
Tiba di dasar lubang,kami termangu.
Lihatlah. Kami bukan hanya tiba di sebuah ruangan atau rumah, tapi inilah perkampungan nelayan pulau ini. sebuah gua besar, dengan belasan rumah terbuat dari kayu berjejer rapi. jalanan yang bersih.Anak-anak Bermain, berlarian ke sana kemari.satu-dua anak melihat kami selintas, kemudian kembali bermain. Aroma makanan tercium dari dapur penduduk. sepanjang jalan tampak kesibukan khas kampung nelayan. ada yang sedang memperbaiki jala ikan, ada yang mengolah hasil tangkapan. mereka sekilas menatap kami, kemudian asyik bekerja.
Aku menatap semua itu dengan takjub. Gua ini terang karena lampu-lampu ajaib itu. bola kaca yang ada di dalamnya ada ikannya. beberapa bola kaca berukuran besar dikaitkan di tiang- tiang pinggir jalan, berenang ke sana kemari.
Kami tiba di ujung jalan, Orang tua itu melangkah ke teras sebuah rumah kayu. dia mendorong pintunya dan berseru"Nay, hei, kita kedatangan tamu."
Seorang nenek muncul dari ruangan belakang. tingginya sebahu kakek-kakek yang bersama kami, rambutnya memutih, mengenakan pakaian berwarna hijau.
"Tamu? Hei, sudah lama sekali rumah ini tidak ada kedatangan tamu."Nenek itu senyum ramah." Mari masuk, jangan malu-malu. anggap aja rumah sendiri."
Ali lebih dulu masuk tanpa ragu-ragu. Aku bergumam dalam hati,"anggap saja rumah sendiri" membuatku lebih tenang. di dunia kami itu juga Kalimat sopan menyambut tamu.
"Siapkan pakaian kering, Nay. mereka kedinginan."
__ADS_1
"Tidak usah. terima kasih."Aku menggeleng. pakaian yang kami kenakan memiliki teknologi kering lebih cepat. bahkan saat berjalan di depan tadi, pakaian kami telah kering.
"Ah!" Nelayan tua itu mengangguk paham."tentu saja. tapi ambilkan handuk kering, Nay. mereka tetap butuh untuk menyeka rambut dan wajah."
Nenek tua mengambil tiga handuk, lalu tersenyum saat menyerahkannya." aku akan menyiapkan makanan dan minuman hangat."
"Terima kasih." Seli mengangguk----tampaknya dia nyaman sekarang.
"Hei,Aku lupa, aku belum memperkenalkan diri. namaku Kay, itu istriku Nay. kalian bisa Paman Kay dan Bibi Nay.Tetangga kami memanggilku demikian. silahkan duduk di mana pun kalian mau.
masing.
Paman Kay terlihat bersahabat. aku memperhatikan sekitar, rumah ini tidak Berbeda jauh dengan rumah nelayan di dunia kami. tidak ada teknologi canggih seperti di kota I|ios. kursinya terbuat dari kayu. bentuknya seperti perahu, dengan ukiran rumit tapi indah. kami duduk di sana.
Paman Kay menggeleng" Kota |Iios? Aku tidak pernah mendengar nama itu, Nak. ah, kalian. pasti datang dari langit, bukan?"
__ADS_1
"Langit?" Dahi kami terlipat.
"Terjun dari atas. meluncur ke bawah. dari langit, bukan?"
Kami bertiga saling tatap.Oh.....itu maksudnya. Perjalanan. kami melewati Sensasi jatuh.
"Aku tahu apa yang kalian cari."Paman Kay menatap kami lamat-lamat,ikut duduk di kursi seberang meja.
Dia tahu? Sungguhan? aku balas menatap nelayan tua itu.
"Hei, semua orang yang datang dari langit selalu mencari tempat itu. Pulau dengan tumbuhan aneh. Selalu bertanya di manakah pulau itu. Tidak sabaran. ada yang memaksa, mengancam. ada yang menawarkan harta benda sebagai imbalan. Lantas bergegas berangkat lagi."
Astaga! Aku tidak menduga nelayan tua ini akan mengatakan kalimat itu.
"Apakah Paman tahu dimana pulau aneh itu?"tanya Seli.
__ADS_1