
Touya berada di dalam situasi yang sangat terdesak. Tubuhnya termakan oleh kekuatannya yang tak bisa di kendalikan. Sedangkan masih ada Shalba yang berdiri di hadapannya dengan pertarungan yang belum selesai.
Sisik naganya itu semakin kuat menerkam lengannya. Darah yang menetes tiada henti seperti aliran pipa yang menetes dari rongga sisik gauntlet itu.
“Si-sialan!” gerutu Touya
Saat dia mengangkat wajahnya, dia di hantam oleh tendangan kaki Shalba.
Buaakk…!!
“Uagh!”
Tubuhnya terhempas ke samping dan terbaring tak berdaya. Rasa sakit di wajah dan lengannya itu tiada kata terbagi. Melainkan bertambah parah seiring waktu. Urat dan sirkulasi darahnya menjadi tak stabil. Nadi di aliran tangan hingga ke leher terlihat tegang seperti akan meletus kapan saja.
“Haha! Ada apa? Kemana kesombonganmu sebelumnya?! Aku ingin melihatnya!” bentak Shalba
Tak ada yang bisa Touya lakukan. Bahkan untuk memfokuskan diri demi bangkit berdiri saja tidak bisa. Sampai suatu saat, Vritra berbicara melalui pikirannya.
“Bocah, tenanglah,” ucap Vritra
“Vritra?!” sahut Touya
“Kau akan mati di kuasai oleh Lethal Archaic jika seperti ini terus,” ujar Vritra
“Tetapi, aku tak bisa mengendalikannya!” gerutu Touya sembari menahan sakit
“Sudah kubilang tenang dulu. Lethal Archaic mengikuti kemauan dan tekad dari sang pemilik. Kalau kau percaya dan ingin melakukannya, maka Lethal Archaic akan mengikuti kemauanmu,” jelas Vritra
Mendengar penjelasan dari Vritra membaut Touya berusaha untuk tenang secara perlahan. Dia menarik nafas begitu dalam dan membuangnya perlahan. Demi membuat sirkulasi darah dan detak jantung yang stabil.
“Benar, seperti itu. Kumpulkan semua energi yang tak stabil itu di satu titik sembari di arahkan ke depan,” sambung Vritra
Sesuai perkataannya, Touya mencoba untuk melakukannya. Dia mengalirkan seluruh energi tak stabil itu ke dalam telapak tangan Lethal Archaicnya.
Melihat Touya mengangkat tangannya ke depan itu berada satu arah dengan posisi Shalba berdiri.
“Apa? Masih belum menyerah juga?” gumam Shalba
Ceklek…!!
Shalba mengangkat pistolnya dan di arahkan kepada Touya. Dia mengumpulkan energi sihir yang sama seperti saat pertama kali menyerangnya.
Zruutt…!!
“(Celaka!)” batin Touya
“(Tenanglah, bocah. Ikuti sinyalku!)” sahut Vritra di dalam pikirannya
__ADS_1
Sedangkan Shalba tersenyum lebar melihat Touya yang tak berdaya di hadapannya.
“Kita lihat, apa kali ini kau bisa menetralkan sihir ini?!” ucap Shalba
Dor…!!
Tembakan itu datang ke arah Touya begitu cepat. Dia yang tak bisa melakukan apapun hampir menyerah. Sampai saat Vritra berteriak padanya.
“(Sekarang! Buka telapak tanganmu ke arah sihir itu!)” teriak Vritra
“Ugh! “ erang Touya sembari berusaha mengangkat tangannya
Dan saat telapak tangannya dan tembakan sihir itu berhadapan, secara tidak sadar Touya mengeluarkan sebuah ledakan dahsyat berupa tembakan sihir hitam.
Duaar….!!
“A-apa?!” teriak Shalba yang terkejut
Sebuah tembakan sihir hitam yang bahkan menindas habis tembakan mungil milik Shalba. Tembakan itu sangat dahsyat dan bahkan membuat tanah yang di lintasinya menjadi hancur.
Bersamaan juga dengan Shalba yang sempat menghindar ke samping. Namun, dia masih tertegun diam seolah tak bisa melepaskan diri dari rasa terkejutnya. Energi sihir yang Touya lepaskan itu benar-benar dahsyat, dan bahkan Shalba sendiri sempat merasakan kematian telah menjemputnya dalam sekejap mata.
“A-apa… itu?!” gumam Shalba
Di sisi lain, Touya juga sama bingungnya dengan Shalba. Vritra pun menjelaskannya secara ringkas di dalam kepalanya.
