
Aku dan Seli telah keluar dari tribun utama, lompat menyusul Faar dan yang lain.
"Selena dan Panglima Bayangan, aktifkan selaput pelindung. Tutup area rumput stadion!" Faar memberi perintah, tubuhnya melayang turun dari tribun menuju pusat stadion.
Miss Selena mengangguk. di bantu beberapa panglima Pasukan Bayangan dia segera berlari lincah meniti kursi-kursi ke sekeliling stadion, membuat tameng transparan raksasa berbentuk kubah, melindungi penonton dari pukulan berdentum, Sambaran petir, apapun yang nanti bisa keluar dari tengah stadion.
"Hyuga-gara-tara ||| mengangguk, beberapa perwiranya segera mengaktifkan mode situasi darurat. Sirene meraung di langit-langit stadion, kapsul-kapsul evakuasi meluncur,juga tatakan terbang terbentuk nampan, melesat membawa penonton satu per satu keluar dari stadion. tidak ada waktu, mereka harus bekerja cepat suana kacau-balau, sebelum pertemuan meletus dibawah sana.
Sementara itu, tanpa menunggu siapapun, si Tanpa Mahkota telah melangkah mendekati bunga matahari itu di pertempuran stadion. tinggal sepuluh langkah.
"Hanya pemenang kompetisi yang berhak memetik bunga itu, wahai si Tanpa Mahkota!" Faar berseru melesat cepat menghalangi si Tanpa Mahkota, terbang di atas barikade.
Langkah si Tanpa Mahkota terhenti. dia mendongak, menatap Faar yang mengambang di atasnya.
Av, Panglima Tog, Mala-tara-nata ||, Laksamana Laar dan rombongan kami telah mendarat di rerumputan, beberapa meter di luar barikade yang mengelilingi bunga matahari. kami di hadang oleh pasukan tak dikenal, yang di pimpin oleh Tamus dan Fala-tara-tana |V.
Si Tanpa Mahkota hanya melihat Faar sekilas, lantas melanjutkan langkah, sama sekali tidak peduli dengan ancaman tongkat Faar yang bercahaya.
Demi melihat itu, Faar tidak menunggu dan langsung menyerang. hanya itu satu-satunya cara menghalangi si Tanpa Mahkota dari bunga matahari. Pukulan berdentum melesat keluar dari tongkatnya.
BUM!
Si Tanpa Mahkota lebih dulu membuat tameng transparan.
__ADS_1
Persis saat suara dentuman terdengar memekakkan telinga. pertempuran meletus di stadion. Av, Panglima Tog, Mala-tara-nata ||, Laksamana Laar ikut menyerbu. barikade pasukan tak di kenal itu menahan serangan, menutup akses ke bunga matahari.
"Raib! jangan diam saja, bantu yang lain!" Ali berteriak disebelahku. dia sejak tadi sudah mengaktifkan Sarung Tangan Buminya. jemari tangannya berbulu seperti beruang.
Seli disebelahku juga telah merengsek maju, melepas petir biru.
Aku mengusap wajah. pemandangan ini……
Baru beberapa menit lalu aku meninggalkan rumah dalam suasana damai dan tentram. sekarang? aku berada kecamuk pertempuran.
Lihatlah.di tengah barikade, Faar sekali lagi mengirim pukulan berdentum, berusaha menghancurkan tameng transparan milik si Tanpa Mahkota. itu pukulan berdentum yang kuat sekali, tapi jangankan hancur, tameng transparan itu tergores pun tidak.
"Siapapun yang bisa melakukannya, petik bunga matahari itu lebih dulu! Atau hancurkan!" Av memberi perintah.
Panglima Tog menyerbu bersisian dengan Laksamana Laar, di dukung Panglima Perang Klan Bulan lainnya, menyerbu sisi kanan barikade. ada Fala-tara-tana |V telah menunggu di sana bersama pasukannya. Tubuh Fala-tara-tana |V mengambang di udara, tangannya bergemelutuk mengeluarkan petir biru. pertempuran segera pecah di antara mereka. aku teringat pertarungan setahun lalu, Fala-tara-tana |V jelas tidak mudah di kalahkan. karena Hana mengorbankan jutaan lebahnya, kami jadi bisa mengalahkan Fala-tara-tana |V. petir birunya menyambar siapapun yang berani mendekati lingkaran, pasukan dibelakangnya juga mengirim petir dan pukulan berdentum.
