Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan

Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan
Chapter 34 : Jejak dan Rencana


__ADS_3

Suasana hening dan canggung untuk sesaat. Mereka berdua yang sedang memasuki pembicaraan yang begitu dalam itu, tiba-tiba saja terhenti. Namun, Reina langsung berubah begitu cepat.


Dari yang terlihat lemah dan juga penuh kesedihan, dia memasang wajah yang biasa di gunakan sehari-hari. Seorang gadis penuh wibawa dan juga memiliki aura yang kuat.


“Tidak kok, masuklah Alicia,” sahut Reina


Dia segera berdiri dan meninggalkan Touya seorang diri duduk di sofa.


Tentu saja, Touya di buat kebingungan ketika melihat nonanya yang berubah begitu cepat. Namun, Touya ingin memanggil dan menanyakannya itu langsung terhenti. Seperti ada isi kepalanya yang berkata kalau lebih baik jangan di teruskan.


Pada akhirnya, Touya tetap menutup mulutnya dan tak mengungkit hal tersebut. Sedangkan Alicia berjalan masuk dan menghadap pada Reina yang duduk di balik mejanya.


“Nona, pelindung sihir itu sudah aku identifikasi,” ucap Alicia


“Begitu ya. Apa kau bisa memecahkannya?” tanya Reina


“Bisa. Namun, saat pelindung itu lepas tentu akan membuat mereka menyadarinya,” jelas Alicia


“Kalau begitu, kita harus menyergap mereka selagi mereka tidak menyadarinya ya,” sahut Reina


“Benar,” ucap Alicia


Tak lama dari percakapan itu, tiba-tiba saja Haru datang dari luar ruangan dengan menyambung dalam pembicaraan.


“Kak Reina. Kakak ingin memulai penyergapannya sekarang?” tanya Haru


“Ah, Haru. Kenapa? Apa kau ragu?” sahut Reina


Haru menggelengkan kepalanya seolah menjawab tidak. Reina hanya menghembuskan nafas dari hidung sembari tersenyum tipis. Dan di akhir, dia menarik pandangannya dengan menatap ke arah Touya.


Touya sendiri tertegun diam karena canggung. Sebelumnya, ada sebuah hal yang membuat dia dan Reina merasa sedikit aneh. Namun, Reina berbicara seolah hal itu tak pernah terjadi.


“Touya, apa kau mau mulai bersiap-siap?” tanya Reina


Melihat nonanya yang seperti itu pun membuat Touya berusaha untuk melupakannya juga untuk sesaat. Karena, ada suatu hal yang lebih penting untuk di urusnya dalam situasi tersebut.


Dia beranjak berdiri dari sofa dan tersenyum semangat padanya.


“Tentu saja aku siap!” sahut Touya


Jawaban Touya  telah menentukan keputusan akhir Reina. Dia berdiri dari kursinya dan segera memberikan perintah.


“Baiklah. Persiapkan apa yang kalian butuhkan. Sebentar lagi, kita akan menyergap para iblis pemberontak demi menggagalkan apapun rencana yang ingin mereka lakukan! Jika tidak ada yang bingung, maka cepat bubar!” ucap Reina


“Baik, nona!” sahut Touya, Alicia dan Haru

__ADS_1


 


 


 


 


* * *


Sesuai dengan perintah yang telah di berikan, mereka berempat telah pergi ke lokasi Yuri dan para iblis pemberontak bersembunyi.


Langit malam yang gelap dan bulan purnama yang berada di puncaknya. Touya bersembunyi seorang diri di balik dinding bangunan. Dia memajukan sedikit kepalanya dan melirik ke arah luar secara diam-diam.


Di depannya, Touya melihat adanya Alicia yang sedang berdiri diam di depan sebuah gedung besar. Gedung itu bukanlah sembarangan gedung. Itu adalah tempat di mana orang yang memiliki kepercayaan untuk berdoa. Benar, tempat itu adalah sebuah gereja.


Gereja itu jauh lebih besar dan mewah di bandingkan dua gereja yang di hampiri oleh Touya atau Reina. Namun, waktu yang telah menunjukan tengah malam tentu saja tak ada orang yang berada di dalam gereja.


Suasana jalan yang sepi, sama persisnya dengan keadaan dalam gereja yang terlihat sepi dari luar.


“Tempat persembunyian mereka jadi ada di sini ya,” gumam Touya


Selagi dia bergumam dan melihat gereja itu, Alicia saat itu mengangkat kedua tangannya. Kilatan petir yang keluar dari telapak tangannya mulai menyebar luas ke sekitarnya.


Bzzt…bzztt…!!


Kilatan petir itu menancap ke sebuah dinding tak kasat mata yang merupakan sebuah pelindung sihir. Perlahan-lahan, pelindung itu di hancurkan dengan cepat dan pecah seperti bongkahan kaca.


Prang…prang…!!


