
Haru yang bergerak begitu cepat sudah muncul tepat di depan mata Touya. Selama satu minggu penuh, Touya berusaha menghindari serangan Alicia yang menyerang dari jarak jauh. Saat dia di hadapi oleh Haru, Touya sangatlah terkejut hingga telat mengambil langkah.
Kepalan tangan yang di lapisi oleh sihirnya itu membuat fisik Haru menjadi lebih kuat. Terlepas dari penampilannya yang terlihat seperti anak kecil, dia mengayunkan tinjunya sekuat tenaga.
Buakk…!!
“Ughh!!”
Touya terpukul keras hingga terhempas ke belakang. Dia berusaha menahan posisinya agar tidak terjatuh selagi terhempas.
“(Cepat dan kuat sekali. Aku lupa akan gaya bertarung Haru yang mengandalkan serangan jarak dekat. Bahkan dengan mengeluarkan Lethal Archaic sendiri saja tak sanggup untuk meredakan pukulannya itu)”
Haru yang berdiri jauh di depannya masih berada dalam posisi tegak dan kuda-kuda pertarungan. Tangannya di majukan ke depan dan di gerakan seolah menantang Touya untuk maju.
“Bukankah kau sudah latihan? Tunjukan padamu hasil latihan selama satu minggu ini.”
“Haha, Haru memang hebat ya!”
Ketika di tantang seperti itu, tentu saja Touya tidak akan mundur begitu saja. Senyuman lebar di wajahnya itu mulai redup seolah berusaha untuk fokus dan serius di satu saat.
Dan tiba-tiba saja, Lethal Archaicnya mengeluarkan suara Vritra yang berbicara seperti sebuah perintah.
“Enhance”
Wussh…!!
Kobaran aura layaknya api hitam itu mengelilingi tubuh Touya. Panasnya api yang membuat sebuah hembusan hawa panas di sekitarnya. Perlahan-lahan, kobaran api hitam itu semakin reda dan hilang sepenuhnya seolah terhisap ke dalam tubuh lagi.
Tarikan nafas yang begitu dalam. Mata yang terpejam seolah berusaha untuk mencari ketenangan dalam dirinya. Haru yang melihat Touya tak menyerang dan hanya berdiam diri di sana tak berani bertindak gegabah. Entah kenapa, instingnya dan sihir yang berada di sekelilingnya menyuruhnya untuk tetap ikut diam.
Sampai saat Touya membuka lebar kedua matanya, Haru merasakan sebuah perubahan yang kuat dari sorot matanya. Tak hanya itu, Touya mendorong tubuhnya sekuat tenaga menggunakan kedua kakinya.
Tanah yang dia pijak bahkan hancur dan membuat dampak dorongan angin yang dahsyat.G
Grakk…!!
Fisiknya seperti meningkat menjadi belasan kali lebih kuat. Dorongan tubuhnya itu sama persis akan pergerakannya ketika melawan Felicia. Haru mengingat jelas betapa cepat dan kuatnya pergerakannya.
Namun kali ini, Touya menggunakannya dalam keadaan sadar. Haru yang menjadi lawan latihannya sampai terkejut ketika dalam hitungan detik, Touya sudah berada tepat di atasnya dengan lengan gauntlet yang di kepal kuat.
“Hyaahh!”
Bruakk…!!
Pukulan kuatnya itu memang sangat tipis, tetapi tetap bisa di hindari Haru dengan melompat mundur ke belakang. Namun, pukulan keras Touya membaut tanah yang di pijak Haru sebelumnya menjadi hancur dengan mudah.
Touya tidak berhenti saat pukulan pertamanya tak mendarat. Selagi Haru masih terkejut dengan serangan kejutannya, Touya kembali mengangkat wajahnya dan memburu Haru seperti mangsa.
Grak…!!
__ADS_1
“(Pergerakannya benar-benar agresif! Dia jauh berbeda dari apa yang kubayangkan. Aku bahkan di buat terpojok dan di paksa untuk bertahan seperti ini. Ini bukan melawan seorang iblis ataupun makhluk biasa. Melainkan melaawn ngaa predator yang haus darah!)”
Haru sendiri sampai kesulitan untuk mengimbangi pergerakan Touya yang berusaha untuk menekannya Setiap tinju dan juga tendangan, berbagai macam serangan Touya lemparkan tiada henti ke arahnya.
Namun, Haru mengetahui satu hal yang membuatnya masih bisa merasa unggul. Hal itu langsung di buktikan di detik itu juga.
Touya yang melihat celah saat itu segera mengepalkan tinjunya dan mengayunkan sekuat tenaga.
“(Dapat!)” batin Touya
“Terlalu naif,” sahut Haru
Duk…!!
Selagi Touya terfokus dengan serangan melalui kedua tinjunya, Haru mengambil kesempatan menggunakan tubuh kecilnya dan menyelengkat kaki Touya.
“Uwa!’
Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan. Touya yang terkejut menjadi panik seketika.
“Sial!”
Buaak…!!
Haru tak menahan serangannya sama sekali. Dia memutar tubuhnya dan menendang Touya yang sedang ingin terjatuh. Membuatnya terhempas ke samping dan terbentur pohon besar.
Tubuhnya yang terlalu membentur keras di pohon tersebut, membuat ranting yang ada di atasnya menjadi patah dan menimpa kepalanya.
“Ackh, sakit. Padahal tinggal sedikit lagi dan aku bisa membalikkan keadaan!” keluh Touya
Di saat itu lah Touya mulai melihat beberapa kelemahannya di pertarungan sebelumnya. Dia terlalu fokus pada satu hal, sehingga tak mengingat akan anggota tubuh lainnya yang masih bisa di andalkan.
