
"Kita harus bergerak,Seli. kita tidak bisa hanya menunggu di sini,"Ali berkata serius
"Paman Kay bilang setiap Minggu ada perahu dari pulau membawa kebutuhan pokok. kita bisa menunggu perahu itu saja
"Tidak bisa, Si Tanpa Mahkota akan jauh sekali di depan kita. atau jangan-jangan dia sudah menemukan pulau tersebut."Ali menggeleng tegas.
Seli menoleh kepadaku. meminta pendapatku. aku mengembuskan napas. masih berpikir.
"Baik, kita adakan saja pemungutan suara. siapa yang akan menunggu seminggu lagi?"
Seli angkat tangan
"Siapa yang setuju kita setuju berangkat sekarang?"
Ali mengangkat tangan.
Sejenak kemudian aku ikut mengangkat tangan. "Maaf Sel."
Wajah Seli terlihat kesal. Keputusan telah dibuat, dia tidak bisa menolaknya.
Lima menit setelah bersiap-siap, Paman Kay berbaik hati mengantar kami ke dermaga.
"Bekal kalian di perjalanan." Bibi Nay menyerahkan bungkusan berisi buah-buahan sebelum kami pergi aku mengintip isinya, lalu terdiam. isi Bungkusan itu sama persis dengan isi persamaan yang hendak di ambil oleh Ali tadi di perahu
"Terima kasih." Aku tersenyum, mengangguk kepada Bibi Nay. aku tidak sempat memikirkan apakah itu kebetulan atau bukan.
"Hati-hati Nak." Bibi Nay melambaikan tangan.
Kami berpamitan, kembali melintasi jalan perkampungan. beberapa anak-anak berkejaran, satu-dua menyapa. untuk kedua kalinya aku terpesona melihat gua ini. tidak akan ada yang menyangka bahwa ada perkampungan nelayan dibawah tanah. udara terasa hangat, lampu-lampu terang.
__ADS_1
Kami tiba di anak tangga menuju permukaan, anak tangga itu kering. apakah di atas badai sudah reda? Paman Kay naik lebih dulu.
begitu lempeng besi di buka, cahaya terang menyiram wajah-wajah kami.
"Kabar baik." Paman Kay berseru riang."badainya telah."
Lihatlah, langit biru sejauh mata memandang. satu-dua gumpalan awan tampak bagai kapas mengambang. pemandangan ini kontras dengan suasana beberapa jam sebelumnya saat kami tiba. lautan terlihat indah. pasir lembut. pohon kelapa berdiri anggun, pelepahnya mengelepak lembut di terpa angin. aku tidak tahu ada pulau seelok ini kami melangkah di jalan setapak.
Setiba di dermaga, Paman Kay menunjuk salah satu perahu layar tertambat.
"Kalian bisa membawa yang satu itu setiba Pulau Selasa, tambatkan saja di dermaganya. besok akan ada nelayan lain yang membawanya kembali ke sini."
Ali dan Seli lompat naik ke perahu.
"Aku juga ada hadiah untukmu, Raib."Paman Kay mengeluarkan jam pasir berukuran kecil." agar kamu tahu sudah jam berapa. jangan lupa di balik saat matahari tenggelam.
"Eh, kami harus mengarah ke mana Paman?" Seli teringat sesuatu.
"Ikuti saja arah matahari terbenam. di sana lah pulau itu berada. jika terlambat. malam telanjur datang, ikuti bintang-gemintang, terus ke arah barat. kalian bisa membaca peta langit, bukan?"
Aku mengangguk. kami pernah belajar soal itu setahun lalu langsung dari seorang pemburu terbaik Klan Matahari, Mena-tara-nata ||. itu tidak masalah. Nah, yang menjadi persoalan sekarang, bagaimana kami menggerakkan perahu ini.
Ali beranjak membuka ikatan tiang layar di samping perahu. sepertinya gerakan terlihat menyakinkan. dia mengangkat tiang itu, memasangnya di tengah perahu. mengunci tiang dengan penjepit besi. kokoh. aku dan Seli memperhatikan, , sekarang Ali memasang kaki-kaki layar, terakhir dia membentangkan layar. dia mencari ujung-ujungnya, memasang tali, mengaitkannya satu persatu Simsalabim! dua menit selesai.
