Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan

Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan
Chapter 21 : Jejak Iblis


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang mereka dapatkan dari telepati Alicia, Touya segera memanggil Haru sesuai perintah Reina. Mereka bertiga segera pergi secepat mungkin ke tempat Alicia sedang menunggu.


Waktu yang berjalan dengan cepat telah membuat langit berganti warna. Cerahnya suasana siang sebelumnya telah bertukar tempat dengan langit berwarna oranye. Persiapan dari sang matahari yang ingin terbenam dan berganti tempat dengan sang bulan.


Touya yang di tengah berlari bersama Reina dan Haru pun terhenti saat melihat Alicia yang sedang berdiri di dekat perempatan jalan.


“Alicia!” panggil Reina


Alicia segera berbalik saat mendengar Reina memanggilnya.


“Nona. Semuanya….”


“Bagaimana situasinya?” tanya Reina


“Tidak terlalu buruk. Aku berhasil mendapatkan dua buah titik sihir yang memiliki jejak sihir Ooyama Yuri”


Touya yang mendengar hal tersebut segera memotong dan bertanya.


“Dimana tempatnya?!”


“Kedua tempat itu ada di sebuah gereja”


Jawaban tersebut sangatlah mengejutkan. Tak di sangka kalau tempat yang di kunjungi oleh seorang iblis adalah sebuah gereja. Yang seharusnya menjadi tempat musuh bebuyutannya, para malaikat dan umat yang setia kepada Tuhan.


“Gereja… katamu?!” tanya Touya yang memastikan


Alicia mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan tersebut.


Tentu saja, itu membuat sebuah kebingungan bagi mereka semua.


“Kenapa gereja? Ini bukanlah zaman di mana para iblis masih suka menghancurkan gereja-gereja yang memuji Tuhan. Jika itu benar-benar tujuan mereka, kurasa itu sangatlah naif dan juga tak berguna” ucap Reina


“Lalu kenapa jejak sihirnya bisa ada di gereja?” tanya Haru


“Aku tidak bisa memastikan hal itu untuk sekarang. Kurasa ada hal yang tidak ketahui sedang di rencanakan oleh para iblis fraksi pemberontak” sahut Alicia


“Kau benar. Berdiri diam di sini tidak akan menyelesaikan apapun. Kita akan bagi menjadi dua tim. Alicia akan pergi bersamaku untuk mencari tahu gereja yang pertama. Sedangkan Touya dan Haru akan pergi bersama untuk memeriksa gereja kedua. Jika bertemu dengan musuh, usahakan untuk mundur dan jangan bertindak gegabah” ucap Reina


Sifat dari pemimpin seorang putri raja iblis itu benar-benar terlihat saat Reina memberikan perintah tersebut.


“Baik, nona!” sahut Touya


“Aku mengerti” sahut Haru


Sebelum mereka berpencar, Alicia memberikan Haru dan Touya sebuah bola kristal yang putih bersih hingga terlihat seperti transparan.


“Kalian berdua, peganglah ini” ucap Alicia


“Hm? Apa ini?” tanya Touya


“Ini adalah bola kristal yang kubuat sendiri. Pecahkan bola kristal itu jika kalian sedang berada dalam bahaya. Kristal yang pecah akan memberikan resonansi sihir yang tercapai langsung ke dalam tubuhku untuk mengetahui keberadaan kalian” jelas Alicia


“Woah, hebat sekali. Terima kasih, kak Alicia” sahut Touya

__ADS_1


“Tak perlu sungkan. Berhati-hati lah” sahut Alicia dengan senyuman tipis


“Ya!”


***


Sesuai dengan perintah Reina, mereka berempat pun berpencar menjadi dua kelompok. Touya yang sedang berjalan bersama Haru mengikuti jejak sihir yang di berikan oleh Alicia kepadanya.


“Hei, Haru. Kau benar-benar bisa melacak sihir juga?” tanya Touya


“Bisa. Tapi, tidak sepraktis milik kak Alicia” sahut Haru


“Kenapa begitu?”


Kemampuan Haru dalam melacak sihir itu juga sedikit mirip dengan milik Alicia. Tetapi ada perbedaan yang cukup jauh.


Alicia bisa melacak sihir seseorang yang tertinggal di dekat-dekatnya. Entah itu orang yang dia kenal ataupun bukan. Sedangkan Haru memiliki kemampuan untuk melacak sihir yang lebih dasar.


Sehingga, pencaharian lokasi gereja yang di maksud oleh Alicia itu di berikan kepada Haru. Dengan sihir yang di berikan oleh Alicia, Haru bisa melacak tempat itu dengan sendirinya.


Penjelasan singkat dari Haru itu membuat Touya langsung memahami secara garis besar.


“Aah, ternyata seperti itu ya….” gumam Touya


“Kak Alicia hebat dalam pengendalian sihirnya yang fleksibel. Sedangkan aku lebih fokus untuk menggunakan sihir dalam pertarungan nyata. Oleh karena itu, hal seperti ini adalah bidang keahlian kak Alicia” jelas Haru


Mendengar ucapan Haru itu terasa dirinya seperti sangat merendahkan dirinya sendiri. Touya menyadari bahwa ada sesuatu yang menghalangi Haru untuk percaya pada kemampuannya sendiri.


