Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan

Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan
Chapter 24 : Perubahan Iblis Lemah


__ADS_3

Tak ada harapan jika melihat situasi tersebut. Haru yang sudah terluka parah dan di kekang kuat hingga tak bisa bergerak. Hanya bisa melihat Touya tertusuk oleh tombak dan terluka semakin parah dengan darah yang mengalir tiada henti.


“Kak Touya!”


“Ugh!”


Apapun yang Haru lakukan, tak ada dampak yang bisa membuatnya segera lepas dari kekangan itu. Bahkan, Felicia yang menggunakan sihirnya itu untuk mengekangnya tidak lagi peduli. Seolah dia sangat percaya diri kalau Haru tak bisa melarikan diri.


Oleh karena itu, perhatiannya saat ini tergantikan terhadap Touya yang sedang terpojok. Tubuhnya yang tertahan oleh tombak itu pun membuatnya tak bisa bergerak. Touya melakukan segala upaya dengan mendorong keluar tombak tersebut dari bahunya.


“(Sial. Aku… tidak bisa mati di sini! Tidak saat aku sudah berjanji pada nona… kalau aku akan tetap berada di sisinya!)”


Di kala dia sedang mencari cara, Felicia berhenti melangkah mendekatinya. Satu tangannya itu di buka dan membentuk sebuah tombak lain dalam genggamannya.


“Sekarang aku baru ingat. Kau… kau adalah orang yang di sebut oleh Yuria. Anak dari iblis revolusioner, Elric Touya”


Identitas Touya yang sudah di ketahui oleh Felicia pun membuatnya menjadi semakin panik. Karena tentu saja, seorang anak dari iblis revolusioner di anggap sebagai penghalang terbesar bagi para iblis pemberontak.


“(Dia… tahu!)”


“Keberuntungan memang sedang memihakku ya. Kau datang sendiri ke hadapanku dan berusaha untuk menganggu rencana kami. Tetapi, aku harus berterima kasih padamu”


“Dengan kepalamu yang kuserahkan kepada para iblis tertinggi, aku pasti akan di janjikan tahta dan juga kekuasaan besar!”


Felicia menarik mundur tombaknya seolah bersiap untuk memberikan serangan terakhir pada Touya.


Dan di saat itu lah in merenung dengan perasaan takut yang mengalir ke tubuhnya. Kesal dan takut, tercampur aduk di dalam mangkuk perasaannya secara bersamaan. Keraguannya terhadap dirinya sendiri itu pun kembali.


Tak memiliki kekuatan apapun. Hanya omong besar yang dia miliki untuk tetap berada di sisi Reina. Padahal, Touya tidak memiliki kemampuan tersebut agar bisa berada di sisi Reina.


Dia juga menjadi teringat akan kata-kata Helios di saat pesta kastil neraka.


“Iblis rendahan tak tahu diri. Kau tak punya kemampuan untuk berada di dalam kastil dan di sisi Reina”


Keraguannya itu terus menghantui Touya di saat-saat terakhirnya.


Posisi hidupnya yang sudah seharusnya berakhir saat di tusuk oleh Yuri juga membuatnya semakin gentar. Tertipu dengan mudah dan juga tak bisa melawan balik. Selama ini, Touya hanya bersembunyi di balik bayang Reina dengan anggapan kalau dirinya kuat dan cocok untuk berada di sampingnya.


Tapi, kenyataanya tidak seperti itu. Dia lemah. Bahkan tak berguna untuk berada di sisi Reina. Kalau mungkin Reina memikirkannya hanya sebagai ‘mainan’, maka itu tidaklah salah. Lagipula, apa yang berguna dari Touya? Keberadaanya saja sudah menjadi sebuah beban.


Tak hanya bagi Reina, bahkan untuk Haru juga. Semakin meragukan dirinya ketika Touya mengingat kalau dia tidak membantu Haru sama sekali.

__ADS_1


Apa?


Menghantam Felicia dengan patung gereja raksasa? Memangnya itu efektif dan membuatnya mati? Tidak.


Justru sekarang Felicia bangkit dengan kekuatan yang lebih dahsyat dan amarah yang memuncak. Semua hal itu membuat suatu kesimpulan yang mudah bagi Touya sendiri.


Tubuh dan juga tekad yang pasrah telah di tunjukan dari dirinya yang berhenti untuk berjuang melepaskan tombak yang menahan tubuhnya. Tangannya terjatuh di tanah dan tubuhnya melemas seperti orang yang menyerah.


Haru yang melihat Touya tak lagi bergerak pun berteriak keras padanya.


“Kak Touya! Bangunlah, bergeraklah!”


