
"Yeah, tuan muda Ali memang tahu segalanya tahu segalanya. dia supergenius, Seli." Aku menimpali dari buritan, sambil terus mengirim pukulan berdentum.
Seli tertawa.
...******...
Enam jam sejak kami meninggalkan Pulau Hari Senin, matahari akhirnya tumbang di kaki barat, bola besarnya hampir masuk garis horizon. itu pemandangan yang spektakuler.
Giliran Ali yang menggerakkan perahu, jadi aku bisa duduk santai menikmati sunset.
"Kamu mau buah, Ra?" Seli membuka bungkusan.
Aku mengangguk. perutku lapar. Kuterima sembarang buah yang diulurkan tangan Seli.
"Kamu sudah makan, Seli?" Aku bertanya balik.
__ADS_1
Seli mengangguk, tersenyum.
"Aku belum pernah melihat sunset sesempurna ini." Seli menatap ke depan, meluruskan kaki.
Aku juga belum. bahkan di Klan Bintang, ruang-ruangan yang dilukis sedemikian rupa tetap tidak bisa mengalahkan sunset di depan kami. langit bersih tidak berawan. tidak satu berkas awan pun yang menutupi bola matahari yang bersiap di peluk lautan. sekitar kami juga tenang. angin seperti berhenti berembus, takzim mengucapkan selamat tinggal kepada matahari.
Hanya satu hal yang menggangu. yaitu suara dentuman setiap kali Ali mengeluarkan pukulan berdentum itu bukan musik background yang tepat untuk menikmati sunset tapi apa lagi yang kami harapkan? kami harus terus bergerak. kami sudah kemalaman.
Lima belas menit berlalu, bola matahari telah berpisah dengan senja. digantikan bintang germintang di langit sana. aku membalik posisi jam pasir, kemudian berdiri, mendongak. Satu, saatnya aku menggantikan Ali. Dua, aku harus membaca peta bintang agar arah kami tetap benar. tadi siang lebih mudah, kami tinggal mengarah matahari, tapi malam hari, aku harus melihat bintang untuk menjaga arah perahu.
"Ada apa, Ra?" Seli ikut mendongak.
"Hei, Ra! giliranmu sekarang!" Ali menoleh ke arahku, berseru protes. "Kamu selalu saja mengulur-ulur waktu setiap giliranmu."
Aku menggeleng."aku tidak curang. biasanya juga yang suka pura-pura tidur saat kita berpetualang setahun lalu, menghindari giliran berjaga, adalah kamu, Ali."aku kembali menatap langit.
__ADS_1
"Ini bukan langit yang biasanya kita lihat, Ra," Seli bergumam pelan.
Itu betul. Saat ini aku sama sekali tidak mengenali konstelasi bintang di langit. seharusnya aku tinggal mencari bintang Orion untuk menentukan menentukan arah barat. Dulu, Mena-tara-nata || mengajari kami soal itu. tapi rasi Orion di atas sana.
Ali. menghentikan pukulan berdentumnya. dia ikut mendongak. perahu layar mengapung di permukaan laut tenang.
" Kita dalam masalah serius." Ali menyeka peluh di dahi. jika Ali yang selalu cuek bilang demikian, berarti masalah kami memang serius.
"Bagaimana mungkin langitnya berbeda?" Seli berseru pelan. "kita pernah ke Klan Bulan, Klan Matahari, bahkan di ruangan-ruangan Klan Bintang. kontelasi bintang di langit tetap sama, kan?"
Ali menggeleng." aku juga tidak tahu kenapa langit itu berbeda."
"Tapi aku tahu sekarang kenapa alat elektronik kita tidak bekerja, Seli!" Ali masih mendongak, bergumam."Di tempat ini semua fenomena fisika berbeda dengan di dunia lain. langitnya juga berbeda.Bintangnya berbeda. mungkin Medan magnetnya juga berbeda."
"Tapi kita masih di Klan Matahari, bukan?"
__ADS_1
Ali menggeleng." Buku tua milik Zaad mungkin keliru mencatat.sejak itu tidak akurat, atau kita yang keliru menerjemahkan nya. aku berani bertaruh, kita tidak lagi berada di Klan Matahari, Bunga matahari mekar telah mengirim kita ke Klan lain.