Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan

Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan
Chapter 29 : Kekuatan Ksatria Naga Kegelapan


__ADS_3

“Menetralkan sihir katamu?!”


Siapa juga yang tidak terkejut saat mendengar hal tersebut? Hal mudah yang seharusnya bisa Touya lakukan, ternyata hanya perlu mengangkat dan membuka telapak tangannya pada sihir yang datang ke arahnya.


Dan selama 10 menit sebelumnya, Touya berusaha menghindari serangan petir milik Alicia begitu mati-matian.


Di sisi lain, Alicia yang berhenti melakukan pelatihan itu segera berlari menghampirinya.


“Touya, apa itu barusan?!” tanya Alicia


“A-ah… Aku juga tidak terlalu mengerti. Tapi, Vritra bilang kalau itu adalah kemampuan penetralan sihir miliknya,” jelas Touya


“Penetralan sihir?!” sahut Alicia


Touya mengangguk pelan saat menjawab pertanyaan Alicia yang berusaha memastikan.


“Ini… benar-benar di luar dugaan. Kalau penetralan sihir ini adalah sihir yang kau miliki, maka kau akan sangat sulit untuk di kalahkan. Sihir macam apapun tidak akan bisa tembus jika di hadapi lengan kirimu.”


Namun, Vritra muncul dengan berbicara melalui gauntlet Touya.


“Sayangnya, hal itu tidak benar,” sahut Vritra


“Vritra?!” ucap Touya yang terkejut mendengar suaranya


“Memang benar kalau kau bisa menetralkan sihir. Tetapi, semua itu bergantung pada kemampuan tubuhmu sendiri,” jelas Vritra


“Bergantung pada kemampuan tubuh?” sahut Touya yang memastikan


Arti dari ucapan Vritra itu mengacu pada kemampuan tubuh Touya sendiri. Kemampuan sihirnya bergantung pada fisik dan juga energi spritiualnya. Tentu saja kedua hal tersebut akan menajdi semakin kuat seiring waktu di latih.


Penggunaan sihir penetralan itu tidak bisa di gunakan secara semborono. Karena, tubuh Touya memiliki batas dalam menanagani sihir yang dia netralisasikan. Seperti saat ini, Touya hanya bisa menetralisasikan sihir petir semacam serangan dasar dari Alicia.


Namun, jika kondensasi sihir penyerangan yang datang ke arahnya itu jauh lebih rumit, maka itu akan sulit dan bahkan mustahil untuk di tangani kemampuan Touya yang sekarang.


“Jadi maksudmu, penetralan sihir ini tidak akan bekerja pada sihir yang memiliki kekuatan tinggi?” tanya Touya


“Tepat. Kalau kau semborono, gauntlet ini hanya akan menjadi lengan biasa dan akan tak berdaya di hadapan serangan sihir tingkat tinggi,” sahut Vritra


Walaupun sihir itu sangatlah kuat, tetapi tetap memiliki sebuah kelemahan yang cukup besar di baliknya. Kemampuan yang tinggi, resiko yang tinggi juga. Touya harus bisa memahami situasinya dalam memakai sihir penetralan itu jika berhadapan dengan musuh.


Karena dia tidak tahu kapan dia bisa bertemu musuh dengan tingkat sihir yang bisa dia tangani, dan kapan dia bisa bertemu musuh dengan tingkat sihir yang jauh berada di atasnya.


Namun, Touya merasa bingung. Jika memang kondisi tubuhnya lah yang mempengaruhi kemampuan sihir tersebut, maka bukankah ada jalan keluarnya?


Dia yang heran pun membuka mulutnya dan bertanya.

__ADS_1


“Hei, Vritra,” panggil Touya


“Apa?” tanya Vritra


“Kalau kau bilang fisikku yang menghalangi untuk menetralkan sihir tingkat tinggi, bukankah dengan melatih fisikku lebih lagi akan membuatnya menjadi lebih kuat juga?”


Pertanyaan Touya membuat Alicia yang berdiri di dekatnya sontak terkejut. Dia seperti terbangun dalam alam pikirannya yang sedang memikirkan cara kerja penetralan sihir milik Touya.


“Haha, kau cepat tanggap juga ya bocah! Benar sekali, sesuai dengan pikiranmu itu,” ucap Vritra


“Ah! Itu masuk akal juga!” sahut Alicia


“Kemampuanmu saat ini memang belum bisa mengeluarkan potensi penuh kekuatan naga kegelapan. Latihan adalah hal paling efektif untuk kau lakukan demi menarik keluar seluruh potensi. Dan seperti yang aku pernah bilang sebelumnya. Jika kau sekali-kali berniat gila dan mencoba menembus batas, ada kemungkinan tubuhmu akan kalah dan termakan menjadi naga sepenuhnya,” jelas Vritra


Konsekuensi yang di jelaskan Vritra itu sama saat pertama kali Touya bertemu dengannya di bawah alam sadar. Dia yang tak sanggup menampung kekuatan besar milik Vritra, hanya akan di makan oleh kekuatan dan berubah menjadi naga tak berakal.


