
Nelayan tua itu menggeleng." Aku tidak tahu, Nak. tidak ada penduduk pulau ini yang tahu."
"Berapa banyak orang yang pernah mencarinya."Ali terus mendesak.
Nelayan itu menunjukkan jemari kedua tangannya.
"Sepuluh orang?"
Nelayan itu menggeleng."Banyak. aku lupa berapa persisnya. Ribuan tahun aku tinggal disini, raja-raja pernah datang ke sini, ke satria-satria gagah perkasa, orang-orang pintar. tapi kalian yang paling aneh. dunia ini semakin tua, semakin tidak kumengerti. bagaimana mungkin seusia kalian jauh-jauh datang ke sini mencari pulau itu?Entah apa yang dijanjikan pulau itu kepada orang-orang kebanyakan?Kekuatan? Hidup abadi? Ilmu pengetahuan? Jawaban?apakah kalian mencari itu?"
Aku menggeleng pelan. kami sebenarnya tidak mencari pulau itu untuk kepentingan apapun. Kami hanya berusaha mencegah perang besar di dunia paralel.
"Apakah beberapa jam lalu ada orang lain yang datang ke sini?"aku teringat sesuatu, si Tanpa Mahkota.
"Tidak tahu. sepanjang badai kami berada di perkampungan. aku naik ke atas hendak memeriksa badai, memperkirakan masih berapa lama lagi badai akan berlangsung, dan tidak sengaja menemukan kalian. tapi perahu layar yang tertambat di dermaga seharusnya berjumlah empat. Seseorang sepertinya telah membawanya pergi."
Aku dan Ali saling tatap. itu berarti si Tanpa Mahkota yang membawa perahu itu pergi. dia mungkin tahu tujuan berikutnya dan langsung bergerak cepat.
Bibi Nay muncul dari dapur, membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Ayo, anak-anak, hangatkan perut kalian dengan minuman hangat. Dan Kay, berhentilah bicara aneh-aneh. Anak-anak ini tidak perlu mendengar kisah ribuan tahun milikmu."
"Terima kasih." Seli berkata sopan, menerima gelas, minuman itu seperti cokelat hangat di dunia kami. kepul uapnya menggoda selera
Bibi Nay meletakkan piring berisi roti. aku menatap lamat-lamat roti itu. bentuknya persis seperti bekal yang di buatkan oleh mama tadi pagi. roti bakar.
...****...
Setelah menghabiskan isi piring dan gelas, Ali mengeluarkan benda-benda canggih dari tas ranselnya.dia mencoba mengeringkannya, sekaligus mencoba sekali lagi.
__ADS_1
"Tidak ada barang elektronik yang bekerja di sini, Nak." Paman Kay memberitahu.
"Jika tidak ada, bagaimana penduduk tahu ini jam berapa sekarang"tanya Seli.
"Jam pasir."Paman Kay menunjuk meja dekat dinding.
Ada tabung jam pasir disana, posisi jumlah pasir dibagian bawah dan bagian atasnya sama."Sekarang jam 11.15 siang hari. jika pasir bagian atasnya habis, aku akan membalik posisinya, berarti malam hari. kami menggunakan alam sekitar untuk membantu kehidupan.
"Termasuk lampu itu?"Seli menunjuk lampu berisi ikan dengan ekor menyala.
Paman Kay mengangguk.
Nelayan tua itu tidak keberatan menjawab dan menjelaskan banyak hal. dia ramah kepada pendatang. Paman Kay dan Bibi Nay lupa berapa usia mereka persisnya. Ribuan tahun kata mereka. Mereka telah tinggal di gugusan pulau itu sejak mereka bisa mengingatnya. Kami tidak heran dengan fakta itu. Penduduk dunia paralel memang bisa memiliki usia panjang sekali.
Lewat percakapan, kami segera tahu bahwa pulau tempat kami mendarat adalah salah satu dari gugusan pulau di samudra luas. ada tujuh pulau disana, yaitu Pulau Hari Senin, Pulau Hari Selasa, hingga Pulau Hari Minggu. nama-nama yang unik. Beberapa pulau memiliki ukuran lebih besar, dihuni oleh nelayan Suku Laut jauh.
