Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan

Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan
Chapter 22 : Iblis di Gereja


__ADS_3

Tombak yang jumlahnya begitu banyak datang mengarah pada mereka. Haru yang segera berdiri di garis depan, membuka telapak tangannya dan membentuk tombak replika yang melawan balik.


Trang…trang…!!


Selagi sedang menangani hujan tombak itu, Haru berbalik pada Touya yang berada di belakangnya.


“Kak Touya, kristal kak Alice!”


Saat ucapannya itu, Touya teringat akan bola kristal yang Alice berikan padanya. Dia yang mengambil keluar kristal tersebut segera melemparkannya ke tanah.


Kraak…!!


Bola kristal yang telah pecah itu menandakan bahwa sihir yang di miliki Alicia telah aktif untuk melacak lokasi Touya dan Haru.  Sedangkan Felicia yang melihat sisa-sisa energi yang keluar dari pecahan bola kristal itu menyadari akan fungsi sihirnya.


“Sihir pelacak ya!” gerutu Felicia


Dia mendorong balik seluruh tombaknya hingga kedua belah pihak berakhir imbang.


Trang…!!


Satu buah tombak kembali di buat dalam tangan Felicia. Dengan sayap yang dia miliki itu, dia terbang dengan cepat ke arah Haru sembari menghunuskan tombaknya.


Wush…!!


Trang…!!


Cepat bagi refleks Haru untuk menyadari pergerakan Felicia. Dia segera membentuk sebuah sihir yang melapisi kedua tangannya dan menahan serangan tombak.


“Tangan kosong?! Tidak… kau adalah Elf. Kau menggunakan sihir untuk memperkuat fisikmu ya?” ucap Felicia


“Aku tak punya keharusan untuk menjawab pertanyaanmu”


“Bocah jangan sombong!”


Ketika Felicia ingin melancarkan serangan lainnya, Haru dengan mudah menghancurkan tombak tersebut dengan cengkraman tangannya.


Kraak…!!


Tubuhnya yang kecil itu bisa memiliki kecepatan tinggi dan memutar tubuhnya untuk mendendang mundur Felicia.


Buaak..!!


“Ugh!!’


Tendangan keras itu membuatnya terhempas mundur dan bahkan terbentur patung gereja.


Braak…!!


Bongkahan dari bebatuan patung yang hancur itu semakin deras ketika Felicia beranjak untuk bangkit berdiri lagi. Wajahnya terlihat tersenyum lebar namun menunjukan amarah yang sangat terasa kuat.


“Kau...! Kau akan benar-benar membayarnya!”


Melihat Felicia yang berubah penuh amarah itu membuat Haru melirik ke arah Touya yang berdiri di belakangnya.


“Kak Touya, mundurlah!”


Grak…!!


Dorongan kuat dari tubuh mereka berdua saling melesat ke arah satu sama lain. Tombak yang di hunuskan dan pukulan sihir yang tiada henti. Keduanya bertarung seolah sedang berada di dalam dimensinya sendiri.


Sedangkan Touya sendiri merasa kesal karena harus mundur seorang diri. Dia yang sadar akan ketidakmampuannnya dalam pertarungan sihir pun hanya bisa menggertakan gigi sembari melihat petarungan tersebut.


“(Sialan! Haru bertarung seorang diri. Dan disini… aku hanya bisa berdiri dan melihatnya. Menyedihkan sekali!)”


Touya terus berusaha memikirkan sebuah cara yang bisa membantu Haru. Entah apapun itu, dia berlari mencari-cari hal yang bisa membantu Haru. Sampai dia berakhir di sisi belakang gereja dan melihat pertarungan Haru yang masih berlanjut.

__ADS_1


Trang…trang…!!


“Ada apa? Kau tidak bisa mengikuti kemampuanku?!”


“Ugh!”


Haru yang sudah meladeni Felicia begitu lama pun sulit untuk menciptakan peluang agar bisa menyerang balik. Bahkan sejak awal, Haru terlihat kesulitan dalam menghadapi setiap serangan cepat milik Felicia.


Tubuh semakin banyak terkena goresan tombak yang hanya bisa dia hindari dengan timing yang sangat tipis.


Srat…!


“Haha, lemah!”


Duaak…!!


Ayunan tombak Felicia dari samping itu menghantam bagian samping perut Haru secara telak.


“Aghh!!” erang Haru


“Haru!” teriak Touya


Teriakan Touya membuat posisinya jadi terlacak oleh Felicia. Melihat Touya yang tak memiliki pertahanan sama sekali pun membuatnya mengganti target dengan cepat.


“Masih ada satu serangga lagi ya!”


Wush…!!


Kepakan sayapnya begitu kuat dan membuat Felicia melesat ke arah Touya begitu cepat. Tanpa kemampuan sihir, tubuh Touya hanya bisa membeku diam karena tahu tak bisa melawan. Perasaan teror itu menghantui tubuhnya seperti mati rasa.


“(Sial! Di saat seperti ini, tubuhku malah tidak mau bergerak!)”


“Matilah!”


Buaak…!!


“Aaghh!!”


“a-apa yang terjadi?!”


