Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan

Ksatria Naga Iblis Menjadi Pelayan
Chapter 23 : Pertikaian Iblis


__ADS_3

20 menit sebelumnya….


DI sisi lain pembentukan tim, Reina yang pergi bersama Alicia ke lokasi gereja lain pun menemukan sebuah hal yang mengejutkan. Seorang pastor yang membawa senapan api berusaha untuk menembak mati mereka berdua.


Tentu saja, sebatas manusia tidak akan mungkin bisa melukai mereka berdua. Dan dengan mudahnya, Alicia mendorong dan memojokkan pastor itu dengan membuang senapan apinya.


Aura dari sang iblis dengan sayap mereka yang di tunjukan itu membuatnya yang seorang pelayan Tuhan ketakutan tiada henti.


“I-iblis! Iblis!”


“Nona, bagaimana ini?” ucap Alicia


“Seorang pastor membawa senjata api. Apa kau tidak merasa malu sebagai seorang hamba Tuhan?” tanya Reina


“Tutup mulut kalian, dasar iblis! Kalian tidak berhak mengucapkan nama itu!” bantah Pastor itu


Mendengar mulut Pastor yang cukup kasar, padahal dia sendiri membawa senapan api dan ingin menembak mereka berdua. Reina yang sedang duduk santai di kursi gereja, akhirnya beranjak berdiri.


Dia berjalan perlahan dan mengisi kokang senjata api tersebut.


Ceklek…!!


“Tidak pantas? Memang kalau kami adalah iblis. Tetapi, apa kau lupa? Kalau iblis itu bisa berbuat kejam tanpa harus memikirkan dosa yang menimpa mereka?”


Dengan senyuman lebar di wajahnya, Reina menodongkan senjata yang siap untuk di tembakkan pada dahi pastor tersebut.


“Nah, apa yang akan kau pilih? Bicara, atau mati?” Tak mungkin bagi seseorang, bahkan seorang pastor yang seorang hamba Tuhan sekalipun tidak akan gentar dengan sebuah senjata api di depan matanya. Bahkan dia sudah melihat sendiri peluru yang di kokang itu tinggal di lepaskan hanya dengan satu tarikan pelatuk.


Tubuhnya gemetar tiada henti. Tangan dan kaki seolah mati rasa dan matanya melebar kuat seolah ingin meledak. Hembusan nafas terengah-engah yang tak teratur, serta detakan jantung yang terdengar bagai pukulan gendang.


Dan tiba-tiba….


“DOR!!”


“UWA!!!”


Pastor itu memejamkan matanya dan berteriak ketakutan. Reaksinya sendiri sudah sangat memperlihatkan seberapa dia takut dengan Reina yang berpura-pura menirukan suara tembakan pistol.


“Haah… tentu saja kau ketakutan. Aku tidak berminat untuk membunuh siapapun. Asalkan kau berbicara, kau pasti akan kulepaskan. Jadi, bagaimana?”


Satu tawaran terakhir dari Reina karena kasihan melihat pastor tersebut. Dan tanpa memikirkan keputusannya, pastor itu bersujud minta ampun pada Reina.


“A-aku mengerti. Aku akan katakan semuanya. Tapi, tolong lepaskan aku!”


“Dengan nama keluarga Alloces aku berjanji. Sekarang, bicaralah”


“Ba-baik!”


Pastor itu pun mengatakan segala hal yang dia ketahui.


Pada awalnya, Pastor itu hanyalah datang ke gereja dengan niat untuk berdoa. Tetapi, tiba-tiba saja sebuah cahaya ilahi yang begitu terang menyinari satu isi gereja tersebut. Patung gereja yang berdiri gagah di tengah ruangan pun mengeluarkan sosok malaikat yang menawan.


Tubuhnya yang cantik dan anggun, serta sayap putihnya yang terlihat sangat suci dan agung. Tak di salahkan lagi kalau pastor itu melihat sebuah keajaiban dunia dari Tuhan. Malaikat itu datang dengan sebuah perintah yang menyuruh pastor tersebut untuk membunuh dua orang gadis yang akan datang tak lama lagi.


Dengan sebuah senjata api sebelumnya itu, adalah senjata yang di berikan oleh sang malaikat. Sang Pastor yang mempercayai apa kata malaikat tersebut sangatlah yakin bahwa apa yang di perintahkan oleh sang malaikat itu adalah perintah Tuhan.


Oleh karena itu, dia tidak meragukannya sama sekali dan menunggu kedatangan dua orang gadis yang di maksud oleh malaikat tersebut. Dan kedua orang gadis itu adalah Reina dan Alicia.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan dari sang pastor, Reina pun menanyakan suatu hal.


“Lalu, itu semua yang kau tahu?”


“I-iya! A-aku tidak akan berani berbohong padamu!”


Reina menarik pandangannya pada Alicia seolah meminta pendapatnya.


“Kelihatannya dia memang mengatakan hal sejujurnya. Manusia akan sulit berbohong jika di hadapkan dengan kematian di depan mata”


“Yah, kurasa kau ada benarnya juga”


Saat Reina ingin melepaskannya, ada sebuah hal yang terlintas di dalam benaknya. Dan itu membuatnya kembali untuk bertanya.