Aku menepuk dahi, lihatlah, layar itu terpasang terbalik,bukan terbentang lebar gagah,tapi malah mirip bendera yang terlipat sungsang saat upacara hari Senin. Ali nyengir lebar.
Seli menoleh ke dermaga.dia mencari Paman Kay. mungkin Paman Kay bisa membantu memasang layar tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Paman Kay telah pergi.
"Eh?"Seli berdiri, termangu." bagaimana dia bisa pergi begitu saja?"Mungkin dia telah kembali ke perkampungan nelayan."
__ADS_1
"Secepat itu? tanpa kita sadari?" Seli mengusap wajahnya yang kebas." jangan jangan dia memang hantu."
"Seli! berhenti bilang soal hantu!" aku melotot. ini sudah kesekian kali Seli bicara soal hantu. menyebalkan. aku juga tidak tahu bagaimana nelayan tua bisa pergi dengan cepat dari dermaga. seharusnya dia masih terlihat jika berjalan kaki di setapak. Entahlah. tapi fokus kami sekarang adalah membantu Ali memasang layar. itu lebih penting dan mendesak.
...********...
Setengah jam berkutat, perahu itu akhirnya meluncur juga. tapi bukan dengan tenaga layar
Setelah berkali-kali gagal, akhirnya kami berhasil memasang layar. cukup mantap, terlihat gagah, tapi saat ikatan perahu dilepas dari dermaga, saat Ali berdiri berlagak seperti seorang kapten, berusaha menggerakkan layar sesuai arah angin, perahu kami lompat meluncur ke sembarang arah. Seli berseru panik. aku segera mencengkram dinding perahu, berpegangan. nyaris aja aku jatuh ke laut.
"Maaf, Ra, Seli!" Ali cengengesan.
Ternyata tidak mudah mengendalikan perahu layar. kami harus tahu dari mana arah angin datang, menggerakkan layar di sudut yang tepat, lantas perahu akan meluncur mulus sesuai tujuan.
Ali berkali-kali mencoba, bilang bahwa dia adalah putra pemilik kapal, seolah fakta itu akan menjamin dia berhasil. Hasilnya, perahu layar kami hampir terbalik berkali-kali. ini berbahaya, dan kami tidak akan bisa tiba di Pulau hari Selasa sebelum matahari terbenam. maka aku memutuskan melipat layarnya, menurunkan tiangnya. aku berdiri di buritan perahu, mulai melepas pukulan berdentum ke arah belakang. BUM! Entakan pukulan itu membuat perahu bergerak.
Petualangan kami dimulai. rasa-rasanya ini akan berjalan seru. tidak pernah kami melakukan petualangan di laut. aku menatap dermaga yang mulai kami tinggalkan, Pulau Hari Senin, pasir putihnya yang lembut, barisan pohon kelapa. perahu kami segera menuju lautan luas. Seli juga duduk santai pemandangan di depanku. sementara Ali, dia menepuk-nepuk bungkusan makanan. Perjalanan ini tidak akan rumit.
Dua jam kemudian………
"Raib! Sekarang giliranmu!" Ali berseru dari buritan. dia menyeka dahi.
Rasanya baru sebentar aku istirahat. sekarang sudah giliranku?
"Ayo, Raib! jangan curang. jangan pura-pura tidak mendengarkan." Ali berseru. sekali lagi mengirim pukulan berdentum. perahu yang hampir berhenti kembali bergerak.
Kami tidak memikirkan secara serius bahwa enam jam itu lama. perahu memang bisa di gerakkan dengan pukulan berdentum, tapi setengah jam terus-menerus melakukan teknik itu, aku kelelahan. teknik itu menguras tenaga. laut biru tidak lagi terlihat indah. angin sepoi-sepoi menerpa wajah juga tidak terasa mengasyikkan lagi. pukulan berdentumku tidak sekuat sebelumnya, dan gerakkan perahu semakin lambat, seperti kura-kura kekurangan tenaga. aku menyeka peluh di leher, cepat sekali tenaga ku habis.
Seli menawarkan diri menggantikan posisiku. dia mencoba mengeluarkan teknik kinetik, mendorong , perahu tapi Tiu tudak efektif.
__ADS_1