Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan

Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan
Chapter 31 : Encounter


__ADS_3

“Kak Alicia pergi karena nona memintanya untuk memeriksa hal tersebut?” tanya Touya


Reina mengangguk pelan pada pertanyaannya.


“Sejauh ini, Alicia belum bisa mengonfirmasi tentang keberadaan jejak sihir Ooyama Yuri. Hanya saja, dia mengetahui kalau ada pelindung sihir di dekat gereja yang di tunjukan oleh pastor itu,” jelas Reina


“Pelindung sihir?” tanya Touya


“Itu adalah semacam sihir yang di gunakan untuk mengurung atau berlindung oleh seseorang. Jejak sihir, serangan fisik atau sihir, semua bisa di tahan oleh seberapa kuatnya pelindung sihir yang di buat,” jelas Haru


“Kemungkinan besar, kalau tempat itu benar tempat yang di naungi oleh Ooyama Yuri. Tetapi, untuk masuk ke dalam sana harus menunggu kabar dari Alicia. JIka dia bisa memecahkannya lebih cepat, maka kita bisa menyergap mereka di saat mereka sedang lengah,” sambung Reina


“Begitu ya. Kak Alicia masih berusaha ya,” gumam Touya


Di kala sedang hening untuk sesaat, Touya mengingat tentang cerita Reina yang menginterogasi pastor di gereja bersama Alicia.


“Ah, nona. Ada sesuatu yang membuatku bingung,” gumam Touya


“Hm? Kenapa?” tanya Reina


“Nona bilang kalau sebelumnya Yuri menyamar dengan menjadi seorang malaikat untuk meyakinkan pastor itu. Namun, kita para iblis jelas-jelas memilikisayap berwarna hitam. Bukankah para malaikat memiliki sayap putih agung?” tanya Touya


Walaupun dia belum pernah melihat sosok malaikat, tetapi spekulasinya kemungkinan besar. JIka iblis dan malaikat memang sesuai dengan kebalikan di cerita yang tersebar di kalangan manusia, maka mereka seharusnya berpenampilan terbalik. Terutama di bagian sayap yang hitam dan putih seperti malam dan pagi.


“Benar, malaikat memang memiliki sayap putih dan agung. Namun, kita ini adalah iblis. Makhluk yang licik dan juga di katakan sebagai pembawa hal buruk. Bukan hal yang lumrah lagi jika kita bisa seorang manusia biasa hanya dengan kehadiran semata,” jelas Reina


Memang sangat masuk akal penjelasan Reina. Jika seseorang atau sesuatu telah menjalani hidup licik, maka bukanlah hal sulit bagi mereka untuk menipu seseorang yang bodoh atau tak memiliki wawasan sama sekali.


Seperti Yuri yang kemungkinan menipu pastor itu dengan kehadirannya yang bersayap hitam dan memiliki kemampuan sihir kuat. Malaikat di katakan sebagai makhluk yang dekat dengan Tuhan. Tidak heran jika hanya dengan memperlihatkan kehadiran dan sihirnya itu bisa membuat pastor tersebut percaya.


Begitulah pikir Touya saat itu.


“Masuk akal juga. Tch, mereka benar-benar tidak peduli siapa yang mereka korbankan ya. Bahkan seorang pastor juga di gunakan!” gerutu Touya


“Yah, yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah menunggu. Jika Alicia sudah kembali, maka akan langsung ku kabari secepat mungkin. Latihanlah sekuat tenaga, sehingga kau bisa membuat mereka membayarnya,” ucap Reina sembari memegang kedua pipi Touya


“Tentu saja! Aku akan membuat mereka menyesali perbuatan mereka!” sahut Touya penuh semangat


 


 


* * *


Hari berlalu dengan cepat. Pelajaran sekolah yang telah selesai membawa Touya untuk segera pergi keluar dari kelas dan juga sekolahnya. Dia berjalan seorang diri di hari yang langit berubah menjelang malam.


Touya berlajan sembari menunduk diam melihat bayangannya sendiri. Posturnya saat itu terlihat seperti dia sedang memikirkan banyak hal. Dan memang kenyataannya seperti itu.


Touya sedang mengingat tentang kondisinya yang belum lama masih menjadi seorang siswa biasa. Tertusuk oleh Yuri dan hampir mati tenggelam di dalam danau. Ketika dia sempat berpikir itu adalah akhir dari hidupnya, dia di selamatkan oleh Reina dan menjadi butlernya sebagai seorang iblis.


Tak hanya itu, pukulan tentang kenyataan bahwa dia adalah anak adopsi itu juga sangat mengejutkan. Belum lagi keberadaan ayahnya yang ternyata seorang iblis revolusioner yang menggerakan neraka.

__ADS_1


Dia memegang kepalanya dan menggelengkannya seolah berusaha untuk menjernihkan diri.


“Haah… Banyak sekali hal yang terjadi dan merubah hidupku.”


“Ayahku ternyata seorang iblis penggerak neraka. Lucu sekali ya? Padahal aku hanya mengetahui kalau hidupku seperti anak biasa.”


Di kala dia bergumam sendiri tentang ayahnya yang belum pernah dia temui, Touya menyadari akan suatu hal yang sampai saat ini tak terpikirkan olehnya. Kalau dia memang anak dari Theodore Elric yang merupakan seorang iblis, maka siapa ibu kandungnya?


