
Seli membutuhkan benda solid, sedangkan air tidak mudah dikendalikan. apalagi dengan teknik pukulan teknik Seli, kapal tidak maju walau sesenti, padahal petir yang dibuat Seli sudah maksimal.
Ali akhirnya beranjak ke belakan, mengambil tempat di buritan." Minggir, Seli, Raib, biar aku yang menggembirakan kapal!"dia menggeram, berubah bentuk menjadi beruang. tangannya yang terbungkus Sarung Tangan Bumi berbulu tebal seperti tangan beruang mulai mengirim pukulan berdentum. BUUUM! kuat sekali. perahu kembali meluncur cepat menuju arah arah matahari terbenam.
"Dasar petarung Klan Bulan yang lemah!" Ali meledakku. dia berdiri gagah." baru setengah jam kamu sudah kelelahan, Ra!"
Aku mengembuskan napas keras, tidak selera menanggapi, aku duduk bersandarkan dinding perahu, beristirahat, memulihkan tenaga.
Setengah jam berlalu, si superkuat Ali ternyata lelah juga. perahu kami bergerak semakin lambat.
Apakah kamu mau gantian dengan Raib, Ali?"Seli bertanya. Sejak tadi Ali sibuk menyeka keringat. posisi berdirinya sudah lemah.
"Tidak usah!" Ali jual mahal.
aku menahan ketawa.
__ADS_1
Lima menit lagi berlalu, Pukulan berdentum Ali lebih mirip suara knalpot tersumbat. Brot ! Bukan BUM! perahu bergerak beberapa meter, berhenti, terapung-apung brot ! perahu bergerak lagi saat Ali memukul belakang dan terapung-apung lebih lama, karena Ali benar-benar kelelahan.
Ali menyerah, gengsinya kalah oleh lelah. dia menoleh, wajahnya memelas"Ra, maukah kamu gantian posisi?" Aku dan Seli tertawa.
Petualangan ini, meskipun kami sedang ada di dunia antah-berantah, tapi dengan selalu tetap bertiga, bersama sahabat terbaik, selalu saja ada momen-momen lucu. Baiklah, aku beranjak ke buritan. Ali merangkak ke tengah perahu.
BUM! aku melepas pukulan berdentum. setelah istirahat setengah jam, pukulanku kembali kencang, perahu meleset melanjutkan perjalanan.
Kami membuat peraturan kecil-----aku dan Ali akan bergantian menggerakkan perahu setiap setengah jam hingga tiba di Pulau Selasa.
"Seandainya ada ILY di sini, kita bisa bergerak lebih cepat" Seli berkata.
Dia meraih bungkusan makanan, gilirannya beristirahat. aku menggantikan posisinya, menggerakkan perahu.
"Eh? ILY bisa terbang kan? apa susahnya melintasi lautan?"
__ADS_1
"Semua benda elektronik tidak berfungsi di kepulauan ini, Seli. ILY benda elektronik, dia hanya teronggok bisu, bola perak besar tak berguna."
Seli mengangguk pelan.
"Omong-omong,bukankah teknologi sepatu yang kita kenakan bisa digunakan untuk berjalan di atas air?kita bisa lebih cepat tiba di seberang." Seli teringat sesuatu.
Itu benar, sepatu kami bisa digunakan di atas air. setahun lalu kami bertarung dengan gurita, kami menggunakannya untuk berlari di atas permukaan danau.
"Aduh, sepatu kita juga elektronik, Seli. ada sirkuit elektronik di dalamnya, teknologi mengambang di atas air. sepatu kita juga tidak berfungsi. coba saja kalau kamu mau membuktikannya. pasti tenggelam."
Seli mengangguk-angguk lagi.
"Tapi kenapa sarung tangan kita tetap bekerja? sarung tanganku misalnya, tetap bisa mengeluarkan cahaya saat badai. bukankah cahaya itu dari listrik?"
"Tidak harus listrik yang bisa mengeluarkan cahaya, Seli.
__ADS_1
Sarung tanganmu memiliki teknologi yang berbeda. termasuk pakaian yang kita kenakan, tetap bisa bekerja----lebih cepat kering, bisa berubah warna-----karena tidak ada sirkuit elektronik di dalamnya. juga ketika kamu mengeluarkan petir, itu tetap bisa, karena jutaan sel baterai di tanganmu adalah baterai organik, alamiah, bukan sirkuit listrik
buatan. Seli mangut-mangut."