Komet

Komet
6. meminta izin kepada orang tua untuk pergi ke Klan Matahari.


__ADS_3

15 menit kemudian,aku telah berganti baju, membawa piring makanan, duduk di sofa dekat Mama sedang menyetrika. Mama masih asyik meneruskan pekerjaannya. Aku menemaninya sambil makan siang.


"Tadi kamu mampir ke rumah siapa, Ra?" Rumah Seli?"aku menggeleng sambil mengunyah makanan.


"Oh, berarti ke rumah Ali."


Aku mengangguk.


"Rumah Ali itu yang ada di persimpangan pusat kota itu,bukan?"rumah besar itu, Ra?"


aku mengangguk lagi.


"Anak itu, sudah rapi,sopan,baik, ternyata keluarganya kaya raya. anak yang langka."


Aku hampir tersedak makanan karena menahan tawa. apa yang yang Mama bilang? Ali sopan,dan baik?Mama benar-benar keliru. atau lebih tepatnya, Mama tertipu pencitraan Ali. Mama hanya mengenal Ali saat itu berkunjung ke rumah. setidaknya sudah dua kali datang ke rumahku. dia selalu datang dengan pakaian rapi, rambut tersisir, menyapa sopan, bicara santun. Ali sengaja tampil begitu, karena waktu itu dia sedang menyelidiki kekuatan ku, pura-pura jadi anak baik. aslinya? Eww! si putih tidur bergelung di sampingku.


"Eh, Ma…" lidah ku kaku. sejak tadi aku ingin bilang tentang besok-besok pagi-pagi aku harus ke Klan Matahari hendak meminta izin. Tapi susah sekali mengatakannya.


"Ada apa, Ra?" Mama menoleh.


"Eh, si Putih, kucing ini dulu punya siapa?"aduh, kalimat ku malah berbelok-belok jauh sekali.


"Mama tidak tahu, Ra. Kan Mama sudah cerita berkali-kali. ada yang meletakkan kotak berisi anak kucing di depan rumah saat ulang tahun yang kesembilan."


Tentu saja aku sudah tahu soal itu. Kotak itu berisi dua putih, yang satu berbulu hitam dengan bintik-bintik hitam. aku memberi nama si Putih dan si Hitam. aku tidak tahu ternyata si Hitam tidak terlihat oleh siapa pun.


"Segera selesaikan makanannya,Ra. kalau sudah selesai,tolong cuci piring di dapur."


"Baik,Ma." meneruskan makanan. Mama sedang sibuk, tidak mudah bicara soal perjalanan ke Klan Matahari saat Mama sedang menyetrika. mungkin nanti sore saat sedang santai.


...****...


Tapi sore harinya juga tetap tidak mudah.


Setrikaan Mama sudah beres. juga masakan untuk makan malam--aku membantu Mama masak. pukul 17.00, Mama sudah mandi, duduk nyaman di sofa depan televisi. sejak dua bulan lalu kami berlangganan TV kabel, sejak Seli


"meracuni" Mama soal drama Korea. aku ikut menemani Mama menonton.


Aku tidak menikmati serialnya. sejak tadi aku menimbang-nimbang kalimat soal perjalanan besok. sayangnya, kalimat itu tidak kunjung keluar. tapi aku harus bilang,kan? satu jam berlalu sia-sia, episode baru drama Korea yang kami tonton hampir habis.


"Ma…"


"Ya?" Mama menatap televisi.


"Besok pagi-pagi Ra harus ke Klan Matahari. apakah Mama mengizinkan?" seharusnya kalimat itu keluar dari mulutku. seharusnya.


"ada apa, Ra?" Mama menoleh.

__ADS_1


"Eh, Papa pulang jam berapa?" justru kalimat ini yang keluar.


"Seperti biasa." Mama kembali menonton.


Aku bergumam dalam hati. Aduh, ini tidak susah, seperti Ali yang mudah bilang kepada orangtuanya, atau seperti Seli yang orangtuanya malah mendukung petualangannya. Tapi aku tidak bisa. setiap kali kami membahas dunia paralel, otomatis itu akan membicarakan orang tua kandungku. Siapa mereka sebenernya?" apakah ayahku masih hidup? itu akan membuat suasana percakapan menjadi berubah.


Suara mobil memasuki halaman terdengar.


"Nah,itu Papa pulang.tepat waktu, persis drama Koreanya habis. Papamu itu suka mengomel kalau liat Mama keseringan menonton." Mama tertawa lalu bangkit berdiri.


"Tolong siapkan meja makannya, Ra. setelah Papa mandi,ganti baju kita makan malam bersama."


...*****...


Makan malam.


Aku harus bilang segera. hanya ini momen tersisa.