Apapun yang Haru lakukan tak sanggup untuk membuat Touya bergeming. Telinganya sudah tak lagi peduli untuk mendengar apapun. Bahkan detak jantungnya sendiri pun tak bisa di dengar oleh Touya. Dia sudah benar-benar tak peduli lagi dengan hidupnya sendiri.


“(Aku… tidak berguna….)”


Matanya di tutup secara perlahan seakan menunggu nyawanya di akhiri oleh serangan Felicia yang akan datang.  Dan saat Touya sudah ingin menetapkan dirinya, tiba-tiba saja dia melihat wajah kedua orang tuanya.


Bukan Theodore, melainkan ayah dan ibunya yang membesarkan Touya di dunia manusia. Selama bertahun-tahun, Touya di besarkan seperti anak mereka sendiri. Penuh kasih sayang, canda dan tawaan. Harapan yang indah selalu di berikan kepada Touya demi memiliki hidup yang nyaman.


Apa yang akan terjadi jika Touya mengkhianati perasaan ayah dan ibunya? Apa yang akan terjadi jika dia memilih untuk mati dan meninggalkan mereka berdua begitu saja?


Tidak akan mungkin dia akan meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja. Dia tidak  akan membiarkan perjuangan mereka yang telah membesarkannya, mengorbankan begitu banyak hal termasuk waktu dan juga materi.


“(Ayah… ibu. Maafkan aku karena meragukan diriku sendiri. Tetapi, aku tidak akan kalah!)”


Sorot matanya saat itu kembali penuh semangat hidup. Tangannya di angkat dan kembali berusaha untuk menarik keluar tombak itu dari bahunya.


Zrrtt…!!


“Aku… tidak akan… mati di sini!” teriak Touya


Di sisi lain, Felicia yang mengalirkan seluruh sihirnya yang berupa aura kobaran api ungu melapisi tombaknya.


Wush…!!


“Berikan kepalamu, padaku. Elric Touya!” teriak Felicia


“Huoo!!” teriak Touya


Tombak tersebut di lempar dengan kobaran api ungu yang mengelilinginya.

__ADS_1


Touya yang berusaha sekuat tenaga, berhasil mencabut keluar tombak yang menusuk bahunya.


Zraatt…!!


Teriakan dan juga tubuhnya yang telah terbebas mengeluarkan sebuah ledakan energi yang begitu dahsyat.


Duaar….!!


Bahkan tombak yang di lempar oleh Felicia menjadi terlempar dan tubuhnya terdorong mundur.


“Ughh!! A-apa yang-!”


Ledakan yang begitu kuat bahkan membuat hembusan angin dan guncangan dahsyat. Felicia sendiri sampai tak bisa menahan tubuhnya dan terbentur ke dinding. Pakaiannya hancur akan dampak kuat yang terjadi dan meninggalkan tubuhnya tanpa busana.


Lengan kiri Touya yang mencabut tombak sebelumnya, berubah seolah di lapisi oleh benda lain. Sebuah sisik hitam yang keras dan kuat. Membentuk seperti sebuah gauntlet yang melapisi lengannya dari siku hingga telapak tangan.


Aura dan kekuatan yang di munculkannya sangatlah mengerikan. Tekanan kuat yang bahkan sanggup untuk membuat tak hanya Felicia, namun Haru tertegun diam.


Di sisi lain, Touya sendiri juga kebingungan terhadap gauntlet sisik hitam itu yang muncul di sisinya.


“A-apa ini?!” gumam Touya


“Ga-gauntlet itu-! Tidak mungkin. Kenapa kau bisa memilikinya?!” teriak Felicia


“Kak… Touya….” gumam Haru


Touya tertegun keheranan saat melihat Felicia yang begitu takut melihatnya. Karena tak ada yang berbicara, Touya sendiri juga tak tahu maksud kemunculan gauntlet tersebut di tangannya. Tetapi, satu hal yang bisa dia pastikan. Sebuah aliran energi yang begitu deras di dalam tubuhnya itu sangatlah kuat.


“(E-energi ini… Besar sekali! Apa ini semua berasal dari senjata baruku ini?!)”


Di kala Touya sedang kebingungan, Felicia mengambil kesempatan tersebut untuk berbalik dan segera melarikan diri.


Wush…!!


Dengan kepakan sayapnya itu, dia terbang tinggi secepat mungkin dari gereja tersebut.


“(Aku harus melarikan diri! Tidak di sangka kalau aku akan bertemu pengguna Lethal Archaic di sini. Lebih baik mundur dan melapor terlebih dahulu!)”


 


 

__ADS_1


__ADS_2