“Sekarang!” teriak Alicia


Aba-aba dari Alicia membuat Touya yang bersembunyi di balik dinding pun langsung keluar. Begitu juga dengan Reina dan Haru yang bersembunyi di tempat lain. Mereka masuk ke dalam gereja dengan posisi siaga untuk menyergap dan melawan lawan mereka.


Namun, yang mereka temukan hanyalah interior gereja yang benar-benar sepi. Tidak ada apapun selain kursi kosong dan juga patung pujaan yang di pajang di sana.


Touya menoleh kiri kanannya karena kebingungan.


“Di mana mereka?!” gumam Touya


Plak…plak…!!


Suara tepukan tangan yang mengejutkan mereka semua. Touya menoleh ke arah yang sama dengan semuanya, yaitu tepat di atas patung gereja.


Di sana, terdapat Yuri yang terbang dengan gaya tiduran. Tepukan tangannya dan juga raut wajahnya seperti orang yang sudah menduga kedatangan mereka.

__ADS_1


“Wah wah, ramai sekali ya. Setelah mati di tanganku, kau jadi punya banyak teman ya Touya,” ucap Yuri


“Ooyama Yuri!” gerutu Touya


Hanya ada tatapan amarah yang tersirat di dalam sorot matanya saat itu. Touya menggertakan giginya dan mengepal kuat tangannya ketika melihat wajah sombong Yuri. Dia selalu teringat akan kejadian di mana dia di tipu dan di bunuh olehnya dengan mudah.


“Haha, ada apa dengan tatapanmu itu? Menakutkan tahu! Aku kan tidak suka laki-laki yang kasar. Apa kau ingat? Kau menolongku dari teman-temanku yang membully aku di danau itu? Kau sangat gagah loh, aku sampai jatuh cinta!” goda Yuri


“Tutup mulutmu!” gerutu Touya


“Ah, kasar sekali. Apa kau mau mencicipi bermain kasar?” ucap Yuri


Lagi dan lagi, setiap ucapannya itu seperti memang sengaja ingin memancing amarahnya. Touya yang sudah berada di ujung kesabaran pun ingin melepaskan segalanya. Namun, Reina dari belakang menempuk pundaknya dan berjalan ke depannya.


Pundaknya yang di tepuk itu membuat Touya tertegun diam dan menoleh ke arahnya.


“Nona?” gumam Touya


“Ooyama Yuri ya? Ini pertama kalinya kita bertemu,” ucap Reina


Saat Reina mulai mengambil alih pembicaraan, raut wajah Yuri berubah total. Dia mengernyitkan wajah dan menatap tajam ke arah Reina.


“Kurashima Reina, bukan. Reina Alloces. Putri kedua dari sang raja iblis, Zephkiel Alloces,” gumam Yuri


“Ternyata kau sudah mengenalku ya,” sahut Reina


“Huh, seorang putri raja iblis di neraka. Tidak mungkin tak ada orang yang mengetahui siapa dirimu,” ucap Yuri


“Kalau begitu tidak perlu berbasa-basi, aku akan langsung ke intinya. Alasan kau ingin membunuh Touya dan mencoba untuk mengkontaminasi gereja, apa itu demi membuat kekacauan pada kontrak iblis dan manusia di zaman dahulu?” tanya Reina


Pertanyaan Reina benar-benar terus terang. Yuri bahkan sampai tergelitik tawa karena intuisinya sangatlah tajam.


“Haha! Kau memang hebat ya, tak heran kalau kau putri dari Zephkiel. Benar, menggoyahkan gereja hanya akan membuat kalian para iblis yang membuat kontrak dengan para manusia menjadi meragukan satu sama lain,” ucap Yuri


Niat Yuri dalam menggoyahkan umat gereja dari pastor itu adalah membuat perpecahan di antara manusia dan iblis. Menimbulkan perang dan pertumpahan darah yang begitu dahsyat. Dan di tengah kekacauan, para iblis pemberontak akan mengambil alih kerajaan di neraka dan mulai melakukan legasi yang di tinggalkan oleh Alforius, sang raja iblis terkejam.


“Dengan membuat kalian para manusia dan iblis bertengkar, akan terjadi perpecahan besar antara para malaikat yang ikut turun tangan dengan manusia yang menjadi pengikutnya. Hebat sekali bukan?” ucap Yuri


Mendengar hal itu membuat mereka semua terkejut, terlepas dari Reina yang sudah menduganya.


“Kejam sekali!” lirih Haru


“Kau sudah gila! Demi mengembalikan zaman, kalian tega menumpahkan darah dari kedua belah pihak!” bentak Touya


Yuri saat itu tak menunjukan ekspresi bersalah. Malahan dia tersenyum lebar seperti sedang ******* menatapi Touya.

__ADS_1


“Haha, lautan darah adalah sifat dan tujuan hidup iblis. Kalian yang berusaha hidup damai sama seperti manusia itu hanya membuat nama hebat iblis menjadi tercoreng!” ucap Yuri


“Jangan bercanda. Takkan kubiarkan kau menghancurkan kehidupan damai ini!” bantah Touya


__ADS_2