
"Lalu jam berapa kau akan kembali ke rumah?" Tanya Siska.
"Aku belum tahu Bu, tapi mungkin aku akan kembali bersama dengan suamiku nanti sore." Jawab Cecilia.
Jawaban itu langsung membuat Siska menyertakan giginya Tetapi dia tidak bisa berkata apapun karena saat itu putranya sedang berada di sana.
Lalu perempuan itu juga mengerutkan keningnya melihat putranya, 'Apakah dia tidak mencari pakaian yang sudah kusembunyikan?' ucap Siska dalam hati yang merasa begitu aneh.
...* * *...
"Itu, di mana pakaian yang sering kau pakai itu? Mengapa kau tidak pernah lagi mengenakannya?" Tanya Siska pada putranya langsung membuat Cecilia pengangkat wajahnya menatap suaminya dengan bingung.
Pakaian apa yang dimaksud oleh ibu mertuanya?
__ADS_1
Sementara Andika, pria itu tersenyum, "yang Ibu maksud itu pakaian yang berwarna biru muda yang sering kukenakan?" Tanya Andika pada ibunya untuk memastikan maksud dari pertanyaan ibunya.
"Iya, Bukankah dulu kau sangat suka memakai pakaian itu hingga kau selalu mencarinya pada ibu hampir setiap hari?" Tanya Siska.
Mendengar ucapan ibunya maka Andika kembali tersenyum lalu dia menatap Cecilia dan tidak tahan melihat wajah istrinya yang bingung Jadi dia dengan cepat mencium puncak kepala perempuan itu.
Setelah mencium istrinya, Andika lalu menatap ibunya sambil berkata, "pakaian itu dihadiahkan oleh istriku sebelum kami menikah, jadi aku sangat senang memakainya. Tapi sekarang kami sudah menikah dan dia yang memilihkan pakaian untukku setiap hari jadi pakaian apapun tidak masalah lagi bagiku."
Sementara Siska dan Dinda, kedua perempuan itu terdiam di tempat mereka.
Bagaimana tidak, dulunya mereka pernah mencari tahu harga pakaian itu karena berpikir Andika terus memakai pakaian Itu sebab harganya mahal dan mereka menemukan bahwa pakaian itu seharga 200 dolar.
'Dari mana perempuan itu mendapat uang sebanyak itu untuk memberikan pakaian bagi Putraku? Keluarganya hanya menjalankan bisnis restoran kecil-kecilan di pinggir kota, paling pendapatannya per bulan tidak mencapai 5 juta. Dia sendiri tidak bekerja dan hanya berfoya-foya dengan berpura-pura hidup di apartemen, tapi masih memiliki uang untuk membeli pakaian buat Putraku?' ucap Siska dalam hati sembari memperhatikan dua orang di depannya yang tampak tersenyum-senyum satu sama lain karena saking bahagianya mereka.
__ADS_1
Maka sepanjang makan, dua perempuan yang kebingungan terus memikirkan masalah itu dalam hati mereka sampai akhirnya Cecilia dan Andika meninggalkan rumah.
"Ibu, kakak pasti hanya berbohong saja tentang kakak ipar yang membeli pakaian itu. Dia itu hanya pengangguran yang menghabiskan duit orang tuanya membeli sebuah apartemen. Keluarga mereka juga tidak kaya, Jadi tidak mungkin dia yang membelikan pakaian seperti itu untuk kakak ku." Ucap Dinda langsung diangguki oleh Siska.
"Ibu juga berpikir begitu, tapi Memangnya di apartemen mana dia tinggal?" Ucap Siska yang memang tak pernah pergi ke apartemen Cecilia dan dia hanya pernah pergi ke rumah perempuan itu yang ada di pinggir kota rumahnya kecil tidak mewah dan berada di tempat yang tidak strategis.
Bahkan mobil mereka kala itu harus diparkir di rumah tetangga mereka karena rumah mereka tidak memiliki parkiran, jadi tentulah hal itu membuktikan bahwa keluarga mereka kurang mampu untuk membeli hunian yang lebih mewah.
"Aku juga tidak tahu bu, tapi apakah itu penting? Paling dia nyewa apartemen paling kecil dan sampai sekarang masih dicicil." Ucap Dinda lalu perempuan itu kembali masuk ke rumah untuk segera bersiap berangkat ke kampus.
@info
Terima kasih terus setia membaca novel ini, semoga kalian terus suka ya....! Jangan lupa like, komen dan follow author agar mendapat follow back dari otor, supaya kita bisa saling mengirim pesan. Jangan lupa juga untuk masuk di grup chat otor ya, di sana ada bagi2 pulsa setiap tgl 1 lho...., bisa liat di profil otor ya....!
__ADS_1