BUM!!!
Pukulan berdentum Ali mengenai sesuatu, tapi tertahan.
"Mengagumkan!" Seseorang berseru dari balik tameng transparan. Tamus menahan serangan Ali, membantu pasukannya yang kewalahan." Bocah kecil yang dulu hanya mengunakan pentungan kasti sekarang berubah menjadi kuat sekali. Di mana pentungan kasti mu dulu, hei Bocah?"
Ali mendengus marah. Plop! tubuhnya menghilang kemudian muncul persis di depan Tamus, siap mengirim pukulan berdentum. Namun, dua pasukan tak dikenal, anak buah Tamus lebih dulu mengirim pukulan tersebut ke arah Ali. Tidak sempat menghindar, tubuh Ali terbanting ke belakang terkena serangan, tersungkur di rerumputan.
__ADS_1
Ali bangkit menyeka wajahnya yang kotor, tapi dia baik-baik saja.mode"Beruang"melindungi fisiknya dari benturan.
"Kamu sepertinya lebih jago memakai pentungan kasti itu, Bocah" Tamus terkekeh.
Sementara Ali memasang kuda-kuda, giliran Seli maju mengirim petir biru. Tamus menangkisnya dengan tameng transparan, sekaligus melepas pukulan berdentum. cepat sekali gerakan Tamus. sepertinya teknik bertarungnya juga meningkat pesat selama dia di Penjara Bayangan di Bawah Bayangan.
Seli tidak sempat menghindar, pukulan itu akan mengenainya. Miss Selena yang telah selesai membuat selaput Pelindung langsung bergabung segera membuat tameng membantu Seli. juga Hyuga-gara-tara ||| dan perwira tinggi Pasukan Matahari. dua front pertempuran terbentuk. Satu pihak berusaha menembus barikade mendekati bunga matahari, satu pihak lagi mempertahankan barikade. dentuman pukulan dan sambaran petir susul-menyusul, menggelegar bersama teriakan kesakitan dan suara tubuh terbanting. Rerumputan stadion berlubang dimana-mana---setidaknya pukulan itu tidak mengenai penonton yang masih dalam evaluasi karena Selaput Pelindung menahannya.
Aku masih berdiri di antara dua front pertempuran. aku mencemaskan sesuatu. Lihatlah! di dalam barikade, Faar sendirian menantang si Tanpa Mahkota, tidak ada yang membantunya. aku tahu Faar petarung hebat, tapi apakah dia punya kesempatan melawan legenda berusia dua ribu tahun?
"Hanya peserta kompetisi yang berhak memetik bunga itu, wahai si Tanpa Mahkota!" Faar sekali lagi. dia berusaha memperlambat lawan.
Si Tanpa Mahkota menatap dari balik tamengnya, kali ini dia memberikan perhatian.
"Aku tidak mau menyakitimu, wahai Pemegang Tongkat Bulan! Menyingkirlah!" Suara si Tanpa Mahkota terdengar lantang. jika suasananya berbeda, suara itu sangat mengagumkan. intonasinya terkendali dan berwibawa. dia jelas mewarisi darah keturunan raja-raja termasuk cara berbicaranya.
Faar menggeleng. dia tidak akan menyingkir. sudah menjadi tugasnya mencegah si Tanpa Mahkota. jika dia tidak bisa menghentikan, ada cara lain. Faar mengarahkan tongkatnya ke arah bunga matahari, hendak menghancurkannya lebih dulu sebelum dipetik.
BUM! Faar tetap melepaskan pukulan berdentum ke arah bunga matahari.
BUM! Dia melepaskan pukulan berdentum.
"Faar! aku berteriak, melesat cepat menyambar tubuh Faar.
__ADS_1
Dua pukulan berdentum baru saja bertemu di udara, suaranya membuat stadion berderak saking kuatnya. membuat pertarungan dua front terhenti beberapa detik. Dahsyat sekali pukulan berdentum yang dilepaskan si Tanpa Mahkota. tubuh Faar terpelanting di udara. aku bergegas menyelematkan nya.
Aku mendarat di rerumputan di tengah barikade sambil membopong tubuh Faar. kondisi Faar buruk, ada gumpalan darah keluar dari mulutnya. dia berusaha duduk dengan kaki gemetar.