
Ali meraih salah satu apel, bersiap menggigitnya.
Aku menggeleng tegas.Segera mencegah."
Jangan dimakan!"
"Lho, kenapa?" tanyanya.
"Makanan ini bukan milik kita."
"Tapi aku yang menemukannya,kan?"Ali bersikeras.
"Mana orangnya?Tidak ada,kan? ini barang bebas. siapa yang menemukannya, dia berhak memakannya."
"Kembalikan Ali." Aku tegas mengambil paksa apel di tangan Ali, memasukannya lagi ke dalam bungkusan.
"Ra! perutku lapar. Aku tidak makan sejak kemarin sore." Ali protes.
kita tidak akan mencuri makanan orang lain. lebih baik kelaparan daripada mencuri." Aku sudah membawa bungkusan itu melangkah di dermaga.
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau aku mati kelaparan mati kelaparan,Ra? udara semakin dingin.
Aku tidak menjawabnya. Aku sedang konsentrasi melewati dermaga kayu, lantas loncat ke atas perahu layar, mengembalikan bungkusan itu ke ruang kecil penyimpan peralatan di bawah tempat duduk.
"Aduh,Ra, itu hanya satu butir apel. kamu seserius itu?"Ali bersungut-sungut saat aku kembali.
"Kita tidak akan mencuri, Ali!"bahkan kalaupun itu hanya sebutir apel. bagaimana jika yang punya datang dan menemukan bungkusan miliknya hilang ? bagaimana jika dia juga kelaparan ? Aku memilih mati daripada mencuri." Aku kesal, melangkah menuju tempat semula, duduk di sana.
Ali mengusap rambutnya, ikut duduk." Tapi perutku bagaimana?"
Aku mengeluarkan sesuatu dari tas ransel. kotak sarapan yang di siap kan Mama. Isinya roti bakar. Hujan deras, badai, basah kuyup, kotak itu tidak kedap air. roti itu sudah lembek. tapi daripada mencuri makanan orang lain, roti lembek ini lebih baik.
"Makanlah." Aku mengeluarkan kotak makan ku kepada Ali.
"Bagaimana denganmu? ini bekal milikmu, bukan?" Ali menatap ku.
Aku mengangkat bahu." Aku tidak lapar. kamu boleh menghabiskannya. Itu pun jika kamu suka makan roti yang sudah bercampur air hujan dan air laut yang entah rasanya sekarang.
Ali mulai perlahan menghabiskan isi kotak.
__ADS_1
Seli duduk di sebelah ku, memperhatikan sambil menghela napas pelan.
"Bagaimana jika badai nya tidak berhenti,Ra?"
Aku menyeka air dari wajah. aku tidak tahu berapa lama lagi badai ini akan berlangsung. Kepala ku sekarang justru banyak pertanyaan lain. Kenapa kami mendarat di sini ? dimanakah pulau dengan tumbuhan aneh itu ?apakah dia telah melesat menuju lokasi itu dan kami tertinggal di belakang ? apakah kami bisa pulang ?berapa lama lagi kita akan terjebak di sini ? bagaimana dengan Mama dan Papa ? mereka pasti cemas jika aku, putri semata wayang mereka, berhari-hari, berbulan-bulan, atau malah bertahun-tahun tidak pulang.
kali ini petualangan kami gelap, seolah tanpa petunjuk.
Aku menatap gelapnya badai yang terus mengamuk.
Aku sungguh lupa, dulu Hana pernah bilang," Ada banyak sekali kekuatan di dunia paralel. Tapi ketahuilah, salah satu yang paling hebat adalah perbuatan baik." Sekarang aku ingat kalimat bijak itu. dalan petualang kali ini ternyata itulah satu-satunya kekuatan yang bisa di gunakan untuk menemukan pulau dengan tumbuhan aneh itu.
Bukan dengan teknik pukulan berdentum, bukan pula dengan Sambaran petir, melainkan kebaikan hati.
Itulah petunjuk terbaik nya.
...******...
Ali sudah menghabiskan isi kotak bekalku saat seseorang melangkah mendekati kami.
__ADS_1
"HEI!"orang itu berteriak.
Astaga ! aku hampir lompat saking kaget nya. juga Seli, dia memegangi dada karena terkejut. Ali bangkit lebih dulu.