Touya terkejut dengan dirinya yang tiba-tiba terselamatkan secara ajaib. Tetapi, itu tidaklah sebuah kebetulan belaka. Karena, Haru saat itu bangkit berdiri dan terlihat akan sihirnya lah yang menghantam Felicia.


“Haru!” teriak Touya


“Kak Touya, larilah!” sahut Haru


Grak…!!


“Argh!! Bocah kecil penggangu! Sepertinya aku harus menghabisimu lebih dulu!”


“Coba saja kalau bisa!”


Keduanya kembali beradu serangan yang tiada henti seperti sebelumnya. Namun, Haru yang sudah terkena serangan tipis dan juga telak berbagai macam mulai terlihat kelalahan dan kalah unggul.


Touya yang melihat Haru semakin terpojok pun semakin kesal terhadap dirinya sendiri. Matanya menoleh kiri kanan berusaha mencari cara. Dan sampai suatu saat, Touya melihat patung gereja yang begitu besar itu.


Dia mendapatkan sebuah ide yang kemungkinan bisa berhasil. Dia berlari secepat mungkin selagi Felicia sedang sibuk melawan Haru. Touya berdiri di belakang patung tersebut dan mendorongnya sekuat tenaga.


“Ughh!!”


Kalau dia tak bisa membantu Haru dengan kekuatan sihir, kalau begitu Touya akan membantunya dengan kekuatan fisik dan otak. Dengan mendorong patung yang sudah goyah itu sekuat tenaga, Touya sanggup membuatnya untuk lepas terjatuh ke depan.


Grak…!!


“Haru!!”

__ADS_1


Touya berteriak keras memanggil nama Haru seolah sedang memberikan sebuah sinyal padanya. Kedua perhatian mereka yang sedang bertarung pun tersita dan menjadi menoleh ke arah belakang.


Dan di sana, mereka melihat patung gereja yang begitu besar sedang ingin terjatuh ke hadapan mereka.


“Apa?!” gerutu Felicia


Beruntungnya, Haru bereaksi dengan cepat ketika melihat hal tersebut. Dia segera menendang mundur Felicia dan melompat mundur untuk menghindar tertimpa patung tersebut.


Buak…!!


“Ugh! Bocah sialan!!”


Bruaak…!!!


Dentuman keras dari patung yang terjatuh dan menimpa Felicia hidup-hidup. Patung yang begitu besar itu juga tak lepas memberikan dampak dentuman yang kuat hingga meretakan tanah di sekitarnya.


Debu dan asap tebal yang berkibas kuat akan hempasan angin dari jatuhnya patung tersebut. Jarak pandang mereka jadi tertutup dan sulit untuk melihat sekitar dalam jangka waktu sesaat.


Wush…!!


Nafas keduanya terdengar begitu terengah-engah. Terutama Haru yang sudah mengalami luka yang cukup banyak di tubuhnya.


Pandangannya mulai terasa kabur dan tubuhnya menjadi semakin lemas. Touya yang melihat Haru goyah pun segera berlari dan menangkapnya sebelum terjatuh.


“Haru!”


“Sudah… selesai ya….”


“Ya. Kau hebat sekali, Haru!”


“Tidak… Kak Touya lah yang hebat….”


“Aku tak melakukan apapun. Apanya yang-!”


“Kalau kakak tidak cepat mencari rencana dengan menimpa iblis itu dengan patung tadi, maka aku pasti sudah habis terbunuh sejak awal. Karena itu, terima kasih. Kakak tidak boleh meragukan kemampuan kakak sendiri. Kakak hebat dalam bidang kakak sendiri”


Haru tersenyum tipis dengan sisa tenaganya. Dia berada di dalam dekapan Touya selagi tubuhnya berusaha untuk beristirahat.


Sedangkan Touya yang mendengar kata-katanya itu menjadi tertegun diam. Karena, apa yang Haru ucapkan itu terdengar seperti kata-kata Touya yang dia katakan sebelumnya untuk Haru. Dan ironisnya, kata-kata itu kembali di balikan pada Touya yang saat itu sempat meragukan dirinya sendiri.


Dan ketika mereka baru saja menghembuskan nafas lega, patung gereja yang terkapar di tanah itu tiba-tiba saja terbelah-belah. Pancaran cahaya ungu yang bersinar kuat dari setiap sisi yang terbelah dalam patung tersebut.


Zrat…zrat…!!


Duaar…!!


Ledakan dahsyat diikuti setelahnya. Touya dan Haru yang terhempas mundur saking terkejutnya berusaha untuk menahan sekuat tenaga.


“Ughh! Di-dia-!”


Felicia bangkit dengan amarahnya yang memuncak. Aura ungu yang menyelimuti tubuhnya itu terlihat berkobar kuat. Kibasan sayap membuat hembusan angin yang bahkan meruntuhkan sisa bangunan gereja.


Grak grak…!!


Aura energi yang berkumpul di sekitar tubuh Felicia menjadi semakin berkobar kuat. Bahkan ledakan gelombang kedua kembali tercipta akibat amarahnya yang meluap-luap.


“Kalian… berani-beraninya kalian mengotori tubuhku dengan tangan kalian! Akan kubuat kalian membayarnya!”


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2