
Lima belas menit berdiam di tempat kami mendarat, tidak ada kemajuan,aku memutuskan bergerak.
"Jika ada perahu nelayan tertambat di sini, itu berarti ada perkampungan di pulau ini, Seli, Ali, kita harus menemukannya, menumpang berteduh. mungkin mereka bisa membantu."
Seli mengangguk. Ali juga ikut berdiri.
Di tengah badai kami bertiga melangkah sembarang arah.
Kami tidak mengenali pulau ini, jadi lebih kami berjalan di atas pasir pantai dulu. masuk ke dalam pulau terlalu berbahaya. kami tidak tahu apa yang ada di balik pepohonan kelapa. bagaimana jika si Tanpa Mahkota mendarat di sana?Kami tidak siap bertarung dengannya. lagi pula, jika ada perkampungan nelayan, kemungkinan besar ada di pinggir di pinggir pantai.
Aku berjalan di depan, Ali belakang ku, sementara Seli,sambil mengangkat tangannya, menerangi sekitar kami dengan Sarung Tangan Mataharinya yang menyala.
Tiga puluh menit kami terus berjalan di pantai, menerobos badai, hujan deras, di antara dentum ombak menghantam. langkah ku mendadak terhenti.
"Ada apa, Ra?" Seli bertanya.
"Kita kembali ke titik semula." aku menunjuk perahu yang tertambat di dermaga di depan kami. aku hafal, ada tiga perahu layar. di sana
"Itu berarti pulau ini tidak besar." Ali memeriksa sekitar, memastikan." Tiga puluh menit berjalan, kita kembali ke titik semula. Lingkar pulau ini hanya tiga kilometer maksimal. diameter hanya 700-800 meter."
"Apa yang harus kita di lakukan sekarang. Ra?" Seli menggigil kedinginan. suhu udara semakin turun.
Baik, aku mengatupkan rahang. saatnya memeriksa bagian tengah pulau. mungkin kami akan menemukan perkampungan di balik pepohonan kelapa yang tumbuh rapa.
Seli kembali mengangkat tangannya. kami butuh penerangan untuk menerobos semak bakau, rerumputan setinggi paha, dan rapatnya pohon kelapa. Kesiur angin kencang membuat pohon-pohon itu seperti akan tercabut. sesekali Seli mendongak. aku tahu maksud ekspresi wajahnya, dia cemas jika ada kelapa yang jatuh menimpa kepala kami.
Kami terus berjalan menerobos badai, memeriksa bagian tengah pulau.
Sepuluh menit kemudian, kami tiba di sisi lain pulau. Pasir lembut.
Kosong.
Aku kembali lagi memutuskan memeriksa, berbalik arah. Tetap kosong.
Tidak ada bangunan apa pun di pulau ini. kami kembali ke titik pendaratan semula. bagaimana kalau kami seperti di film-film, terdampar di pulau tak berpenghuni, berpenghuni, bertahun-tahun baru bisa menemukan jalan pulang?
__ADS_1
"Pulau ini masih berpenghuni,Seli!" Ali menggeleng, mengusir kecemasan baru.
Seli mengusap wajah, menatap Ali.
Atau ada hantu di pulau ini? mereka yang menjaga kapal-kapal layar?"
Ali berseru gemas," Kamu terlalu banyak nonton drama Korea hantu-hantuan, Seli. tidak ada hantu di dunia paralel. semua fenomena di dunia paralel bisa di jelaskan lewat pengetahuan dan teknologi. bahkan pelajaran biologi dasar dari Pak Gun cukup untuk menjelaskannya."
"Tapi dimana perkampungannya? siapa pemilik tiga kapal layar itu?" tanya Seli lagi
"Atau begini, mungkin hanya tempat mereka mencari ikan. Nelayan menambatkan perahu-perahu mereka, mereka sesekali datang ke sini perkampungan mereka ada di pulau lain dekat sini." aku coba memikirkan kemungkinan lain.
"Nah, itu penjelasan yang lebih baik." Ali mengangguk setuju." jika begitu,tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang selain menunggu badai ini reda. mungkin beberapa jam lagi,saat laut kembali tenang, ada nelayan yang datang ke sini. kita bisa menumpang perahunya.
