Buku itu mulai mengeluarkan cahaya, seolah ada purnama dalam genggaman ku."Hendak kemana, Putri?" Buku itu berkomunikasi lewat suara yang merambat di tanganku.
Aku menjawabnya dengan suara mantap," Stadion Matahari, Klan Matahari.
"Perintah siap dilaksanakan, Putri."
Begitu kalimat itu usai, dari Buku Kehidupan keluar cahaya terang,jatuh di atas rumput halaman belakang rumah Seli. Cahaya itu perlahan membuat lingkaran, lubang hitam, semakin lama semakin besar, hingga sempurna membentuk portal dunia paralel.
"Kita berangkat sekarang."Miss Selena lebih dulu melangkah melintasi lubang portal itu.
Seli melambaikan tangan kepada orang tuanya. ikut melangkah masuk. aku dan Ali menyusul kemudian. terakhir ILY, mendesing terbang masuk ke dalam portal.
...****...
Hampir satu menit kami melintasi portal antarklan, gelap disekitar. Aku, Seli, dan Ali tidak banyak bicara. Miss Selena juga tidak. akhirnya kami tiba. sekeliling kami berubah terang benderang. tapi itu bukan cahaya matahari, itu cahaya lampu. gemuruh suara langsung terdengar. Tepuk tangan meriah, sorak-sorai. seperti ada ribuan berkumpul, sedang bersukacita.
Terdengar lagi seruan kencang dari toa raksasa. pengunjung kembali bersorak, bertepuk tangan.
"Mereka mengucapkan selamat datang."Seli yang menjawab---Seli memang bisa bahasa Klan Matahari.
Ali mengeluarkan alat penerjemah otomatis dan menyodorkannya kepadaku. juga memasang miliknya.
"Selamat datang! Sungguh kedatangan yang hebat! Portal yang hebat! Hadirin warga Klan Matahari yang berbahagia, inilah dia salah satu kontestan tahun lalu. Datang dari klan lain!"
Tepuk tangan bergerumuh.
__ADS_1
"Raib dari Klan Bulan!"
"Seli dari Klan Matahari!"
"Dan…… Ali dari Klan Bumi! Tiga penunggang harimau putih perkasa. mari kita sambut sekali lagi, pemetik bunga matahari pertama mekar tahun lalu, RAAAIBB!"
Seluruh stadion bertepuk tangan. Wajah-wajah
close up kami terlihat di layar-layar hologram raksasa. rekaman video kami menunggangi harimau putih diputar di layar hologram.
"Eh, apakah ini pembukaan festival bunga
matahari?" Seli bertanya cemas. Tahun lalu,saat kami tiba di stadion ini,kami di paksa mengikuti kompetisi mematikan Klan Matahari. jangan-jangan, kami juga harus melakukannya sekarang.³
"Itu separuh benar, Seli!" Suara yang kami kenal datang menyapa. Av terlihat melangkah menyambut kami di tribun utama." Kamu benar menebak Festival Bunga Matahari Tapi ini penutupan Festival Bunga Matahari, bukan pembukaan."
Terdengar lagi pengumuman dari toa raksasa."Hadirin sekalian penduduk Klan Matahari yang berbahagia!" setelah sembilan hari penuh petualangan mendebarkan, tinggal beberapa menit lagi kita akan tiba di pengunjung kompetisi ini. sebentar lagi para peserta akan mengetahui di mana titik bunga matahari pertama mekar itu akan muncul. tersisa empat tim! mereka susul-menyusul menuju titik terakhir. dimanakah bunga itu akan mekar? siapakah yang akan berhasil memetiknya tahun ini? kota tunggu beberapa menit lagi, puncak kompetisi."
Aku menatap layar-layar hologram yang menampilkan empat tim yang melesat cepat dengan hewan tunggangan mereka. ini masih pukul lima pagi di Klan Matahari. 30 menit lagi matahari akan terbit. persis cahaya pertama. menyiram pepohonan, bunga itu akan mekar. aku baru tahu kompetisi ini disiarkan secara langsung. Ratusan ribu penonton memadati stadion setiap kursi stadion,tidak peduli masih pagi buta. festival tahunan ini sangat penting bagi mereka.
"Halo, Raib,Seli, dan Ali kita bertemu lagi."seseorang muncul di belakang Av,turut menyapa kami. aku menoleh. dia Mala-tara-nata ||, Ketua Konsil Klan Matahari."kalian datang tepat waktu.kami telah menunggu sejak tadi-------"
"Dan kita tidak banyak waktu lagi," Av memotong ucapan Mala-tara-nata ||." ayo semua masuk ke ruang pertemuan, kita harus berdiskusi segera." Av segera balik kanan, melangkah lebih dulu. sebuah pintu terbuka di tribun utama tempat kami mendarat. kami segera menyusul Av, melintasi kursi-kursi penonton, diikuti lambaian penonton, dan masuk ke ruangan dengan lantai keramik.
Saat pintu itu di tutup, ingar-bingar stadion di luar terputus. ruangan ini kedap suara. kami bisa melihat kesibukan penonton lewat dinding transparan,juga layar-layar hologram di dinding ruangan, yang menakjubkan empat tim melesat cepat berburu waktu.
__ADS_1
Ada meja panjang di ruangan itu, dengan dua belas kursi. separuh lebih telah di isi oleh tokoh-tokoh penting Klan Bulan, Matahari dan---
"Wahai… Putri Bulan Raib! petarung tangguh Klan Matahari Seli, dan si genius dunia paralel Ali." seseorang menyapa, suara seraknya terdengar khas.