“(Itu adalah energi yang tidak terkendali yang di picu oleh pedang kutukannya. Kau berhasil mengeluarkannya berupa serangan dahsyat. Sayangnya dia tidak terkena oleh serangan itu)” jelas Vritra
“(Ya. Kau hanya membantu memfokuskannya saja, dan aku melakukan eksekusinya. Namun, itu belum semua kekuatan yang di lepaskan)” sambung Vritra
Deg…!!
Gejolak sihir itu terjadi lagi di dalam tubuhnya. Sekali lagi, Lethal Archaic milik Touya masih belum selesai menyiksanya. Kekuatan yang dia keluarkan hanya separuhnya saja, sedangkan sisanya masih mengamuk tak terkendali.
“Ugghh!” erang Touya
Lengannya terasa begitu berat dan kembali terjatuh di atas tanah.
Di sisi lain, Shalba yang melihat kesempatan tersebut tidak menginginkan hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya. Selagi dia tidak lengah, dia berniat untuk membunuh Touya sekarang juga.
“(Brengsek! Ksatria naga kegelapan di dalam tubuhnya itu bukanlah bercanda. Aku harus membunuhnya selagi ada kesempatan!)”
Ceklek..!!
Pistol itu tak lagi di kumpulkan dengan energi sihir. Namun, Shalba hanya menembakkan pelurunya secara beruntun.
Dor…dor…!!
__ADS_1
Situasinya saat itu di mana Touya sedang terpojok. Dia yang mendengar suara tembakan itu hanya bisa menatap dan melihat beruntunnya peluru datang ke arahnya.
Ketika dia beranggapan bahwa tak ada yang bisa dia lakukan, tiba-tiba saja datang seorang perempuan yang menariknya. Touya yang di bawa kesamping membuat peluru mengenai pohon di belakangnya.
“Apa?! Siapa kau?!” bentak Shalba
Di sisi lain, Touya mulai membuka matanya. Pakaiannya yang terasa tertarik itu menuntun matanya untuk menoleh ke arah yang sama. Hal mengejutkannya adalah yang dia lihat itu seorang perempuan dari sekolahnya. Tidak, bahkan itu adalah gurunya sendiri.
“U-Uchida-sensei?!” teriak Touya
“Hai, Asakura. Kelihatannya kau sedang dalam kesulitan ya,” sahut Uchida
“Kenapa sensei ada di sini?!” tanya Touya
“Kurang lebih sama sepertimu. Di mana Reina?” ucap Uchida
“E-eh? Nona ada di gereja belakang. Tu-tunggu dulu, sensei kenal dengan nona?!” heran Touya
Di kala percakapan mereka itu, Shalba merasa terabaikan dan juga amarahnya memuncak akibat Touya tak berhasil di bunuhnya.
“Hei! Wanita tua, aku tak tahu kau siapa. Tapi kalau tidak ingin mati, maka jangan ikut campur!”
Memanggil seorang perempuan dengan panggilan ‘tua’ itu adalah sebuah kesalahan besar. Uchida yang terlihat cukup tenang sebelumnya, kini menarik pandangannya dan menatap Shalba.
Sorot matanya masih terlihat ramah, senyuman tipisnya juga tak menghilang. Namun, aura yang dia keluarkan benar-benar mencekam bagi Shalba.
“Ugh!” keluh Shalba
“Hei, apa kau tidak di ajari sopan santun ya? Walaupun aku belum menikah, tetapi aku masih 25 tahun tahu! Atas dasar apa kau menyebutku tua?!” kesal Uchida
“Tch, pengganggu mati saja sana!” teriak Shalba
Dor…!!
“Uchida-sensei!” teriak Touya yang khawatir
Namun, tubuhnya yang masih terbebani oleh kekuatan Vritra yang tak terkendali tak bisa beranjak membantu Uchida. Itu hanya berlaku jika Uchida hanyalah seorang manusia biasa dan perlu pertolongan.
Dia membuka telapak tangan dan membentuk sebuah lingkaran sihir di depannya. Aura sihir yang meluap-luap di sekitar tubuhnya memberikan hembusan angin kuat.
Wussh….!!
Lingkaran sihir itu di ambil olehnya. Dan dari dalamnya mengeluarkan sebuah pedang bercorak hitam gelap. Uchida mengayunkan pedang itu dan menangkis peluru yang datang dengan membelahnya menjadi dua.
Trang…!!
“A-apa?!” teriak Shalba
__ADS_1
Tak hanya dia, tetapi Touya juga sama terkejutnya ketika melihat Uchida mengeluarkan sebuah pedang dan menahan peluru itu.
“Tolong jangan menganggap remeh hanya karena aku seorang wanita,” ucap Uchida