Ali kembali duduk di pasir lembut. dia meluruskan kaki, membiarkan tubuhnya terkena lidah ombak yang terus menghantam. kami sudah basah kuyup sejak mendarat di sini
tidak ada gunanya lagi menghindari air.
...***...
Aku ikut duduk di samping Ali, menatap ke depan, ke arah lautan yang menggelora. badai ini besar sekali. udara terasa dingin menusuk tulang. teknologi pakaian hitam-hitam yang kamu kenakan membantu melindungi kami dari hipotermia.
"Pukul berapa sekarang?" Seli bertanya. dia menatap langit.
Aku ikut mendongak menatap langit. Gelap. awan hitam menutup celah langit. aku tidak tahu sekarang jam berapa.
peralatan Ali tidak ada yang berfungsi. apakah ini siang hari?atau apakah ini malam hari?
Lima belas menit berlalu lagi.
"Bagaimana dengan keadaan situasi stadion Matahari sekarang, Ali?"
"Apa maksudmu Seli?"
"Apakah mereka berhasil mengalahkan Tamus dan fala-tara-tana |V? apakah penonton berhasil di evakuasi? tidak ada yang terluka?"
__ADS_1
"Seharusnya kamu lebih mencemaskan nasib kita." Ali menggerutu.
Seli menoleh."Apa maksudmu?"
"Situasi kita lebih buruk dibandingkan mereka. kita terdampar di tempat asing. daripada mencemaskan mereka---"
Ali mengangkat bahu.
"Mereka baik-baik saja," aku menyela kalimat Ali. Ali tidak pernah sensitif soal ini. dia seolah lupa bahwa Seli memang selalu mencemaskan nasib orang lain dibanding dirinya sendiri. itu sifat Seli. entah itu sebuah kekuatan atau kelemahan.
"Yeah, mereka baik-baik saja. aku yakin Tamus dan fala-tara-tana |V bergegas mundur saat si Tanpa Mahkota berhasil masuk ke dalam portal. Misi mereka hanya memastikan tuan mereka bisa menggunakan bunga matahari itu.
mereka belum siap bertempur secara terbuka, apalagi jika kondisi armada tempur tiga klan tiba."Ali bangkit berdiri.
"Eh, kamu mau ke mana?"
"Perutku lapar, Ra. aku akan mencari makanan. sejak kemarin sore aku belum makan. terlalu asyik memeriksa peta di lantai basement."
Ya ampun! Dalam situasi badai, kacau-balau begini, Ali masih memikirkan perutnya?
Ali sudah melangkah menuju dermaga kayu.
"Apa yang dia lakukan?" Seli menatap ku.
"Mungkin memeriksa perahu layar milik nelayan." Aku ikut berdiri, disusul Seli. kami menunggu di pangkal dermaga.
Tidak mudah berjalan di dermaga kayu yang menjorok ke laut. itu bukan dermaga dengan tiang kokoh. itu hanya potongan balok dari pohon kelapa yang disusun memanjang, kemudian di ikat dengan tali. Dermaga itu bergerak-gerak tidak stabil mengikuti irama lautan, bahkan aku khawatir ikatannya terlepas. sementara ombak setinggi dua-tiga meter menghantam dari depan.
Ali cekatan naik ke atas salah satu perahu layar. Perahu layar itu tidak besar, hanya muat dua-tiga orang, panjangnya empat meter. Tiangnya terikat di samping perahu. Ali menyibak lipatan layar m, membongkar papan, memeriksa ruang dibawah tempat duduk pengemudi, tempat nelayan biasa menyimpan barang-barang. hanya ada peralatan menangkap ikan di sana. Ali pindah ke perahu layar berikutnya, juga tidak ada apa-apa selain pakaian kering yang tersimpan rapi di kotak kedap air. barulah di perahu ke tiga dia menemukan bungkusan besar. Ali menemukan" harta karun."
Ali membawa bungkusan itu ke tepi pantai.
"Apa isinya?" Seli bertanya.
"Buah. setidaknya buah-buahan ini kita kenal." Ali membuka bungkusan di atas pasir. ada
__ADS_1
pisang dan apel. terlihat segar dan ranum.