“Tunggu dulu. Saat kau di berikan perintah itu, apa yang di janjikan oleh malaikat itu?”


“Di-dia menyuruhku untuk bertemu dengannya di lokasi ini. Dia berjanji untuk memberikan ku kekayaan dan kehidupan kekal di dalam surga.”


“Huh… kehidupan di surga ya, ironis sekali. Siapa nama malaikat itu?”


“Forifus… Yuria”


Nama tersebut tentu saja membuat Reina dan Alicia tertegun. Orang yang mereka cari, ternyata benar-benar membuat pergerakan di dalam gereja dan menyamar menjadi seorang malaikat. Karena telah mendapatkan sebuah sasaran yang tepat, Reina tak lagi membuang-buang waktunya.


“Baiklah, aku sudah mendapatkan apa yang kumau. Kau bebas sekarang”


Pastor itu bahkan tak berterima kasih. Dia yang sudah terlalu takut langsung berlari keluar dari dalam gereja.


Sedangkan Reina yang tertinggal bersama Alicia di dalam gereja….


“Di mengerti, nona”


Langkah kaki pertama mereka untuk segera keluar dari gereja tersebut langsung terhenti begitu saja. Terutama untuk Alicia yang membuka lebar kedua matanya.


“Hm, Alicia?”


“No-nona…”


Tak lain lagi. Alicia saat itu terkejut karena merasakan resonansi sihir dari bola kristal milik Jun dan Haru yang telah pecah. Dan hal itu menandankan situasi mereka yang….


“Touya dan Haru… mereka dalam bahaya!”


 


 


***


Sungguh naif rasanya bagi Touya untuk percaya kalau sebuah patung besar bisa mengalahkan seorang iblis. Dan perbedaan kekuatan yang Felicia tunjukan saat itu sangatlah besar di hadapannya.


“(Sial, dia masih bisa bangkit lagi! Ini benar-benar gawat. Aku harus mencari cara lain. Kalau tidak, kita berdua akan mati di sini!)”


Touya terhantam oleh begitu banyak hal yang harus dia lakukan demi bertahan hidup. Namun, instingnya saat itu berkata bahwa dia takkan pernah bisa lari. Mata dan sihir Felicia sudah tertuju kepadanya.


Seolah menaruh sebuah pelacak yang takkan pernah pudar dan bisa membunuhnya hanya dengan sebatas lirikan mata.


Air saliva yang mengumpul di tenggorokannya itu tertelan dengan gugup. Keringat dingin bercuruan deras sembari melirik dan kanannya. Touya tak bisa memikirkan apapun demi menyelamatkan dirinya dan Haru.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Haru yang sudah di titik tenaga terakhirnya berusaha untuk bangkit berdiri lagi.


“Uuhh…!”


“Ha-Haru!”


“Sudah kuduga… kalau dia tidak akan kalah semudah itu”


Tubuhnya yang memaksa untuk tetap berdiri tegar itu terlihat jelas. Darahnya yang menetes dari goresan luka yang dia miliki, serta kedua kaki yang gemetar tak bertenaga.


“Haru, sudah cukup! Jangan memaksakan dirimu!”


Di kala hal tersebut, tiba-tiba saja Felicia menciptakan sebuah tombak ungu di tangan kanannya.


“Simpan ucapan kalian saat sudah mati bersama!”


Grak..!!


Ujung tombak tersebut di tancapkan ke tanah oleh Felicia. Energi berupa cahaya ungu yang menyebar luas dari sisa retakan tanah dalam gereja tersebut membuat Haru panik.


“Kak Touya!”


Duk…!!


Haru mendorong Touya mundur secara paksa. Dan tiba-tiba saja, tanah dan bangunan gereja tergerak menjadi sangat lentur dan berubah-ubah bentuk.


Grak grak…!!


“Haru!”


Satu isi bangunan gereja itu berubah bentuk dalam sekejap mata. Touya yang terkena dampak itu menjadi terbentur ke sana dan ke sini. Kepalanya yang terasa pusing itu mulai meneteskan darah yang bahkan menutupi satu matanya.


“Ugh, sialan. Ha-!”


Satu matanya yang berusaha di buka menatap ke depan. Entah apa pemandangannya yang telah berubah drastis. Gereja itu telah tak berbentuk dan bahkan berubah seperti sebuah bangunan mengerikan.


Dan di antaranya, terdapat Haru yang di gantung tinggi di atas langit dengan seluruh anggota tubuhnya yang di kekang.


Krak…!!


“Aagh!” erang Haru


“HARUU!!”


Haru terjerat dan tak lagi bisa menggerakan tubuhnya. Kaki, tangan, bahkan lehernya terlihat di kekang kuat. Sedangkan Touya yang berdiri untuk menolong Haru, tiba-tiba saja di hentikan oleh lemparan tombak Felicia yang menusuk tepat di bahunya.


Zraat…!!


“Ackkhh!!”


Tubuhnya yang terbawa oleh lemparan tombak itu menjadi terbentur ke dinding di belakangnya. Tombak menembus bahunya dan menancap tepat ke dinding tersebut.


“Sudah kubilang… kalian akan membayarnya!” gerutu Felicia dengan menatap tajam


 


 

__ADS_1


__ADS_2