Pertanyaan itu tak lepas dari dalam otaknya. Sampai-sampai langkah kaki Touya terhenti dan matanya membuka lebar penuh kebingungan.


“Ibu kandungku… siapa?”


Ceklek…!!


Sebuah bunyi seperti kokang senjata yang siap menembakkan pelurunya. Touya yang mendengarnya segera berbalik karena terkejut.


Dor…!!


Pelatuk yang di tarik telah menembakkan pelurunya. Touya saat itu melihat peluru datang ke arahnya dan segera menghindar ke samping.


Wush… tak…!!


“Tembakan?”


Ceklek…!!


Suara kokan senjata itu kembali terdengar seolah bergema di lokasi Touya berdiri saat itu. Hingga suara Shalba yang menyambung berbicara setelahnya.


“Jadi kau yang mengalahkan Felicia ya? Pemegang lethal archaic, ksatria naga kegelapan. Asakura Touya.”


“Aduh, maaf sekali. Namaku adalah Shalba Diadora. Aku memiliki sifat pemalu, jadi aku lebih suka jika menyerang secara diam-diam.”


Dor…!!


Suara tembakan itu kembali terdengar. Touya segera membuka telapak tangannya dan mengeluarkan lethal archaicnya.


“Enhance”


Energi sihir yang mengalir di dalam tubuhnya memperkuat fisik Touya seperti saat latihan dengan Haru sebelumnya. Karena tak tahu arah datangnya peluru tersebut, Touya terpaksa untuk bergerak secara acak dan cepat.


Dor…dor…!!


Zrat…!!


Di tengah pergerakannya yang begitu acak, peluru yang di tembakan tiada henti itu menggores wajah Touya.


“(Sial! Aku harus mencari cara dalam menemukan lokasinya. Tapi bagaimana?!)”


Tentu saja Touya bingung. Dia berada di komplek jalanan luas yang bahkan hanya memiliki jalan bercabang. Tak ada tempat yang kemungkinan bisa di jadikan tempat persembunyian orang tersebut.


Namun, sekilas Touya mengingat akan pembicaraannya dengan Reina. Pelindung sihir yang sedang berusaha di pecahkan oleh Alicia memiliki kombinasi sihir yang unik. Sihir pelindung memiliki sifat yang dapat menutup diri dari luar dan sebaliknya.

__ADS_1


Oleh karena itu, Touya menyimpulkan kalau orang tersebut sedang bersembunyi dengan pelindung sihir. Tapi, bagaimana cara menghancurkannya?


Satu pertanyaan yang membuatnya kembali ke jalan buntu. Tiap peluru yang di tembakan tak kunjung berhenti dan terus menggores tubuhnya menambahkan luka baru.


Zrat…!!


“Ugh!” erang Touya


“Empat peluru… peluru kelima akan pasti menembus kepalamu,” ucap Shalba


“Tch! Aku tak punya banyak waktu. Apa ada suatu petunjuk? Apapun?!” gumam Touya


Matanya melirik kiri dan kanan berusaha mencari sesuatu. Sampai suatu saat, Touya melihat sebuah bekas peluru yang telah di tembakkan sedang melayang di udara.


Matanya memicing perlahan dan menyadari bahwa peluru itu bukan melayang. Melainkan seperti menancap sebuah dinding yang tak kasat mata. Retakan kecil di sekitarnya juga menjelaskan pemikirannya.


Jika peluru itu tidak melayang, maka kemungkinan besar dinding tak kasat mata itu adalah sebuah sihir yang di buat.  Demi membuktikannya, Touya  segera berlari ke arah peluru itu tertancap.


“(Kalau memang itu adalah pelindung sihir, maka hanya ada satu-satunya jalan keluar. Aku tidaklah pintar dalam menganalisa sebuah sihir. Tetapi, ada satu hal yang kupunya!)”


Tangannya di kepal erat dan di tarik mundur ke belakang seolah bersiap untuk memukul.


“Enhance”


“Enhance”


“Enhance”


“Enhance”


Suara dari Vritra dari gauntlet itu terus berteriak dan meningkat fisik Touya yang di fokuskan ke lengan kirinya.


“Hyaahh!!”


Bruakk…!!


Kraak…!!


Pukulan pertama mendarat di dinding tak kasat mata itu. Getaran yang membuat ruang di sekitarnya berbunyi dan membuktikan pada Touya kalau pemikirannya benar.


“Ternyata benar, ini adalah sihir pelindung!”


Shalba yang melihat Touya bisa menyadari dirinya terkurung dalam sihir pelindung pun terkejut. Namun, dia sama sekali tak merasa terancam.


“Wah, kau hebat juga bisa menyadarinya. Tetapi, apa yang bisa kau lakukan? Tanpa analisa dan kombinasi sihir yang hebat, kau tidak akan bisa membuka-!”


Kata-katanya terhenti ketika melihat Touya mengepal kuat tangannya lagi. Tinju yang sama kembali di arahkan dan menghantam keras dinding sihir tersebut.


“Huoo!!”


Kraak…!!

__ADS_1


Pelindung sihir itu langsung hancur seketika seperti pecahan kaca. Ruang yang sebelumnya tertutup layaknya menunjukan realita, kini terbuka dan menunjukan sosok Shalba yang ternyata berdiri jauh di sampingnya dengan dua buah senjata apinya.


“Ketemu kau!” ucap Touya


__ADS_2