Komet

Komet
12. terjebak di sebuah pulau.


__ADS_3

Gelap.


Aku belum pernah melewati lorong berpindah seperti ini. ini lebih buruk dibanding teknik perapian Klan Matahari, juga di banding lorong berpindah Padang sampah ataupun portal cermin Batozoar.


Tubuhku seperti meluncur jatuh dari ketinggian ribuan meter, sensasi yang membuatku berteriak ngeri. Seli ada di sampingku, juga berteriak. aku sudah susah payah mengendalikan tubuh. aku juga mendengar Ali berteriak di bawah sana. sekeliling kami gelap.


Satu menit dalam sensasi terbang tubuhku akhirnya terhenyak kencang. Kakiku menyentuh sesuatu, aku mendarat. tubuhku terbanting jatuh, kemudian kurasakan tubuh Seli menimpaku. berdua bergulingan. aku mengaduh, sikut Seli mengenai wajah ku.


Gelap. tetap gelap di sekitar kami. apakah kami masih berada di portal yang dibuka bunga matahari? apakah masih ada kelanjutan sensasi jatuh?kami belum diujung portal? suara angin terdengar kencang. Basah. tubuhku basah kuyup. kami jelas telah tiba di tempat tujuan, tapi kami ada dimana?


Aku berusaha bangkit berdiri dengan kaki gemetar, mataku segera menyibak sekeliling. Perlahan pemandangan di sekitar kami semakin jelas. tapi masih samar-samar.


angin terdengar kencang lagi, gelombang air setinggi dua meter menyiram tubuhku. sepertinya berada di tepi sebuah pulau. Lautan sedang mengamuk. badai. Ombak tinggi menghantam apa saja. Hujan deras. kakiku tenggelam di pasir lembut, kami mendarat di tepi pantai. Aku membantu Seli.


"Kamu baik-baik saja, Seli?" aku berteriak berusaha mengalahkan suara ombak.


Seli menggeleng, dia tidak baik-baik saja. wajahnya pucat, tapi dia bisa berdiri. tubuhnya gemetar. Satu, karena efek jatuh bebas dari lorong berpindah barusan, Dua udara di sekitar kami memang dingin sekali, menusuk tulang membuat menggigil.


"Dimana Ali?" tanya Seli sambil menatap sekitar


"Aku tahu, Seli." Sekeliling kami gelap, jarak pandang hanya beberapa meter. Kondisinya lebih baik dibandingkan aku dan Seli. dia masih dalam wujud "beruang" saat lorong, jadi bentuk itu membantu banyak Ali terjatuh.


"Kalian baik-baik saja?" Ali bertanya.


"Kita ada di mana?" Seli balas bertanya. Kini bisa berdiri lebih baik.


"Sepertinya kita ada di pulau, di samudra luas."


"Apakah ini pulau dengan tumbuhan aneh itu?"


" Sepertinya bukan, Seli. ini pulau nelayan." Ali menunjuk ke depan. kami melihat beberapa perahu layar tertambat di dermaga kayu, yang terbanting ke sana kemari seperti sabut di tengah badai. jika pulau ini ada penduduknya, ini jelas bukan pulau. terpencil itu. tidak akan ada pohon aneh di sini.

__ADS_1


"Di mana si Tanpa Mahkota?" Aku bertanya kepada Ali.


"Aku tidak tahu."


"Apakah kamu sempat melihat di lorong berpindah tadi?"


Ali menggeleng." Dia bergerak cepat. Aku tidak melihatnya. Perbedaan dua detik memasuki portal bisa jauh sekali jaraknya, Ra. Lagi pula lorong itu gelap. mungkin dia mendarat di sisi pulau."


"Apakah dia tahu kita mengikutinya."


Ali menggeleng." Kemungkinan besar tidak. dia tidak akan menduga ada yang berani mengikutinya masuk portal. hanya orang gila yang berani mengikuti si Tanpa Mahkota."


Seli menyeka wajahnya yang basah. "Orang gila itu adalah kau, Ali."


Ali terdiam.


"Apa yang kamu lakukan, hah? kenapa kamu tiba-tiba nekat lompat masuk ke dalam portal?"


"Apanya yang masuk akal? kita terdampar di tempat antah-berantah sekarang. itu sangat berbahaya, Ali. bagaimana jika si Tanpa Mahkota mendadak menyerang kita di lorong berpindah dan kita tidak bisa menghindar atau dia diam-diam dan menunggu di sini, menghabisi kita."


