
"omong-omong,Ra." Seli bicara lebih dulu sebelum aku kembali bertanya.
Aku menatapnya."Apa?"
"Kamu jangan terlalu galak kepada Ali, Ra?"
"Memangnya kenapa?"Aku merasakan sesuatu yang ganjil dari cara Seli bicara.
"Yeah, maksud ku…dia kan teman baik kita." Seli tersenyum penuh arti.
"Terus kenapa?"
"Dia tidak menyebalkan itu kok, Ra. dia genius, selalu tahu banyak hal. Teman yang baik. Dan terlepas dari itu," Seli menahan tawa," Kalau kamu keseringan galak padanya," lama-lama kamu malah suka sama Ali lho."
Wajahku menghangat. Aku hampir saja menimpuk Seli dengan gulungan tisu, menyuruh dia diam. tapi mana mau Seli diam. dia terus menggoda ku.
"Lagi pula, Ali itu sebenernya sangat perhatian padamu, Ra. coba lihat novel yang ku baca tadi pagi." Seli terus berkata pelan, sengaja menurunkan intonasi suara karena membahas dunia paralel." Sejak lama aku meminta Ali mendapatkan novel itu dari Klan Bulan. tidak pernah dia iyakan, permintaan ku dianggap angin lalu. Tapi kemarin pagi, saat aku bilang Raib juga ingin membaca novel itu tapi Raib malu bilang langsung padanya, jadi dia bisa titip saja novelnya padaku. entah bagaimana caranya dia mendapatkan novel itu langsung dari Kota Tishri." Seli tertawa lebar.
Aku betulan menimpuk Seli dengan tisu. tadi apa Seli bilang,hah?" Aku baru tahu aku dimanfaatkan oleh Seli untuk mendapatkan novel tersebut. Dan, eh, Ali langsung mencari novel itu karena itu karena Seli bilang akulah yang ingin membacanya? Aku yakin wajahku semakin memerah seperti kepiting rebus.
...****...
pelajaran kedua dan ketiga berjalan normal, hingga bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring. Murid-murid bergegas tas masing-masing.
Aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku memutuskan memutuskan menuju rumah Ali.
" Ali jelas telah membuka portal antarklan, Seli. aku harus tahu apa sebenarnya dia lakukan." Aku berkata tegas saat Seli mencegahku.
"Baiklah. Aku ikut bersamamu ke rumah Ali. Setidaknya kalau kamu mendadak mengirim pukulan berdentum ke arahnya, aku bisa melerai kalian."
__ADS_1
Kami berdua naik angkot. jam pulang sekolah, jalanan macet, angkot seperti siput yang merayap. andai saja aku bisa bebas melakukan teleportasi, hanya 5 menit kami sudah tiba di rumah Ali.
Aku menghembuskan nafas pelan, meraih ponsel, mengirim pesan pada Mama bahwa aku pulang lambat, mampir ke rumah teman.
satu jam di angkot, akhirnya kami tiba di depan rumah orang tua Ali yang besar dan megah. Rasanya aneh turun dari angkot di depan gerbang besar rumah Ali. maksudku, lihatlah,
ini lebih mirip kompleks istana dibanding rumah.lebih masuk akal kalau yang turun di sini orang yang naik mobil mewah. mungkin orang lain yang melihat kami akan menyangka aku dan Seli pembantu atau anak pembantu di rumah besar ini. aku mengusap keringat di leher. setelah tadi pagi gerimis, siang ini matahari terik menyiram kota, membuat berpeluh.
"Halo, Raib, Seli. apa kabar?" penjaga gerbang mengenali kami, menyapa ramah.
Aku mengangguk lalu membalas menyapa.
"mencari tuan muda Ali?"
Aku sekali lagi mengangguk.
"Baik, langsung saja masuk. Tuan muda Ali sepanjang hari ada di kamarnya. dia tidak mau sekolah, entah sedang mengerjakan apa di basement sana. tidak asa yang berani menganggu nya. Tuan senior dan nyonya sedang di luar negeri. tapi kalian berdua mungkin pengecualian, dia tidak akan marah." penjaga gerbang membuka gerbang dengan tombol, gerbang besi bergeser mulus.
kami langsung menuju ke basement----- Aku tahu jalannya.beberapa petugas rumah berpapasan dengan kami dan menyapa. aku balas mengangguk sopan. kami terus berjalan hingga ujung tangga lantas menuruni anak tangga marmer putih. begitu tiba di depan pintu besar basement, aku mendorongnya.