Namun, hal itu tidak menghentikannya. Karena dia mengetahui situasinya saat masih menjadi orang lemah dan tak memiliki kekuatan. Dia jadi memahami perasaan lemah tak berdaya, dan bertekad untuk tidak akan menjadi seperti itu lagi.


“Hah, maju saja sini kalau bisa merubahku menjadi naga! Aku tidak akan mati dengan mudah!” sahut Touya


“Hahaha! Semangat yang bagus, memang tidak salah bagiku untuk memilihmu. Kau benar-benar menarik. Jangan kecewakan aku, bocah!” ucap Vritra


“Tentu saja!” balas Touya


 


 


Setelah hari itu, Touya mulai melanjutkan kehidupan normalnya seperti biasa selama seminggu penuh. Dengan dia yang telah pindah sekolah, Touya kini berada di sekolah Kiyogami. Satu sekolah bersama Reina, Alicia dan juga Haru.


Dia bergaul dengan cukup mudah dan bisa berteman dengan banyak orang. Tubuhnya yang atletis juga menjadikan Touya menjadi sorot mata di bagian pelatihan olahraga. Baik itu sepak bola, basket, voli, ataupun renang.


Selama satu minggu penuh, Touya merasakan hidup normalnya di keseharian sekolah. Tetapi, itu juga tidak lepas dari pelatihan sihirnya bersama Alicia setiap hari. Seiring waktu, kemampuan Touya dalam latihan bertarung menjadi lebih baik. Tak hanya itu, fisik dan sihirnya menjadi jauh lebih kuat dan stabil.


Di hari kedelapan, Touya saat itu baru saja selesai dalam perihal tugasnya. Dia berjalan seorang diri menuju ruang klub sulap. Dan saat sampai di sana, hanya ada Haru yang sudah pulih dan duduk di sofa sendirian.


“Ah, Haru,” panggil Touya


“Ternyata kak Touya ya. Ada apa?” tanya Haru


“Um, aku sedang mencari kak Alicia,” ucap Touya


“Kak Reina bilang kalau kak Alicia sedang mengurus suatu hal. Kelihatannya akan pulang telat,” jawab Haru


Touya langsung menggaruk bagian belakang kepalanya karena bingung. Untuk pertama kali dalam seminggu latihannya, dia selalu di bimbing oleh Alicia. Tapi, kini Alicia sedang tidak ada untuk menemaninya.

__ADS_1


“Bagaimana ini?” gumam Touya


“Apanya?” sahut Haru


“Seharusnya aku ada latihan sihir bersama kak Alicia. Tetapi, kalau kak Alicia tidak ada bagaimana bisa aku latihan maksimal?”


Keluhan Touya itu tentu saja membuat Haru merasa tak tega. Tekad Touya terasa jelas dari betapa konsistennya dia latihan dan begitu banyak perkembangan yang bahkan belum di lihat olehnya ataupun Reina.


Haru yang penasaran pun akhirnya memberanikan diri untuk membantunya.


“Hm… kalau kak Touya tak keberatan… mungkin aku bisa membantu….”


Haru berbicara sembari memalingkan pandangannya yang memerah malu. Sedangkan Touya yang mendengar hal tersebut langsung terkejut.


“Eh, benarkah?!” tanya Touya


Haru mengangguk pelan seolah menjawab pertanyaannya yang berusaha memastikan.


“Terima kasih, Haru!” ucap Touya


“Ti-tidak usah di pikirkan… itu hanya hal kecil kok…,” sahut Haru


Sesuai dengan apa yang dia katakan, Haru pergi bersama Touya ke bagian belakang bangunan klub sulap. Mereka berdua berdiri berjarak jauh antar satu sama lain seolah sedang mempersiapkan diri.


Namun, berbeda dengan Haru yang terlihat seperti kebingungan dengan jarak tersebut.


“Jarak segini cukup ya?” tanya Touya


“Kenapa harus memakai jarak?” Haru bertanya balik


“Biasanya, kak Alicia dan aku berada dalam jarak seperti ini sebelum melakukan pelatihan. Dan dia akan menggunakan sihir jarak jauh untuk menyerangku,” jelas Touya


“Ah begitu ternyata ya…,” gumam Haru


“Ada apa?” tanya Touya


“Kalau berlatih denganku, akan sedikit berbeda,” ucap Haru


Berbeda dengan Alicia yang biasanya mempersiapkan diri dalam mengeluarkan sihirnya. Haru mengeluarkan kuda-kuda dengan tangan kosongnya seolah bersiap untuk bertarung jarak dekat.


“Kak Touya, apa kau lupa? Tipe serangan sihirku berbeda dengan kak Alicia. Dalam pertarungan jarak jauh, kak Alicia lah yang menjadi pilar di dalam kelompok kak Reina. Tetapi untuk pertarungan jarak dekat....”


Srak….!!


Kedua kaki kecilnya itu mendorong tubuh Haru begitu kuat. Pergerakan tubuhnya begitu cepat dan bahkan membuat Touya sontak terkejut ketika Haru sudah berada tepat di depan matanya.

__ADS_1


“Aku lah yang menjadi pilarnya!”


__ADS_2