“Haru juga hebat kok” ucap Touya


“Semua orang itu memiliki keahliannya masing-masing kok. Di bandingkan dengan diriku, Haru pasti sangat hebat dalam sebuah pertarungan. Aku bisa mengetahuinya dengan kesan pertama kali kau menghantamku dengan serangan sihirmu” sahut Touya dengan sedikit tawa


“Kenapa, kau mau merasakan pukulanku lagi?” tanya Haru dengan aura sihirnya yang mulai berkobar kuat


“Tidak tidak! Maksudku itu… Kau tidak perlu merendah begitu. Kak Alicia memang hebat, tetapi kau juga hebat. Kau tidak perlu membandingkan dirimu terus-menerus dengan orang lain. Aku percaya kalau kau hebat dalam bidangmu”


Haru sontak terkejut dengan raut wajah kebingungan saat mendengar ucapan Touya. Dia sadar kalau Touya sedang berusaha untuk menghiburnya. Namun, sifatnya yang malu-malu itu hanya bisa menutupi wajahnya dengan berjalan lebih cepat di depan.


Tanpa berbicara apa-apa, Haru berjalan semakin cepat dan meninggalkan Touya di belakang.


“He-hei! Haru, kenapa kau semakin cepat?! Hei, tunggu aku!!”


Saat Touya berlari ingin menyusulnya, langkah kaki Haru terhenti secara tiba-tiba. Touya yang melihatnya berhenti pun jadi ikutan dari belakang.


Sraak…!!


“Hei, Haru. Ada apa?”


“Kita sudah sampai”


Pandangan mata Touya langsung terangkat dan melihat apa yang menunggunya di depan. Sebuah gereja tua yang telah di tinggalkan begitu lama. Tak ada yang merawat ataupun kemungkinan datang ke tempat tersebut lagi. Benar-benar seperti gereja yang telah tidak di huni.


“Ini… gerejanya? Tunggu, Haru. Kau tidak salah kan? Gereja ini terlihat seperti gereja lusuh yang tak pernah di pakai lagi”

__ADS_1


“Jejak sihir yang di berikan kak Alicia mengatakan kalau ini adalah tempatnya”


Touya tak bisa mengatakan bahwa hal itu salah jika sudah menyangkut jejak sihir tersebut.


“Yah, kalau begitu kita periksa saja dulu ke dalam”


**


Tak lama bagi mereka berdua untuk berjalan masuk ke dalam. Interior dari gereja itu terlihat mengerikan. Kursi yang rusak, bahkan patah. Patung yang bahkan kehilangan beberapa bagiannya dan terpencar di berbagai tempat dalam gereja tersebut.


Lusuh dan kotor. Banyak sekali sampah dan juga hewan-hewan hama lainnya yang bersarang di sana. Entah di kolong kursi, sudut gereja ataupun belakang patung.


“Uh… kotor sekali. Walaupun ini di bilang sebagai rumah Tuhan, tetapi tidak ada yang menjaga tempat ini sama sekali. Di tinggalkan begitu saja sampai menjadi tempat sampah”


“Hei Haru, kau menemukan sesuatu di sana?”


Touya bertanya pada Haru yang berada di lain sisi gereja tersebut. Haru yang keluar pun menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada”


“Tidak ada juga ya”


Touya segera menoleh kembali dan mencoba mencari hal yang bisa menjadi petunjuk. Entah itu bongkahan patung, catatan aneh dan berbagai macam hal lainnya.


Tetapi, dengan apa yang dia temukan itu tak ada satupun yang terlihat bernilai. Mereka hanya seperti sampah biasa yang sudah lusuh begitu lama di dalam gereja.


Tak lama kemudian, Haru menyudahi pencariannya dan berjalan menghampiri Touya.


“Bagaimana?” tanya Haru


“Tetap tidak ada juga” sahut Touya


“Aneh sekali….”


“Benar kan? Lagipula, kenapa para iblis pemberontak itu bisa meninggalkan jejak di tempat seperti ini?”


“Membuat kebingungan. Mungkin itu adalah salah satu alasannya”


“Aah… maksudmu seperti sengaja meninggalkan jejak sihir dan menuntun kita ke tempat yang salah?”


Dan entah darimana, datang suara seorang perempuan yang menyambung pembicaraan mereka.


“Benar sekali!”


Suaranya yang bergema di dalam gereja lusuh itu membuat Touya dan Haru terkejut. Mereka segera menoleh ke arah yang sama. Tempat di mana suara itu berasal, yaitu melayang tinggi di atas patung gereja.


Seorang gadis berambut ungu dengan dua buah sayap hitam di punggung dan dua tanduk di bagian dahi. Pakaiannya yang terlihat seperti seorang wanita karir, tak lagi di pandang menawan. Dia menyeringai lebar sembari melayang dengan posisi tiduran menatapi Touya dan Haru.


“Dia-! Iblis?!” gumam Touya.


“Namaku adalah Felicia Agnor. Senang bertemu dengan kalian, dan… selamat tinggal!”


Felicia membuka telapak tangannya yang membentuk sebuah tombak ungu yang jumlahnya tak terhitung. Dia melepaskan seluruh tombak tersebut mengarah dengan kecepatan penuh pada Touya dan Haru.

__ADS_1


Wush….!!


“(Celaka-!)”


__ADS_2