"Kita tidak bisa mencegah si Tanpa Mahkota pergi, Seli. bahkan Faar tidak bisa melawannya. maka jalan satu-satunya agar posisi kita sana kuat dengannya adalah kita ikut masuk ke portal membututi dia. Lagi pula, aku tidak minta kalian menyusul ku. kalian bisa aman di stadion."


Aku menepuk dahi tentu saja aku dan Seli akan menyusul.


"Apa kamu bilang?" Seli mulai kesal.


"Aku tidak meminta mu menyusul, Seli! kenapa kalian ikut menyusul?" Ali mengulangi kalimatnya, tidak sensitif wajah cemberut Seli.


"Dasar biang kerok, sumber masalah! Perusak suasana! kita selalu bersama-sama, Ali! aku tidak akan membiarkan siapapun masuk sendirian ke portal! Enak sekali kamu bilang tidak meminta kamu menyusul!" Seli terlihat marah sekali.


Aku menahan lengan Seli. dia hendak menyambar Ali dengan petir.

__ADS_1


Seharusnya aku marah juga ikut marah. aku tidak pernah bisa memahami cara berpikir Ali. tapi penjelasan Ali sepertinya masuk akal. jika kami tidak bisa mencegah si Tanpa Mahkota, kami bisa mengikutinya dari belakang. tempat ini jelas bukan pulau kecil tersebut, itu berarti masih ada perjalanan lanjutan. Si Tanpa Mahkota belum menemukan pintu portal. entah apa alasannya, itu pertanyaan yang menarik. kenapa bunga matahari itu tidak membuka portal langsung menuju pulau dengan tumbuhan aneh itu?


"Kita sekarang ada dimana, Ali?" aku bertanya setelah amarah Seli mereda.


Ali mengeluarkan benda dari tas ranselnya, remote control miliknya. itu alat canggih buatan Ali untuk mengaktifkan peta Klan Matahari, untuk mengetahui posisi kami. dia berusaha menyalakan benda itu. sambil bergumam tak jelas, Ali memukul-mukul benda itu. dia mengeluarkan benda lain dari tas ransel. hasilnya sama, dia bergumam jengkel dan memukul-mukulnya.


"Ada apa?"


"Semua peralatan ku tidak berfungsi,Ra. entahlah. sepertinya ada badai elektromagnetik besar menghalangi benda-benda elektronik bekerja. aku tidak bisa membaca peta, juga tidak bisa memanggil ILY. alat komunikasi ku dengan Miss Selena juga tidak berfungsi. kita terputus dari dunia luar.


Aku menghela napas, menyeka air dari wajah. itu kabar buruk berikutnya Tanpa tahu dimana posisi kami, tidak bisa mengontak keluar, kami terisolasi dari siapapun tidak ada yang bisa mengirim bantuan.


"Buku kehidupan!" Seli tiba-tiba berseru." keluarkan Buku kehidupan, Ra. kita bisa membuka portal Dengan buku itu, bukan? kita bisa meminta bantuan dari kota |Iios."


Itu ide yang bagus. aku segera menurunkan ranselku mengaduk isinya.


Lima detik kemudian… Hei! Buku ini tidak terlihat mengeluarkan cahaya seperti biasanya. Lengang.


"Apa yang terjadi? Kenapa buku mu tidak bekerja?"Seli bertanya Intonasi suaranya separuh cemas, separuh, separuh kecewa bercampur bingung.


Aku menggeleng. Aku tidak tahu kenapa buku PR matematika ku ini tidak bereaksi apa pun. aku mengetuk-ngetuk buku itu, membuka halamannya. itu hanya buku biasa, dengan kertas yang segera basah oleh air.


Ali menghembuskan napas panjang. dia terduduk di pantai pasir,juga kecewa. ombak berdebum di depan memekakkan telinga. Hujan turun deras, angin berembus kencang, membuat pohon kelapa meliuk-liuk. petir menyambar sesekali, membuat terang sekitar, di susul gemeretuk guntur. ini badai besar.


Aku bingung menatap. Buku kehidupan.


"Buku kehidupan itu juga alat elektronik, Ra. bentuknya saja seperti buku. Ia berfungsi mencatat perjalanan pemiliknya, sekaligus alat pembuka portal lorong berpindah digital. ini menyebalkan sekali. jika alat dengan teknologi tinggi seperti buku milik Raib tidak bekerja, berarti tidak akan ada peralatan elektronik yang berfungsi di sekitar sini. kita seperti tersesat di zaman batu. entahlah, apakah kita masih di Klan Matahari, atau berada di tempat yang benar-benar asing."


Seli di sebelahku mengeluh tertahan, ikut duduk di sebelah Ali.


Sempurna sudah kami terkunci di tempat tidak di kenal ini.

__ADS_1


__ADS_2