Aku pikir aku akan menemukan basement yang suram, berantakan, dipenuhi peralatan eksperimen Ali, seperti selama ini, ternyata tidak.aku berdiri termangu. lihatlah, basement seluas separuh lapangan bola tempat Ali tinggal itu berubah menjadi bersih,cerah, dan, eh, ini apa sebenarnya.
"Raib! Seli!" Ali berseru dari tengah basement dia berdiri di sana, di dekat meja kayu. ada ILY terbang mengambang disebelahnya.
"Hei, tuan muda Ali!" Seli balas berseru lalu tertawa. Seli melangkah lebih dulu, aku menyusul tiga langkah tertinggal, memperhatikan sekitar. aku seperti berada di atas lautan biru yang luas dengan pulau-pulau dan gunung-gunung. entah bagaimana caranya, Ali menyulap basement nya menjadi peta digital raksasa. Itu tetap lantai basement yang sama, lantai marmer,tapi cahaya lampu dari langit-langit yang menyiram lantai membentuk siluet, atau proyeksi digital tiga dimensi, membentuk peta terasa nyata. Aku seperti raksasa yang sedang berjalan di atas lautan sedalam betisku, melangkah melewati gunung -gunung berkabut, gugusan pulau-pulau. sesekali aku refleks menghindarinya. seolah itu betulan. Tetapi Seli tidak dia berjalan santai mendekati posisi Ali.
ILY kapsul terbang berbentuk bulat berwarna perak yang selama ini menjadi kendaraan kami bertualang, terbang menyambut kami." Selamat siang,RAIB, Seli." benda itu menyapa dengan suara khas milik I|y. kapsul perak itu mendesing terbang mengambang di dekat kami.
"Hei, ILY. senang bertemu dengan mu." Seli membalas riang. Selalu menyenangkan bertemu ILY.
__ADS_1
Aku hanya melambaikan tangan sekilas kepada kapsul terbang itu. aku sedang fokus kepada Ali, terus berjalan.
Kenapa kamu kesini, Ra?" Ali bertanya saat aku tiba.
"Kalau kamu datang hanya untuk mengomel, aku sibuk."
Seli tertawa.
Aku melotot menatap Ali tapi perhatianku lebih tertuju pada lantai. Ali memang terlihat sibuk. dia memegang benda seperti kali dia menggeser sesuatu, peta digital tiga dimensi. di lantai basement bergeser. gunung-gunung dan pulau-pulau itu bergerak. di samping kami ada meja dengan tumpukan buku di atasnya.
"Ini, apa?" Aku menelan ludah. barusan sebuah gunung melewati ku. aku lagi-lagi refleks menghindar, seolah itu benar-benar menabrak kakiku.
"Peta, Ra." Seli yang menjawab. dia tidak terlihat kaget, malah melihat lantai.
Aku menoleh kepada Seli."Kok kamu bisa tahu?
Seli mengangguk." Ali sudah bilang soal ini saat menyerahkan novel kemarin."
Aku menatap Ali dan Seli bergantian. mereka merahasiakan sesuatu dariku?Satu, novel itu, Dua, kurir dunia paralel, Tiga, peta ini. sejak kapan ada rahasia di antara kami?bukankah kami sepakat semua harus di bicarakan?.
Ali mengangkat bahu, jika aku memberitahumu, Ra. jadi lebih kulakukan saja tanpa bilang-bilang. nanti juga kamu sendiri tahu.
"Ini peta apa, Ali?" aku berseru, bertanya tegas.
"Lihatlah!" Seli menunjuk.
Aku menoleh ke arah yang di tunjuk Seli, sebuah daratan besar mendekat ke kakiku. sepertinya aku mengenalinya. sebuah kota terlihat di lereng gunung tinggi. gedung-gedung berbentuk kotak, jalanan kota, stadion besar, itu di proyeksi tiga dimensi yang nyata sekali. seperti asli.
"Ini seperti peta Klan. Matahari, Ra." Ali yang menjawab lebih dulu." Kota |lios. seharusnya kamu mengenalnya. aku sedang mencari sesuatu di Klan Matahari."
__ADS_1
Peta terus bergeser, kembali ke lautan lautan