"Hampir semua perkampungan nelayan ada di bawah tanah. Satu-dua ada di permukaan. kami sengaja membangunnya dibawah tanah untuk melindungi penduduk dari sesuatu."
Paman Kay tertawa lepas sambil menggeleng. "Nelayan tidak takut badai, Nak. kami hidup bersama badai. kenyang menghadapi topan lautan. kami membangun perkampungan ini di bawah di bawah tanah untuk melindungi diri dari perompak."
"Perompak?"
"Ya, Selain nelayan, para perompak juga tinggal di gugusan pulau ini. mereka suka menyerang perkampungan nelayan, perahu-perahu, mengambil hasil laut, makanan peralatan. ada beberapa kelompok perompak, mulai dari yang level rendah hingga yang paling kejam, Dorokdok-dok, itulah julukannya."
Kami bertiga saling tatap. perompak? itu terdengar seperti kabar buruk.
"Hei jangan terlalu mencemaskan soal perompak." Paman Kay seperti mengerti ekspresi wajah kami." ada banyak hal yang lebih mengkhawatirkan di banding mereka."
"Apa, Paman Kay?" Seli bertanya dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Masih ada lagi?"
"Hewan laut."
" Ikan?" Ikan di sini berbahaya?"
Paman Kay menggeleng." Bukan yang itu, Nak. kalian benar-benar datang dari langit ya, jadi tidak bisa membayangkannya. gugusan pulau ini adalah tempat tinggal tempat tinggal hewan-hewan laut dalam ukuran besar. Beberapa bulan lalu, Zay. tetangga sebelah kami, harus melarikan diri dari kejaran gurita raksasa sebesar gunung. kalian tidak akan percaya jika tidak melihatnya langsung. gurita itu muncul dari dalam laut terlihat seperti pulau besar, menyerang perahu milik Zay. Zay harus mengerahkan seluruh kemampuan hingga berhasil meloloskan diri. kudengar Zay bersumpah tidak akan lagi makan gurita."
Aku terdiam. Seli menatapku. kami pernah berurusan dengan gurita raksasa setahun lalu. saat kompetisi menemukan bunga matahari pertama mekar. tapi ukurannya tidak sebesar gunung, hanya sebesar gedung tiga lantai.
Kami terdiam beberapa saat. ruang tengah lengang.
"Apakah Paman tahu dimana pulau dengan pulau aneh itu."Seli bertanya.
Paman Kay menggeleng."Kamu sudah bertanya dua kali, Seli. dan jawabannya, aku tidak tahu. tidak penduduk pulau ini yang tahu. tapi jika kalian hendak mencari petunjuk, mungkin ada di pulau lain. berangkatlah menuju pulau Hari Selasa,mungkin di sana kalian akan menemukan orang yang tahu. Aku minta maaf, aku tidak bisa membantu banyak. setiap kali ada orang yang datang dari langit, hanya itu jawabanku.
"Dimana letak pulau Hari Selasa?"
"Enam jam naik perahu dari sini."
"Enam jam?" Seli mengeluh." apakah tidak ada cara lain menuju ke sana?"
"Ini lautan, Nak. Perahu adalah kendaraan terbaik. terus terang aku menyukai kalian bertiga. kalian tidak seperti orang-orang lain yang datang dari langit sebelumnya. kalian jujur, meski naif dan rapuh. kalian juga memiliki persahabatan yang baik. aku akan meminjamkan salah satu perahu layar kepada kalian, juga beberapa keping uang. menurut perkiraanku, badai sudah reda di atas sana. kalian bisa mengarungi lautan dalam cuaca dan tiba di pulau itu sebelum gelap.
Seli menggeleng. bahkan dalam situasi laut tenang itu bukan ide yang baik.
Ini jelas petualangan yang benar-benar berbeda
"Itu ide buruk." sekali lagi Seli keberatan.
__ADS_1
Kami tidak tahu cara mengendalikan perahu layar. Ali memang anak seorang taipan pemilik bisnis kapal kontainer------ dan dia membanggakan fakta itu, tapi Ali bahkan tidak tahu bagaimana memasang layar. lalu kami akan mengarungi lautan selama enam jam dengan perahu layar? bagaimana jika perahu kami terbalik? atau kami malah tersesat.