Yah, namanya juga latihan. Touya berpikir kalau kesalahannya itu lebih baik di lakukan saat latihan seperti ini, ketimbang di dalam pertarungan nyata. Dan kekalahaannya saat ini lah yang membuat Touya bisa belajar demi menjadi lebih baik lagi.
“(Masih banyak hal yang belum ketahui dan pelajari. Perjalananku masih panjang!)”
DI sisi lain, Haru yang berdiri jauh di depannya pun menatap telapak tangannya sendiri. Pikirannya menuju pada tinju Touya yang terus memburunya tiada henti. Walaupun baru satu minggu, tetapi pengalaman bertarung Touya dan perkembangannya cukup menakutkan.
Kenapa bisa?
Satu minggu adalah waktu yang cukup singkat untuk mempelajari sihir serta teknik bertarung. Bahkan masing-masing dari hal tersebut bisa di latih paling lama karena harus memulai dari dasar.
Namun, tidak untuk Touya. Dia berhasil merangkup kedua hal dasar itu dalam satu minggu itu. Dan hasil yang di bawa dalam latihan pertarungan benar-benar mengejutkan Haru.
Apakah karena dia berlatih bersama Alicia dan menjadi berkembang jauh lebih pesat? Tidak juga. Walaupun mentor yang mengajari seorang pemula itu sangat hebat, tetapi dalam pelatihan sihir itu di perlukan konsentrasi penuh dan ketergantungan pada orang itu sendiri. Pengaruh luar hanya bisa sebatas menuntunnya.
Haru mencuri-curi pandang dengan melirik ke arah Touya. Tingkatnya yang lugu dengan membuang ranting-ranting di atas kepalanya itu terlihat sangat lucu. Terlepas dari apa yang telah Haru dan Touya lakukan, dia tersenyum tipis dengan pipinya yang memerah.
“Kak Touya, benar-benar menarik ya….”
__ADS_1
Di kala Haru sedang bergumam sendirian, tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat familiar di belakangnya. Menyambung dalam gumaman kecilnya itu, Reina berbicara pelan di telinganya.
“Ah, Haru juga tertarik dengan Touya ya?” goda Reina
“Ka-kak Reina?!” Haru terkejut tak terkira ketika mendengar suaranya
Raut wajahnya saat itu sangat imut. Dengan ukuran wajah kecil dan memerah malu ketika di goda sedikit oleh Reina, langsung tertebak jelas akan perasaannya yang tertulis di depan muka.
“Haha! Tidak usah malu-malu seperti itu. Kau sayang pada Touya kan?” ucap Reina
“Si-siapa yang sayang?! Baru saja bertemu beberapa hari. Tidak mungkin aku suka padanya!” sahut Haru dengan membuang wajahnya dan menolak malu-malu
Reina sadar kalau Haru masih belum bisa terbuka pada perasaannya saat itu. Dia hanya tersenyum tipis dan mengeluarkan gelitikan tawa. Tak lama kemudian, pandangannya berganti ke arah Touya yang sedang melepaskan diri dari ranting-ranting pohon.
“Touya,” panggil Reina
“Ah, nona!” sahut Touya
Dia segera keluar dari ranting-ranting itu dan berlari menghampirinya.
“Ada apa, nona?” tanya Touya
“Hanya penasaran melihat butler kesayangkanku,” goda Reina
Dia mendekatinya dan membelai leher hingga dagu Touya. Sedangkan Touya sendiri dapat merasakan jari Reina yang sangatlah lentik dan lembut. Belaiannya itu seperti sedang menggoda hawa nafsunya dengan kuat.
Namun, Reina menarik balik tangannya dan menaruhnya di pinggul.
“Bagaimana perkembangan latihanmu?” tanya Reina
“Berkat Haru, aku jadi belajar banyak. Bahkan tadi aku di hajar habis dengan tendangannya,” jawab Touya dengan tawa malu
“Benarkah? Wah, Haru. Ternyata kau jadi pelatih juga tiada ampun ya,” sambung Reina sembari melirik ke arahnya di belakang
Haru yang di bicarakan di tengah hal tersebut langsung berjalan menghampiri mereka. Namun, wajahnya masih di buang seolah tak berani menatap karena malu.
‘Kak Touya yang lemah, jadi bukan salahku,” gumam Haru
“Haha, iya. Aku masih harus banyak belajar lagi. Karena itu, mohon kerjasamanya Haru!” sahut Touya dengan semangat
“Aku tidak masalah. Panggil saja kalau kak Touya butuh,” jawab Haru
Di suasana percakapan ringan itu, tiba-tiba saja di dalam pikiran Touya terlintas akan suatu hal. Dia menarik pandangannya dan bertanya kepada Reina.
“Ah, nona. Bagaimana dengan kejadian itu?” tanya Touya
Satu pertanyaan itu sudah bisa membuat Reina menebak apa yang sedang di bicarakan olehnya. Touya berniat membahas tentang kejadian gereja yang di kendalikan di bawah Yuri.
Pertarungannya dengan Felicia itu telah membuka mata kalau para iblis pemberontak telah bergerak lebih dulu. Terutama dengan informasi yang di miliki oleh Reina dan Alicia, mereka bisa mengetahui satu lokasi pertemuan pastor sebelumnya dengan Yuri.
__ADS_1
“Untuk sejauh ini, aku masih meminta Alicia untuk mencari informasi tentang persembunyian Ooyama Yuri” sahut Reina