"Eh,kenapa Raib malam ini pendiam sekali?" Papa menoleh."Kamu tidak lagi sariawan,kan?"


Aku menggeleng.


"Piring mu juga kenapa tidak disentuh?" masakan Mama tidak enak?"Papa terus


mendesak.


"Enak kok. Raib selalu suka masakan Mama," Mama menimpali.


"Atau kamu memikirkan soal tadi pagi di mobil?


kamu akan kuliah dimana? Papa menyelidiki.


"Kuliah di mana? Papa dan Raib membicarakan soal kuliah?" tanya Mama.


"Iya. Tahun depan Raib kelas dua belas, dan tidak terasa dia kan kuliah jauh di kota lain."


"Itu menarik sekali. kamu mau ngambil jurusan apa?"Mama tersenyum.


Aku menggeleng. Aku tidak memikirkan soal itu. sambil meneguhkan diri, aku berkata" Eh, sebenarnya, Ra ingin bilang sesuatu. Bukan soal kuliah-----"


Suasana meja makan jadi berubah. Papa dan Mama menatap ku lamat-lamat.


Tapi aku masih diam, menyusun kalimat. Papa dan Mama saling tatap.


"apakah kamu akan pergi lagi ke dunia paralel?" Mama yang bicara lebih dulu.


Aku menelan ludah. mengangguk pelan."Kok Mama tahu?"

__ADS_1


Sebenarnya Mama tahu sejak tadi siang. kamu mendadak jadi lebih pendiam.juga tadi sore. itu pasti penting sekali,kan?" Mama menatap ku.


"Iya, Ma. Ra harus pergi ke Klan Matahari bersama Seli dan ali.


"Kapan?" Mama bertanya.


"Besok pagi-pagi, Miss Selena menjemput kami di rumah Seli. apakah Mama dan Papa mengizinkan?" akhirnya aku berhasil menyampaikan kalimat itu.


Mama diam. Papa mengusap rambut.


"Baru beberapa bulan lalu kamu juga bertualang ke dunia paralel. apakah itu tidak terlalu sering? bagaimana dengan sekolahmu?"


"Miss Selena akan mengurus izin sekolah Ma. Ra juga akan mengejar pelajaran. tidak akan ada masalah di sekolah." aku menjawab pelan,


menunduk.


"Apakah semua baik-baik saja?" Mama bertanya


intonasi suaranya bergetar.


Aku mengangkat kepalaku, menatap wajah Mama.


Tentu saja aku tidak bisa bilang bahwa dunia paralel justru dalam masalah besar kalau si Tanpa Mahkota berhasil lolos. hanya soal waktu kapsul-kapsul terbang berteknologi tinggi muncul di langit-langit kota kami, anak buah si Tanpa Mahkota menyerbu bumi, membuat kepanikan besar. Aku tidak bisa bilang itu.


"Semua baik-baik saja, Ma. kami hanya melakukan perjalanan perjalanan untuk belajar. aku mengarang alasan."Dunia paralel amat luas, ada banyak yang harus kami pelajari. bertemu banyak orang. mengunjungi banyak tempat. menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.


Mama terdiam.


"Berapa lama kamu pergi?" Papa mengambil alih percakapan.


"Miss Selena belum bilang berapa lama pastinya, mungkin beberapa hari. Tapi Ra janji akan pulang secepatnya."


Diam sejenak. Papa terlihat berpikir serius.


"Baik,Ra. kami mengizinkan mu pergi."


Aku tidak tahu apakah aku merasa lega atau tidak. Papa mengizinkanku dan Mama tidak lagi bicara. Tapi setelah aku kembali ke kamarku di lantai atas,beranjak tidur lebih awal, mendengar sayup-sayup"pertengkaran" Mama dan Papa di bawah sana.


"Raib bisa menjaga diri, Ma. dia sudah besar. tidak perlu di cemaskan----"


"Dia baru 16 tahun-------"


"Dia bukan anak biasa, Ma. Raib bisa menghilang. dia bahkan bukan penduduk Bumi.


"Tapi dia anak kita. Putri kita satu-satunya. tidak bolehkah jika aku mencemaskan keselamatannya? tidak bolehkah aku menghawatirkan Raib?"


Dia anak angkat kita, Ma. dia melakukan petualangan untuk menemukan jawaban siapa sebenarnya orang tuanya. melatih kekuatannya. Kita tidak bisa melarangnya. dia bukan di sini."

__ADS_1


Mama menangis. fakta bahwa aku hanya anak angkat sangat menyakitkan bagi Mama yang membesarkan ku penuh kasih sayang sejak aku bayi.


Aku menarik bantal, menutup kuping, berusaha tidur.


__ADS_2